
Di sini lah arin sekarang, berdiri di depan chan yang terlihat sangat fokus belajar mengerjakan soal seorang diri. Benar-benar definisi belajar mandiri yang sesungguhnya.
Sebelumnya arin sengaja keluar lewat pintu dari sisi belakang kelas, agar ia tak bertemu dengan chan karena untuk menuju pintu depan tentunya akan sangat canggung melewati chan tanpa berkata apa-apa.
Arin yang segera bergegas lagi keluar kelas itu, tiba-tiba merasa ada yang mengganjal hatinya benar-benar tidak nyaman. Setelah mendapat nilai yang bagus berkat chan, bukannya ia harus berterimakasih terlebih dahulu. Bukan malah menghindar seperti yang dilakukannya saat ini.
"Menyebalkan" desis arin saat dirinya sudah berada di penghujung lapangan sekolah.
Rasanya menyebalkan saat dirinya ingin menghindar dari chan tetapi suara hatinya berkata sebaliknya.
Arin segera berbalik arah, menuju ruang kelas. Sia-sia rasanya sudah menuruni anak tangga ini. Tetapi tidak masalah, setelah mengucapkan terimakasih arin akan langsung menuju tempat bekerja nya.
Menyusuri sekali lagi koridor yang sudah sepi itu, arin segera saja memasuki ruang kelas. Berdiri tepat di depan chan yang belajar sangat fokus itu.
"Chan, apa kau bersedia mengajari ku?"
"ah bukan ini yang ingin ku katakan" jerit arin dalam hati.
Ternyata seorang arin juga bisa gugup ya, kira nya hanya chan saja yang bisa gugup jika berada dekatnya. Tetapi memang karena beberapa hal yang sudah berlalu membuat arin semakin terbebani dengan kebaikan chan, hanya saja menutupi nya dengan sikap jutek andalan nya.
"Begini chan... sebenarnya aku sangat berterimakasih," jelas arin lagi.
"Berkat catatan yang kau berikan hari itu skor yang ku dapatkan menjadi luar biasa."
"Jadi kalau kau bersedia apa kau bisa mengajari ku lagi? Hanya memberi catatan seperti yang kemarin saja sudah cukup bagi ku" sambung arin lagi, menjelaskannya panjang lebar.
"Namun jangan khawatir kalau kau tidak bersedia aku tidak akan memaksa kok, janji" jelas arin lagi, setelah melihat chan yang tidak merespon sedikit pun.
Apakah chan sedang dalam kondisi yang tidak baik? pikir arin.
Benar juga setelah ulangan sejarah yang mendadak itu, dia hanya belajar mandiri terus-terusan hingga sekarang. Apa jangan-jangan ia mendapat skor yang tidak memuaskan ya. Oh apa mungkin suara yang mengagetkan tadi adalah ulah chan sungguhan?
Arin bertanya-tanya terus dalam isi kepala nya. Karena chan yang tidak menanggapi, akhirnya muncul niat nya untuk segera pergi meninggalkan ruang kelas.
"benar sepertinya dia sedang tidak mood" pikir arin lagi.
Sementara itu chan...
Chan terdiam seribu bahasa tak menyangka bahwa si cantik arin berkata banyak, apalagi arin duluan lah yang mengajak nya berbicara. Apakah ini adalah langkah awal kedekatan mereka.
Mau!
Tentu saja chan mau dan bersedia kapan saja dan dimana saja untuk menjadi partner belajar untuk sang bidadari arin. Chan yang terdiam bukan karena seperti yang di duga oleh arin, melainkan hanya benar-benar tidak menyangka dengan kata-kata dan sikap arin saat ini.
Chan yang terlalu gugup dan bingung serta tidak tahu untuk menjawab arin lantas hanya terdiam.
"Baiklah chan, aku akan pergi seperti nya aku mengganggu mu" ucap arin yang langsung menimbulkan rasa gelisah dan panik di hati chan.
"Aku akan mentraktir mu lain kali kalau kau sudah sedikit lebih baik ya, selamat tinggal" sambung arin lagi dan segera meninggal kan chan.
Chan yang tidak ingin menyia-nyia kan kesempatan berharga ini langsung saja dengan segera mengejar dan menahan arin yang sudah berjalan ke arah pintu kelas. Chan dengan sigap menahan arin dengan mencengkram tangan arin sedikit keras membuat arin meringis kesakitan.
"aw"
Ringisan itu segera membuat chan tersadar bahwa cengkraman nya sudah menyakiti arin. Segera saja ia langsung melepaskannya.
