Call Me Isha

Call Me Isha
40. Tanpa Kabar



‍Disaat termenung, dapat aku rasakan sebuah lengan seseorang yang menggantung di bahuku,  membuat kepala ini sontak mendongak ke atas guna melihat pelaku.


"Katin yuk! Gue lapar belum sarapan!" ajak Kak Raefal dengan semangat yang tak aku balas.


"Hei, kenapa?" tanyanya lagi,  melepas rangkulan itu lalu menatapku lekat.


Aku balik menatap kedua manik yang sedang menatapku, membuat mata kami bertautan. Entah kenapa emosi tidak bisa dibendung hingga membuat cairan bening itu lolos dengan mudahnya.


"Why?" tanyanya yang hanya aku balas gelengan.


"Gue penasaran deh, mereka sebenarnya pacaran engga?"


"Swett banget."


"OMG! Mantan gebetan gue udah punya gandengan!"


"Duh! Kayak di novel-novel aja. Pepet terus sampai mentok koridor sepi."


"Mereka engga punya malu apa, ini koridor! Dih!"


"Haduh, mantan ketua basket! Kenapa harus pacaran sama nerd sekolah!"


Bisikan pedas yang dapat tertangkap oleh indera pendengaran tidak bisa membuatku menghentikan tangisan ataupun mengambil pusing tanggapan mereka.


"Udah," bujuk Kak Raefal diiringi ******* panjangnya. "Ayo ikut gue!"


Aku mengunci mulut, membiarkan langkahku dibawa Kak Raefal hingga tiba di koridor sepi.


"Udah, kenapa nangis?"


Aku menunduk seraya terisak. "Engga  Kak."


Dia membuang nafas panjang. "Kalau engga apa, lo engga bakal nangis kayak gini, kenapa hem?" tanyanya sekali lagi yang malah membuatku semakin terisak.


"Cengeng!" semprot lelaki itu lalu memeluk tubuhku erat sembari mengusap lembut punggung.


"Engga usah nangis, hidung pesek Lo jadi kayak tomat busuk."


"Gimana engga sedih, bayangin aja. Kakak nungguin orang semalaman, dan ketika ketemu disapa malah dia pergi gitu aja, pasti Kakak sakitkan?" Akhirnya aku mencurahkan keluh-kesahku pada lelaki tinggi yang aku peluk.


"Sakit, tapi tunggu!" Lelaki itu mendorong pelan pundakku hingga manik kami bertemu. "Lo nunggu siapa? Arga?"


Meski enggan aku tetap mengangguk untuk menyetujui persepsinya.


"****! Lo pacaran sama dia?" Dengan muka marahnya,  Raefal meninju dinding belakang tubuhku.


Aku melotot kaget. "Me-memang salah kalau kita pacaran?"


"Lo bodoh atau apa?! Udah jelas dia sering bully lo, mungkin maafin orang baik Sha tapi, bukan dijadikan pasangan."


"Itu 'kan masa lalu Kak, sudahlah lagian dia juga sudah berubah." Yakinku. "Bukannya dulu Kakak juga ingin dia berperilaku baik denganku tapi sekarang?"


"Lo itu engga tahu kayak apa Arga!" bentaknya membuatku kaget.


"Maksud Kakak?"


Dia menatapku lama sebelum membalikan badan. "Lupakan!"


"Udah berapa lama pacaran sama dia?" tanyanya tanpa mau memandangku.


"Baru beberapa hari," cicitku, takut membuat Kak Raefal marah.


Dia mengambil nafas, membuangnya kembali lalu menatapku.  "Lo engga mikir kalau dia cuma main-main sama lo?"


"Gue bilang kayak gini demi kebaikan lo, gue engga mau ambil resiko kalau terjadi sesuatu sama lo."


           Aku mengemasi alat tulisku yang berserakan dimeja lalu, memasukannya ke dalam tas guna bersiap pulang ke rumah.


