Call Me Isha

Call Me Isha
63. Hubungan Kita adalah Pelangi yang Tidak Abadi



          Benar yang dikata Kak Raefal, aku terlalu meninggikan ego hingga tidak menyadari hati, terlalu buta dengan dunia yang aku miliki hari ini.


Setibanya di dalam kamar aku bergegas menarik laci keramat yang selalu aku kunci karena, di dalamnya terdapat hadiah perpisahan Kak Raefal yang belum pernah aku buka.


Detik ini aku seolah menjadi sosok remaja yang sudah lama aku tinggalkan hanya karena isi dari kotak digenggaman.


Meski tidak semewah cincin yang Kak Raefal sematkan kepada Glenda, hadiah perpisahan yang serupa itu tidak kalah dalam memberi rasa haru.


Puas mengamati cincin pemberian mantan, aku beralih membaca deret kata yang lelaki itu tulis.


Biar gue menjadi orang pertama yang kasih lo cincin.


Lelehan air mata bercampur dengan tawa kecil aku keluarkan.


Dengan semangat aku berjalan ke arah cermin, memasukkan cincin itu perlahan. Kemudian, menunjukkannya seolah seluruh dunia tahu.


Senyum terpatri sembari memperhatikan penampilan akan tetapi, semua itu tidak bertahan lama karena ekor mata tanpa sengaja menangkap figura diriku dengan Kak Arik.


Seolah ditampar kenyataan, aku kembali memisahkan cincin itu dengan lelehan air mata.


Kembali, aku memperhatikan sosokku yang terlihat menjijikan karena terbuai dengan hal lalu dan melupakan sosok yang selama ini mendampingi.


Masih segar dalam ingatan bila, kepopuleran yang aku cecap juga karena sosok Kak Arik, dia memperkenalkan diriku dengan Pamannya yang notabene seorang penyanyi legendaris dalam negri.


Dari situlah karierku melejit, tanpa kekasih serta salah seorang keluarganya yang cukup berpengaruh, aku tidak akan menggenggam kesuksesan diawal debut.


Aku menghapus setiap air mata. "Flo harus kuat. Engga ada yang namanya galau apalagi patah hati."


🎤


             Meliburkan diri dihari minggu tidak seindah kenyataan karena, kini justru aku harus terjebak di taman bermain untuk menjaga anak Orlin.


Kekesalanku bukan karena tidak ikhlas menjaga Lova akan tetapi karena, sosok yang aku hindari justru harus berbagi kursi denganku.


"Omong-omong, kayaknya Tuhan sayang banget ya sama gue."


Aku diam, memilih menikmati es krim yang lelaki itu belikan beberapa menit lalu.


"Niat hati ajak Zimra main, tapi justru ketemu orang yang gue kangenin."


"Terus aku perduli?" kataku cuek.


Tawa terdengar, mungkin lelaki itu sudah melupakan kejadian semalam hingga terlihat biasa saja di hadapanku.


"Maaf ya, pasti tadi malam lo nangis lagi karena gue."


"Percaya banget."


Aku terkaget kala, jemari Kak Raefal menyentuh bawah kelopak mataku.


"Kayak panda, tapi tetep cantik kok."


Mendengus lalu, mengarahkan tatapan kepada kedua gadis kecil yang  tengah bermain prosotan beberapa meter dari tempatku.


"Fokus aja sama anak kamu, penculikan anak sedang marak."


Hening menyelimuti hingga membuat suasana terasa aneh sekaligus tidak nyaman.


Setelah berfikir semalaman, bersikap ketus kepada mantan bukanlah hal yang tepat karena, akan menimbulkan presepsi salah.


Akhirnya, meski ragu aku memberanikan diri memecah keheningan dan berdamai dengan masa lalu. Anggap saja langkah awal untuk perubahan, tidak mungkin selamanya aku terus terjebak dalam perasaan abu.


"Zimra, dia usianya sama dengan Lova. Kamu nikah muda di luar negeri?"


Meski tidak melihat mimik wajah Kak Raefal, keterdiaman selama beberpa detik cukup membuat aku merasa bersalah.


"Maaf, engga perlu dijawab kalau kamu keberatan," ujarku melirik.


Senyum justru terpatri disana. "Engga kok. Bakal gue jawab sebaik dan sejujurnya."


Mengangguk, memaksa perasaanku untuk tidak berulah karena aku sudah bertekad untuk berdamai.


"Sebenarnya Zimra bukan anak kandung gue."


Keterkejutan tidak bisa aku tutupi, aku sontak menatapnya seolah menuntut jawaban.


"Waktu itu keadaan Balqis kritis, gue kalang kabut, nyetir mobil dari kampus ke rumah sakit yang jaraknya lumayan. Karena panik gue nerobos lampu merah hingga akhirnya nabrak mobil yang dinaiki orang tua Zimra."


"Mereka meninggal di tempat kejadian. Lalu, karena kekuasaan orang tua, gue bebas."


