Call Me Isha

Call Me Isha
52. Call Me Isha



Aku terjatuh saat hendak keluar kelas lalu, detik berikutnya bisaku dengar gemuruh tawa seluruh orang yang melihat.


"Lo mau tiduran di lantai sampai kapan? Bangun!" bentak Orlin membuatku seketika berdiri gemeteran.


"Lo bawa tas kita sampai ke parkiran!" titahnya bak Nyonya besar yang membuatku muak.


Otakku bekerja, mungkin ini saat yang tepat untuk mengambil kembali peran utama dalam kehidupanku, lelah dirasa ketika terus ditindas.


"Maaf, hari ini aku ada latihan. Kamu bisa bawa sendirikan? Lagi pula aku bisa melihat tangan serta kaki kalian yang tidak terkendala apapun."


Seluruh orang yang dapat mendengar ungkapan tadi mematung, menatapku seolah aku ini sosok asing yang perlu diteliti.


Orlin berkacak pinggang. "Coba ulangi kalimat lo!"


"Kalian bawa tas kalian sendiri, maaf aku harus pulang sekarang, aku engga punya banyak waktu untuk melayani kalian," tolakku sesopan mungkin yang mampu membuat ketiga gadis di depanku mendelik tak suka.


"Oho! Jadi, sekarang lo berani sama kita? Udah berani lo!" Orlin geram lalu mendorong pundakku, mengakibatkan bokong ini terasa perih.


Orlin menarik daguku, membuat kepala ini mengadah ke arahnya. "Ini posisisinya lo!"


"Berani banget lo melawan kita. Memang lo siapa?!"


Ketiga tas gadis itu dilempar hingga mengenai wajahku. "Bawa dan jangan  banyak membantah Cupu!"


Aku berdiri. "Atas hal apa yang membuat kamu bisa menentukan posisiku."


"Sejelek apapun, aku tetep manusia yang memiliki hak menyuarakan pendapat serta kebebasan."


"Jadi lo nantang kita? Okey! Kita akan lihat seperti apa perjuangan lo bebas," ujar Acel dengan senyum miring.


"Dia merasa besar hanya karena suara yang dia miliki. Cih!" desis Anoora yang baru saja tiba.


"Aku engga ada waktu buat melayani kalian," pamitku namun, lengan ini kembali dicekal.


"Ikut gue lo!"


Orlin menyeret paksa namun, di tengah perjalanan aku memutus cengkraman itu hingga membuat ratu bully itu menatapku tajam.


"Lo kira dengan berperilaku seperti ini akan membuat kita takut?" Samar, suara tawa Orlin keluar. "Justru gue semakin tertantang buat sakiti lo Isha."


Ragaku bergetar hebat saat perlahan Orlin melangkah mendekat ke arahku lalu mendorong diri ini hingga tersungkur.


"Lemah!"


Aku menutup mata, mencoba menghilangkankan rasa takut yang mulai menyelimuti hati.


"Sakit!"


Aku berteriak kalau sepatu fantofel yang memiliki hak itu menekan telapak tangan, menyebabkan rasa nyeri terpatri.


"Sakit?" Senyum Orlin mengembang. "Sekarang dimana keberanian lo tadi? Lari tunggang langgang?"


Orlin berjongkok lalu mencengkeram dagu ini dan mengangkat ke atas.


"Takdir lo itu cuma jadi mainan gue! Ngerti?!" kecam Orlin lalu melempar daguku dengan keras.


"Aku ada salah sama kamu? Kenapa harus aku yang kamu bully?!" teriakku di akhir kalimat.


"Karena lo orang yang disukai Kak Raefal, dan gue benci kenyataan itu!" Untuk kesekian kali, kaki Orlin menendang perutku hingga dia puas.


Meski rasa sakit tiba bisa aku elak, aku tetap berusaha membuka suara. "Aku engga ada hubungan dengan Kak Raefal. Kamu bisa mendekati dia sesuka kamu. Tapi aku mohon jangan siksa aku lagi."


"Engga akan! Gue belum puas kalau lo belum mati!" tekan Orlin.


