
"Begini chan, bekal sarapan yang kau bawa hari ini sangat lezat sekali, tetapi seperti ada yang kurang" ucap arin tanpa membuat chan kecewa.
"Mau membeli sup tahu dan odeng?" tambah arin akhirnya.
Mau!
Tentu saja chan mau, akhir-akhir ini chan jadi semakin menyukai odeng dan teman-teman odeng lainnya. Karena kuah panas yang disajikan benar-benar menghangatkan tubuh, sangat cocok di konsumsi di musim ini.
"Ayo saja, aku sudah membawa cash" jawab chan.
Setelah jawaban chan itu mereka langsung keluar rumah untuk membeli odeng dan sejenisnya yang hangat untuk disantap sebagai sarapan ronde kedua. Arin bersiap dengan memakai jacket padding yang tebal, karena sekarang memakai mantel saja tak cukup di tengah badai salju.
Mereka berdua, chan dan arin menembus badai salju demi mencari semangkuk odeng hangat. Tetapi sepertinya kali ini semesta tak membiarkan mereka begitu saja untuk menikmati odeng. Mungkin karena badai saat ini membuat pedagang odeng tersebut tak bisa berjualan.
Tetapi syukurlah restoran kecil-kecilan yang menjual sup tahu, ternyata masih ada. Sehingga mereka berdua bisa menghangat kan tubuh dengan sup tahu ini.
"Lain kali ayo kita coba hotpot, sepertinya kemarin alfin dan dua gadis thailand itu menikmati hotpot" ajak arin pada chan sembari menunggu pesanan mereka disajikan.
Dan lagi tentu saja chan mengiyakan ajakan itu, memangnya ada kata tidak untuk tuan putri arin.
Setelah pesanan mereka tiba, mereka pun menikmati nya sebagai sarapan ronde kedua. Sup tahu dengan rumput laut kering yang banyak, serta minuman matcha hangat dan teh leci. Mereka berdua menikmati nya, hidangan yang hangat itu.
"Padahal kita sepakat untuk belajar bersama, tetapi kenapa malah makan yang banyak di pagi hari begini" ucap arin yang merasa tertawa geli dengan kegiatannya saat ini, benar-benar kebalikan dari janji yang sudah mereka buat.
"Tidak apa-apa, belajar di musim dingin membutuhkan banyak energi" jawab chan singkat sambil tersenyum.
....
Tak lama mereka menikmati makanan itu, terlihat seorang gadis yang memakai padding berwana ungu muda dan syal yang senada, sedang memandangi mereka berdua dari luar sana. Terlihat dari kaca restoran sup yang transparan.
Melihat jaket padding itu arin langsung teringat seseorang.
"Guzel?!" ucapnya tanpa sadar.
Kini mata arin hanya tertuju keluar, memastikan sekali lagi bahwa gadis yang mengenakan pakaian serba ungu itu adalah guzel atau bukan.
Hal itu membuat arin keluar dari restoran dan meninggalkan chan yang masih menikmati teh leci dan sup hangat itu.
Chan yang melihat arin keluar, bertanya-tanya ada apa dengan gadis itu?
Kenapa raut wajah nya tiba-tiba menjadi panik.
......................
Di tengah badai salju, dua gadis yang memakai padding ungu muda dan padding abu-abu itu berdiri bagai tak merasakan lagi udara dingin yang menusuk kulit.
Guzel, gadis ber-padding ungu muda itu hanya memandang arin dengan mata sayu dan bibir yang bergetar. Seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi seperti tertahan di ujung bibirnya itu.
Karena tak bisa mengatakan apa yang ingin dikatakannya, guzel langsung menangis. Melihat itu arin langsung kebingungan.
"Guzel, hei lihat aku. Kenapa tiba-tiba menangis" tanya arin yang sedang kebingungan.
"Aku ingin membeli odeng di sana, tetapi odeng itu malah tidak ada" jawab guzel akhirnya sambil menunjuk posisi tempat odeng itu berjualan.
