
Hari minggu, waktu istirahatku ini digunakan untuk membantu membereskan rumah ataupun berkebun seperti saat ini, bergelut dengan para tanaman di halaman kecil depan rumah.
"Pagi!"
Masih dalam posisi berjongkok sembari memotong rumput, aku menoleh saat sosok yang menyapa diriku tengah berdiri di samping tubuh.
Sempat kukira bila suara orang yang memanggilku tadi hanya sebuah halusinasi hingga, aku melihat sendiri bagaimana seorang lelaki dengan kaos putih tersenyum lebar ke arahku.
Mengingat posisiku yang tidak enak dipandang aku memilih ikut berdiri dengan mata awas. "Pa-pagi."
"Ka-kamu engga ada niat buat bully aku di rumah 'kan?"
Arga terkekeh sebelum menggelengkan kepala. "Engga, justru aku kesini karena hal yang tidak biasa dibendung."
"Apa?"
Telapak tangan mengusap pipiku. "Rindu."
"Hah?" Mulutku ternganga lebar.
Jemari Arga berpindah untuk mengangkat sedikit daguku hingga membuat bibir terkatup. "Entar serangga masuk."
"O-okey. Jadi alasan kamu kesini karena?"
"Rindu Isha, perasaan abu yang tidak terlihat namun sangat memperngaruhi."
Aku mengambil kembali gunting rumput lalu menodongkan kepada Arga.
"Hey! Santai Sha."
"Kamu beneran engga mau bully aku 'kan?"
Lelaki tampan itu dengan perlahan menurunkan benda tajam yang masih aku todongkan. "Aku masih waras kalau kamu ingin tahu."
"Astaga, kamu merusak suasana hatiku," desah Arga setelahnya.
Aku menyerngit bingung namun kini aku mundur satu langkah. "Ka-kamu engga akan macam-macam bukan?"
"Kamu tidak akan paham, dan maafkan aku jika selama ini aku banyak salah padamu," sesalnya.
"Ka-kamu minta maaf? Sungguh?" tanyaku polos.
"Apa aku terlihat bercanda? Ayolah! Aku sangat menyesal telah memperlakukanmu seperti itu, jadi maafkan aku,"
"Ti-tidak perlu. Pergilah! Bukannya aku sudah memaafkanmu kemarin?"
"Kamu mengusir aku?" Arga menaikan satu alis, membuatnya nampak semakin keren di mataku.
"Ayahku tidak suka melihatku bersama pemuda asing."
"Aku bukan orang asing, bukannya dulu kita suka bermain bersama saat masih kecil. Lupa?"
"Arga ayolah. Pergi saja," pintaku.
"Pagi Isha! Kamu rajin sekali."
Sorang wanita paruh baya menghampiri kami, menyebabkan perhatianku terfokus kepadanya.
"Pagi juga, Tante Nesya."
Tante Nesya menatap anak lelakinya. "Mama cari kamu, ternyata lagi disini. Tumben, biasanya ogah kalau diajak kesini."
"Kangen ngobrol sama Isha."
"Bukan orangnya tuh?" ledek Tante Nesya.
Aku yang mendengar itu menundukkan kepala, merasa malu dengan apa yang Tante Nesya tudingkan.
"Kalau Mama sudah tahu kenapa masih disini?" tanya Arga membuatku memekik tertahan.
"Kau ini Arga! Baiklah Mama ke dalam dulu, takut nganggu." Setelah itu Tante Nesya pergi dengan tawanya.
Arga kembali menatapku yang masih tersipu. "Masih pagi, gimana kalau kita lari pagi? Udah lama engga main bareng. Terakhir kayaknya kelas enam sekolah dasar."
"Sekarang saja dia mengenang masa kecil kami, tapi dulu dia tidak pernah mengingatku sebagai teman bahkan seperti tidak mengenalku," gerutu batinku.
Menerbitkan senyum. "Lain kali ya Ga,"
"Baiklah, tapi besok kita berangkat bareng ya? Sebagai ganti kemarin yang gagal karena Raefal."