Seharian ini aku tidak bertatap muka dengan Arga, dia tidak ada di kelas. Entahlah aku juga tidak tahu keberadaannya, belum lagi setiap detik aku terus memikirkan ucapan Kak Raefal, aku takut semua ketakutan ini benar adanya.


Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas. Kosong, hanya ada peralatan yang melengkapi kelas ini. Manusia? Mereka sudah pulang dari satu jam yang lalu. Aku memang sengaja pulang terlambat karena ingin menyendiri, dan mungkin juga menanti Arga yang bisa saja kembali ke kelas ini, namun sepertinya harapan tinggal harapan.


Saat aku menuruni tangga, samar dapat aku dengar suara  bola yang bertabarakan dengan permukaan lantai, aku menengok ke ke kanan dan ke kiri namun nihil. Tidak ada orang, sekolah benar-benar sepi sekarang.


"Akh! Sial!"


Teriakan seseorang itu membuatku mengerutkan kening lalu berjalan ke arah lapangan basket guna mencari tahu.


Mataku menangkap punggung seorang lelaki yang sedang mendribbling bola dengan lincah, sepertinya dia sangat berkonsentrasi, buktinya tidak sadar bila aku sedang berdiri memperhatikannya.


Selang beberapa menit dia terdiam, menghentikan aksinya lalu berbalik mengadap ke arahku dengan tatapan kaget yang aku balas senyum.


"Lo?" tanyanya bingung lalu berjalan mendekat.


"Apa akan ada turnament sampai Kakak sibuk berlatih sampai sesore ini?" tanyaku memperhatikan dia yang berdiri di depanku dengan keringat yang berjatuhan


"Engga. Cuma iseng, lo sendiri kenapa belum pulang? Bukannya jadwal ekstra lo selasa sama rabu?"


Aku memutar otak mencari alasan yang logis untuk mengelabuinya. "Aku baru saja menyelesaikan soal matematika."


"Bukannya enak ngerjain di rumah."


Aku tersenyum. "Kakak juga, kenapa engga berlatih dirumah saja, bukannya Kakak ada lapangan basket di rumah?"


"Hei! Terserah gue."


"Begitupun aku,"  Kataku dengan senyum kemenangan.


Aku berbalik badan hendak pulang namun, suara itu membuat langkah ini berhenti.


"Mau kemana?"


Aku berbalik, kembali menatapnya. "Pulang, gerbang ditutup sebentar lagi."


Dia menatap langit yang berwarna abu itu.  "Pulang bareng gue! Bentar lagi hujan!"


Belum sempat menolak, tanganku sudah terlebih dahulu ditariknya menuju parkiran.


"Kenapa kita berhenti disini?" tanyaku saat, motor yang kami naiki berhenti di depan tempat makan yang lapaknya terbuat dari benda semacam tenda.


"Gue laper, kita makan dulu."


"Aku pulang saja ya Kak, bentar lagi aku sampai." Aku menunjuk gang rumahku yang terlihat dari tempatku berdiri.


Dia menatapku datar. "Kenapa? Engga mau nemenin gue makan? Tenang gue bayarin kok."


Aku menggeleng. "Engga usah, buat Kakak saja, aku pulang aja," Pamitku hendak berjalan meninggalkan lapak itu namun lagi, harus terhenti saat sebuah mobil yang sangat aku kenal berhenti tepat di hadapan, menyebabkan diri ini kaget karena hampir tertabrak.


"Astaga!"


"Isha mafiin aku," Ucap orang itu dengan nada parau setelah keluar dari mobil.


"Iya aku maafkan."


Dia menggeleng lalu mendekat ke arahku. "Maaf banget, aku baru sempet nemuin kamu, solanya aku ada acara sama Pak Reza buat menghadiri event di Balai Kota jadi baru bisa nemuin kamu," jelasnya. "Kamu nungguin aku dari kemarin?" tanyanya dengan nada bersalah.


"Iya, tapi sudahlah, lagipula kamu juga sudah minta maaf."


Dia tersenyum. "Aku senang memiliki kamu yang bisa mengerti aku."