Tetapi, masa hanya karena itu?
Hanya karena tak ada odeng, seorang gadis 17 tahun menangis di tengah hujan es.
"Kita juga dulu sering membeli odeng kan, bersama angela juga" tambah nya lagi di sela-sela tangisnya yang mulai redah itu.
Ya benar saja, mendadak arin juga jadi mengingat masa-masa itu. Tepatnya tahun lalu, saat mereka masih sangat dekat dan menikmati odeng hampir setiap malam usai selesai belajar tambahan di SS (South Study).
Dari yang semula mereka berdiri di tempat yang sama, kali ini mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan.
Membuat chan yang awalnya masih bisa memantau mereka dari kaca restoran yang transparan menjadi benar-benar kehilangan jejak mereka berdua.
"Seperti ini kan katamu?" tanya arin pada guzel memperlihatkan gandengan mereka itu.
"Arin kau masih marah padaku?"
Pertanyaan guzel itu membuat langkah arin terhenti, dan membuat arin jadi mengingat-ingat lagi kejadian itu. Tetapi syukurnya sekarang ini, jika ia mengingat kejadian itu lagi ia seperti sudah berdamai dengan diri nya sendiri. Yang semula ia akan merasa rendah diri dan tak berguna, kini ia malah mengingat kejadian itu sebagai pelajaran berharga dalam hidupnya.
"Untuk apa?" tanya arin kembali pada guzel.
Membuat guzel semakin bingung untuk memulai dari mana.
"Lusa aku akan ke turki dan menetap di sana" jawab guzel.
Jawaban guzel itu membuat arin terdiam sejenak. Dan berpikir, jadi karena inilah guzel ingin segera menyelesaikan masalah yang mengganjal hatinya itu.
"Lalu?" tanya arin lagi.
"Aku merindukan saat-saat di mana kita bertiga masih bersama" ucap guzel menatap arin sangat dalam, hingga matanya yang baru selesai menangis itu, kembali berkaca-kaca.
Jujur saja sebenarnya guzel memang tidak ingin benar-benar berpisah dengan arin dan angela seperti sekarang ini. Ia bahkan sudah berniat dari dulu untuk memulai pertemanan ini kembali, tetapi guzel tak memiliki keberanian yang cukup, untuk berdiri di depan arin dan mengatakannya dengan lantang.
Guzel benar-benar merindukan saat dimana mereka belajar alakadarnya dan bermain tanpa memikirkan beban apapun soal pelajaran. Mencari makanan streetfood usai pulang les, dan membolos bersama ke teater saat jam pelajaran lintas minat kimia.
"Aku tak tahu harus berkata apa untuk benar-benar meyakinkan mu, tetapi sungguh aku sudah baikan dan tak menyalahkan siapapun lagi tentang kejadian waktu itu" ucap arin berusaha menenangkan guzel yang masih saja menangis.
"Jadi jika lusa kau benar-benar akan pindah ke turki, anggap saja itu langkah awal yang baru untuk mu, untuk bisa memulai awal yang baru bersama teman mu yang baru juga"
"Oh iya dan juga berteman baiklah dengan teman-teman baru mu. Pasti akan sangat menyenangkan!" ucap arin dan memberikan senyuman nya yang paling hangat.
Masih berjalan di tengah badai salju itu, kini arin dan guzel bercerita banyak tentang masa-masa sulit yang mereka hadapi setelah berpisah. Hal itu membuat mereka saling menguatkan satu sama lain. Dan arin berusaha meyakinkan guzel bahwa inilah fakta yang harus mereka hadapi karena kelalaian mereka di masa lalu.
Sekalipun kejadian itu sangat membuat arin hancur, tetapi arin tak pernah menyesal memiliki teman seperti guzel dan angela. Bagi arin, mereka berdua tetap teman terbaik yang pernah hadir di hidupnya.
"Karena itu jaga dirimu baik-baik di sana, aku akan selalu mengingat mu sebagai teman terbaik ku"