"Ayah Zimra warga asli sana sedangkan Ibunya orang Indonesia. Karena bersalah gue minta adopsi Zimra tapi dengan syarat, gue harus menikahi Glenda, adik dari Ibu Zimra."


Bahuku melorot, tidak tahu harus membalas pernyataan itu. Otak seolah kehabisan kata-kata.


"Balqis, dia sekarang apa kabar?" tanyaku akhirnya setelah lama membatu.


"Dia udah meninggal sekitar tujuh bulan lalu, makannya gue balik lagi ke Indonesia."


Keterkejutan tidak dapat ditutupi, aku menatap Kak Raefal. "Kamu serius?"


Kak Raefal tersenyum. "Iya, mau ke makamnya?"


"Kamu tulis aja alamatnya, aku bisa kesana sendiri."


Dengan lancar, lelaki itu mewujudkan keinginanku.


"Terima kasih," ungkapku.


"Sama-sama Flo."


Sedikit terkejut karena, lelaki itu memanggilku dengan nama baru sekaligus menjadi pertanyaan besar dalam kepala.


Kak Raefal tersenyum. "Semalaman gue merenung, memikirkan ucapan lo yang memang benar."


Tatapannya terjatuh ke arah anak angkatnya yang tengah berlarian bersama Lova.


"Apalagi sekarang ada Zimra, gue engga bisa egois."


Tetap air mata tidak bisa aku bendung, dengan kepala tertunduk berharap mantan tidak melihat.


"Mungkin, sebelum ketemu Zimra gue masih yakin bisa kembali sama lo namun. Berada dititik ini, menyadarkan gue kalau cinta bukanlah segalanya."


"Meski gue akui, setiap ketemu lo. Rasa memiliki itu hadir tapi sekarang engga bakal gue biarkan lagi. Karena, hidup bukan cuma tentang rasa cinta."


"Sekarang jangan merasa terbebani lagi karena kisah kita belum selesai ya?"


Mengambil banyak pasokan udara sebelum membalas.


"Kisah kita memang sudah lama usai."


"Benar, kita hanya terjebak dalam bayang masa lalu."


Mengusap titik air mata yang aku lakukan sebelum berdiri menatap Kak Raefal seraya tersenyum.


"Aku duluan Kak."


"Lov, kita pulang ya? Kakak capek," pintaku yang berhasil menghentikan langkah kedua gadis kecil.


Sepasang sahabat itu kompak menghampiriku dengan wajah panik.


"Kak Flo sakit?" tanya Zimra yang membuat aku gemas karena binar mata yang dipacarkan.


"Lumayan, kita pulang ya Zimra. Besok bisa main lagi."


"Okey! Take care Kak Flo!" ujarnya.


"Thank's."


Menggandeng tangan mungil Lova menuju parkiran, kala melewati tubuh Kak Raefal sekuat tenaga aku meminta mata untuk tidak menoleh.


🎤


          Suara pintu terbuka dan kembali tertutup menarik beberapa detik atensiku. Lalu, kembali pada kegiatan memoles wajah.


"Lo gila!" hardik ibu satu anak itu sembari berjalan menghampiriku.


"Ini memang yang seharusnya terjadi Lin."


Orlin menatapku dengan penuh kekecewaan. "Dihati lo masih ada Kak Raefal, kisah kalian belum sepenuhnya selesai."


Bersikap tenang dalam segala situasi selalu aku alami, seperti saat ini. Dengan santainya aku mengoles pipi menggunakan pewarna.


"Kamu itu cuma penonton, bukan pemeran yang tahu segala sesuatunya."


"Kalaupun lo tau segalanya kenapa lo harus ambil keputusan itu Sha!" geramnya. "Dihati lo cuma ada nama Kak Raefal, dari dulu sampai sekarang. Itu nyata tapi selalu lo sangkal."


"Call me Flo," tekanku dengan nada tak suka. "Ini hidup aku, kamu engga perlu ikut campur."


"Gue engga bakal ikut campur kalau bener."


"Kadang yang menurut kamu baik tidak tentu dinilai sama oleh orang lain."


"Itu juga berlaku buat lo. Lo kira keputusan buat nikah cepat sama Kak Arik bener?"


Aku menatap Orlin melalui pantulan cermin. "Kata siapa, aku engga pernh bilang kalau keputusan itu benar."


Orlin  kian melebarkan matanya. "Lalu kenapa lo ambil keputusan buat nikah bulan depan! Lo sadar itu bukan hal baik tapi masih lo lakukan. Otak lo ditaruh dimana?!"


"Memang bukan yang terbaik tapi, setidaknya disitu ada harapan. "


Wanita cantik itu terdiam yang aku manfaatkan untuk membalikan badan melihatnya secara langsung.


"Aku dan Kak Raefal hanya sepenggal kisah usang, hubungan kita semu serta, harapan yang ada layaknya pelangi yang tidak abadi."


"Jadi aku minta, berhenti mencoba membuat kami kembali. Karena itu percuma."


______


11 Juli 2021.


______