Call Me Isha

Call Me Isha
39. yang Lemah akan Kalah



‍"Yolan!"


Entah sudah berapa kali aku mencoba memanggil, namun gadis itu tetap menjauh hingga akhirnya aku mendapatkan tangannya.


"Yolan dengerin, maaf kalau aku buat kamu terluka tapi kamu tahu 'kan ini yang harus kita lewati sebelum kita bersama." Dengan nafas terengah aku mencoba menjelaskan.


"Tapi Arga, bukan gini caranya. Coba kamu bayangkan kalau orang yang semula kamu anggap sebagai hak milik ternyata memiliki orang lain dihati bahkan gilanya, dia cuma mempermainkan perasaan kamu."


Tatapan nanar Yolan terasa menusuk. "Sakit Arga."


"Yolan, aku tahu maksud kamu tapi aku engga bisa berhenti."


"Kalau kamu engga mau menyudahi permainan ini, lebih baik aku pergi dari hidup kamu!" putusnya membuatku kaget.


"Semua yang sekarang aku lakukan itu demi kamu. Kita, apapun akan aku lakukan demi hubungan ini meski harus mengorbankan orang lain. Aku engga perduli."


Aku membawa telapak tangannya hingga berada di depan bibir lalu menciumnya lembut. "Love you."


Tangisan Yolan terdengar cukup memilukan. "Aku tahu ini salah, tapi aku juga sangat mencintaimu Ga. Kamu egois, kamu engga berperikemanusiaan tapi aku sangat mencintaimu."


Dia mengusap air matanya. "I hate you but i love you," lanjutnya sedikit bergetar lalu memeluk raga ini erat, menyalurkan rasa sakit hati yang selama ini dipendam.


Flashback on.


Aku dan Orlin melempar candaan sembari memasuki halaman rumah guna menemui Mama, sekaligus memperlihatkan piala yang baru saja aku menangkan.


"Lo hebat, Tante Nesya pasti bangga," puji Orlin.


Adik sepupuku itu menatap piala di tangan ini dengan mata berbinar. Sangat paham karena Orlin memang sangat menginginkan posisiku saat ini.


"Kamu tahu, aku ingin menjodohkan anak-anak kita dimasa depan, dan aku beruntung sekali jika mendapatkan menantu seprti Isha, sudah cantik, baik dan dia juga sudah mengenal Arga lama, aku sudah tidak sabar menantikan mereka lulus sekolah."


Sebuah suara berhasil mengalihkan atensi kami lalu, dengan wajah bingung kita berpandangan.


"Pasti Argaku sangat bahagia jika mendapatkan istri sebaik Isha," kata Ibu kandungku lagi.


"Apa pendengaran gue bermasalah? Gue baru dengar rencana Tante buat jodohin lo sama Cupu?" tanya Orlin yang masih sama bingungnya denganku saat ini.


"Engga!" Elakku cepat lalu segera pergi dari sana.


"Arga! Hei lo kenapa?" tanya Orlin pura-pura bego.


"Lo engga tulikan?"


"Yah gue denger, terus?" Dia menaikan satu alisnya.


"Ya jelas gue engga mau dan engga setuju? Karena gue masih punya Yolan yang sangat pantas dijadikan sebagai pasangan hidup gue daripada si Cupu itu! Dih jangan sampai."


Membayangkan saja sudah membuat tubuh memekik malas.


"Tapi ini keinginan nyokap lo sendiri, lo engga mau 'kan bikin tante Nesya sedih gara-gara keinginannya engga terkabul?"


"Ouh ya?" Dia menatapku tidak yakin. "Setahu gue, Cupu itu suka sama lo. Kalau dia mau nunggu lo sabar karena cinta. Yakin deh lo bakal luluh,"


"Engga akan!"


"Banyak kasus yang kayak lo Ga, pertama nolaklah, jijik, ini itu. Tapi setelah hidup bersama, nyaman deh," tawa Orlin sembari bersedekap dada.


Mendengar itu otakku seketika menayangkan hal yang biasa terjadi dalam telenovela.


"Impossible!"


Suara jentikkan terdengar. "Gimana kalau lo mainin perasaan Cupu dari sekarang, gue yakin dia bakal nolak lo karena sakit hati!"


"Maksud lo?" Aku sedikit terjadi dengan rencana itu.


"Lo deketin dia, yakinin kalau lo udah berubah. Terus, lo bikin baper tuh si Cupu, kalau udah, lo tembak dia, manjain dia, pokoknya dia harus ngerasa seneng dan bahagia sama lo. Kalau perlu sita waktu kebersamaan dia sama Kak Raefal, kalau udah, perlahan-lahan jatuhin dia, dan disaat yang tepat lo bongkar deh Semuanya. Kalau lo udah punya Yolan, yang Pasti dia bakalan kaget terus kalau Nyokap lo minta dia nikah sama lo, gue jamin dia pasti engga bakal mau karena sakit hati, Gimana?"


"Lo jenuis, tapi buat apa gue libatin Raefal dalam rencana ini?" tanyaku. "Ini pasti karena akal bulus lo 'kan?"


Orlin memutar bola matanya jengah. "Berenang sambil minum air, gue juga mau Kak Raefal kali."


Aku tertawa. "Raefal, Raefal dan Raefal, apa si hebatnya dia sampai adik gue ini tergila-gila sama tuh orang."


"Dia itu lelaki yang paling perfect!"


"Tapi goblok."


"Yang penting dia bertanggung jawab dan engga egois," ucapnya yang terang-terangan menyindir.


"Daripada lo, licik!"


"Bukan licik tapi cerdik, hidup ini layaknya medan perang Ga, yang lemah pasti kalah."


"Terserah! Omong-omong, gue harus bicarain ini sama Yolan?"


Dia berdecak. "Mau pacar lo salah paham? Ya bilang lah goblok."


"Tapi kalau dia engga ngasih izin?"


"Bilang ini demi kalian, pasti dia ngerti."


"Tapi Yollan itu engga  kayak yang lo pikir Lin, dia beda, dia spesial."


"Lo kira martabak kali spesial."


Flashback end.


Dan begitulah, awal mula drama ini dimulai. Yang mampu aku ucap dalam diam pada Isha adalah maaf dan juga terima kasih. Meskipun egois, keras kepala dan tidak berikemanusiaan seperti yang Yollan ucap tadi, tapi aku juga manusia yang masih memiliki hati.