"Apa dengan menyakiti aku akan membuat Kak Raefal bisa kamu miliki?" tanyaku. "Engga bukan. Justru kamu akan semakin jauh."


Terlihat wajah Orlin yang mulai sayu namun tak berapa lama dia memandangku nyalang kembali.


"Lo engga usah sok tahu! Gue benci lo! Benar-benar benci!"


Orlin berdiri lalu berteriak layaknya orang yang memiliki ganguan jiwa.


"Gue benci lo!"


Orlin menarik rambutku ke atas, menyebabkan tubuhku terangkat sedikit.


"Lepas!"


Jeritan keras menyebabkan beberapa siswa menatap ke arahku dengan penuh iba namun, tak berani berbuat lebih, karena lawan mereka adalah orang yang tak akan segan melakukan apapun.


Jambakan Orlin sangat menyakitkan, rasanya berpuluh-puluh helai rambut ikut tercabut dari kulit kepala.


Orlin menyeret tubuh membuatku memekik lebih keras, sungguh sangat menyakitkan.


Duk!


Orlin melempar tubuhku di sudut toilet perempuan membuat bokong ini lagi-lagi merasa nyeri.


Orlin melepaskan jambakan di rambutku, menjadikan hal ini sebagai kesempatan untuk kabur namun belum sempat aku melangkah, ratu Bully itu menahanku kembali.


"Mau kemana?!"


"Acel! Anoora! Jaga situasi toilet, jangan biarin siapapun masuk!" titah Orlin pada kedua gadis yang berdiri di belakangnya, membuat mereka mengangguk lalu pergi guna menjaga toilet yang akan menjadi saksi bisu pembullyan yang dilakukan Orlin.


"Lepaskan. Aku mohon!"


"Engga akan. Ini sebagai hukuman karena telah berani sama gue!"


Berkat cairan pembersih toilet yang ada di sudut ruangan, kepala hingga bagian bawahku menjadi basah karena Orlin siram.


"Lo udah berlumuran sabun, bagaimana  kalau kepala lo digunakan untuk membersihkan kloset?"


"Lepaskan aku!" teriakku. "Tolong!"


"Diam anjing!" bentak Orlin lalu merelaksasikan keinginannya.


Aku menutup mata saat kepalaku dimasukkan dengan paksa ke dalam kloset jongkok, kamar mandi yang digunakan kebetulan adalah tempat paling belakang sekolah.


"Wajah lo yang jelek memang sangat pantas untuk dijadikan pembersih toilet."


"Rasakan cupu! Lo engga pantas buat siapapun meski Kak Raefal milih lo."


Puas mencelupkan wajahku, Orlin  membanting tubuhku hingga lemas tak berdaya.


"Orlin, Please jangan sisa aku."


"Gue bakal berhenti kalau lo pergi dari dunia ini."


Aku menatapnya tajam dengan sisa tenaga. "Memang salahku kalau kami dekat? Aku engga salah! Kenapa kamu selalau menjadikan aku bahan pelampiasan Orlin!"


Kali ini Orlin memukuli tubuhku menggunakan kakinya yang panjang sembari berteriak membarengi raunganku.


"Diam!"


"Diam!"


"Diam!"


Baik aku maupun Orlin sama-sama terengah dengan nafas memburu setelah kejadian barusan.


"Lo diam? Ayo lawan gue!"


Seyum meremehkan Orlin membuat kekesalanku memuncak lalu tanpa aba menjambak rambutnya hingga membuat si empu menjerit dan menyebabkan Acel serta Anoora yang berada di luar toilet mencoba melerai tarikanku dari rambut Orlin.


"Lepas bangsat!"


"Lepas!" Teriak Orlin namun, semakin mengencang pula jambakanku di rambutnya.


"Lepas Cupu!"


Aku melepas jambakan di rambut Orlin lalu mendorong pundaknya kuat hingga membuatnya tersungkur lalu dengan sigap aku mencoba keluar dari bilik itu namun dihalangi oleh Acel.


"Mau kemana lo hah?!" teriaknya mencoba menyeret tubuhku namun, segeraku dorong kuat tubuhnya lalu keluar dari toliet.