Saat Arga mengucap nama Kak Raefal terdengar jelas sekali sarat ketidaksukaan di dalamnya.
"Bukan nolak Ga, tapi aku takut sama fans fanatik sekaligus engga enak pacar kamu."
"Lalu, Yolanda siapa?" tanyaku sepontan, lalu detik berikutnya aku menutup mulut serta menyengir aneh ke arah Arga.
"Kita deket kerena sering ikut lomba bareng, engga lebih."
"Banyak gosip yang membicarakan hubungan kalian," dustaku, tentu aku masih ingat perkataan Acel waktu itu.
"Engga usah cemburu," katanya sembari menahan senyum.
"Hah?"
"Kamu masih mencintaiku?" tanya Arga spontan, tidak menimbang efek yang dihasilkan.
Mata ini tidak berhenti bergerak tanpa arah sembari menjawab. "E-engga. Aku engga pernah suka sama kamu."
"Bohong, kamu memang tidak menyukaiku namun mencintaiku. Iya bukan?"
"Engga! Kamu itu hanya pengganggu di hidupku, dan kenapa aku harus jatuh cinta padamu?" elakku sembari membuang muka karena malu.
Aku melirik Arga yang nampak menahan tawa. "Benarkah? Lalu tulisan yang ada di buku tugas bahasa indonesia itu, siapa yang nulis?"
Wajahku merah padam mengingat kejadian memalukan itu, sekarang aku menyesal pernah menulis sembarangan.
"Gini aja." Arga berdehem sembari mengisyaratkan akan menjelaskan sesuatu. "Kita ini saling suka. Lalu, kenapa engga jadian?"
Aku hampir tersedak air liurku sendiri mendengar usulan tergila tahun ini yang dicetuskan Arga, aku juga sudah menatap Arga bingung.
"Maksudnya?!"
Arga menatap wajahku lama serta dalam, kegiatan ini sukses membuat tubuh panas dingin menahan sesuatu yang ingin meledak dalam dada.
"Lupakan!"
Untuk kali ini aku benar-benar dibuat cengo setengah mati oleh lelaki menyebalkan yang sayangnya tampan itu, padahal aku sudah baper tadi.
"Arga!"
Suara Tante Nesya membuat perhatian kami teralihkan. "Mama pulang, kamu mau pulang sekarang atau nanti?!"
Arga mengacak rambutku. "Aku pulang, jangan lupa buat besok. Aku akan menjemputmu pagi-pagi!"
Arga berlalu meninggalkanku yang masih terpaku mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
🍁
Aku berjalan santai seraya bersenandung kecil di lorong Sekolah, mengingat sekolah membuat ingatan terlempar pada saat janji Arga kemarin yang tidak dipenuhi.
"Pagi Isha!" panggil Kak Raefal, lalu berjalan berdampingan denganku.
"Juga Kak!"
"Lo ada acara nanti?"
"Engga, emang kenapa?"
"Cuma mau ngajak lihat pertandingan Sepak bola.'
Melihat wajah berbinar Kak Raefal, aku jadi tidak enak menolak."Kapan?"
"Nanti sore? Mau ikut?"
"Iya, tapi kenapa Kakak ajakin aku? Biasanya juga ramai sama temen genk Kakak."
"Jadi, mau atau engga?" Kak Raefal melirikku tajam.
"Bu-bukan gitu Kak, tapi aneh aja."
"Ya udahlah kalau lo engga mau,"
Kak Raefal sepertinya kesal. Lihat aja, dia sekarang pergi begitu saja meninggalkanku.
"Kak sorry! Aku cuma bercanda," kalimatku yang berhasil membuat langkah lelaki itu terhenti.
"Orang lagi senang juga,"
"Seneng kenapa?" tanyaku.
"Kepo!" balas Kak Raefal lalu pergi meninggalkanku sendiri.
"Kak Raefal! Tunggu!" Aku segera mengejar langkah Kak Raefal.