"Maaf, kau tidak apa-apa?" tanya chan yang merasa bersalah.
Arin menatap pergelangan tangan nya, bohong jika tidak merasa sakit, namun ia segera membantah kesakitan nya karena tidak ingin membuat chan semakin merasa bersalah saja.
"Aku bukan bermaksud menolak mu, aku hanya..." ucap chan.
"hanya... Tidak menyang..."
Belum sempat chan menyelesaikan perkataanya, arin langsung memotong ucapan nya dengan tidak sabar. Tentu saja tidak sabar, melihat kegugupan chan apalagi cara bicara nya yang semakin tidak jelas.
"Jadi kau bersedia untuk mengajari ku kan?"
"Tentu saja!" balas chan cepat, singkat dan padat. Jika sudah belajar bersama tentu nya waktu nya untuk dekat dengan arin semakin banyak.
Arin yang menerima jawaban jelas dan padat itu langsung saja mendapat kelegaan dalam hati nya. Setelah berbicara dengan angin sore, ternyata mendapat respon yang baik juga.
"Arin, soal traktir..." ucap chan lagi setelah mereka berdua sempat terdiam.
"Sekarang pun aku bersedia kok, baik soal traktiran mu atau pun soal mengajari mu" jelas chan dengan sangat jelas, membuat arin sedikit terkejut. Yah setelah barusan, arin memang lega sih setelah chan mengiyakan ajakan nya, tetapi tidak secepat ini juga untuk melaksanakan semuanya. Apalagi sebenarnya arin akan pergi untuk bekerja ke toko bunga.
"Baiklah, sekarang. Tetapi alangkah baik nya kau benahi dulu buku-buku mu itu" ucap arin menyetujui.
Chan langsung dengan sigap membereskan buku-buku dan perkakas yang berserakan di atas meja nya. Segera ia memasukkan buku-buku yang tidak perlu untuk di bawa pulang ke dalam loker. Dan juga membawa catatan-catatan yang sekiranya diperlukan untuk mengajar arin.
Selesai membenahi meja nya chan langsung keluar menemui arin yang sudah menunggu di koridor. Mereka berdua berjalan menuruni anak tangga, dan lagi melewati koridor lantai dasar yang sudah semakin sepi, namun masih terisi oleh siswi lain yang sedang membaca sambil menunggu di jemput oleh supir pribadi nya.
Angin sore mendadak lebih kencang secara tiba-tiba membuat rambut coklat bergelombang milik arin berkibar sedikit juga.
Pemandangan itu, membuat chan yang berada di samping arin benar-benar terpesona. Bagaimana bisa ada gadis secantik ini pikir chan dalam hati. Akan sangat beruntung untuk siapa pun yang bisa menjalin kasih dengan gadis seperti arin.
"Chan, berhubung aku sudah menghabis kan gaji ku pekan lalu untuk membeli mantel, jadi aku hanya bisa mentraktir mu untuk makanan yang ada di supermarket saja ya" jelas arin terus terang, mematahkan lamunan chan yang sudah memandangi nya sedari tadi.
"Tidak apa-apa, bagaimana kalau kita ke daerah southmusk saja, aku yang akan traktir" balas chan yang menimbulkan ketidaksukaan pada arin.
Lagi?
Lagi-lagi si jangkung ini ingin memamerkan kekayaan nya ya.
"Kau ingin pamer kekayaan lagi?" tanya arin tidak suka.
Chan yang tersadar langsung menyesal karena sudah mengeluarkan ajakan itu.
"Kan aku sudah berjanji ingin mentraktir mu, kenapa malah kau yang akan traktir? Meskipun hanya makanan supermarket apa serendah itu bagi mu untuk menerima nya?" tanya arin bertubi-tubi, membuat chan tidak tahu harus menjawab dari mana.
"Bukan begitu... Aku hanya tidak ingin membebani mu" jawab chan.
"Sudahlah, pada akhirnya kau pasti tidak akan bisa menerima ku yang seperti ini, percuma saja"
"Menerima maksud mu?" tanya chan.
Menerima apa yang dimaksud oleh arin, menerima? Tentu saja chan dengan kedua tangan terbuka sedia kapan saja untuk menerima arin.
Namun terlambat, arin yang sudah terlanjur kesal, langsung tanpa aba-aba meninggalkan chan yang sepertinya sudah salah mengambil tindakan.
Aku harus bagaimana? batin chan.