BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Leo kau suka cha?



"Lagi pula sejak kapan si chan itu? Dengan gadis secantik arin?" batin leo mencoba mengingat-ingat, sampai mana kedekatan arin dan chan hingga mereka berdua bisa berkencan.


Tetapi benar saja tak ada yang mustahil, itu berarti ia dan cha pun bukan tak mungkin untuk berkencan seperti chan dan arin. Kalau begitu saat nya mengejar cha dengan ugal-ugalan.


"Akan ku tepis semua penolakan cha dan tetap mencintai cha secara brutal" batin leo lagi yang membuat senyuman licik terukir di wajahnya.


Pikiran leo dibuyarkan seketika saat melihat cha yang mengejar arin dan chan, untuk memastikan fakta 'berkencan itu'.


"Hei tunggu aku" ucap cha yang berlari meninggalkan ransel nya di dalam kelas.


Tak lama hal itu juga disusul oleh leo, untuk memastikan dugaan itu juga.


......................


Karena tertangkap saat berhenti di stan yang menjual odeng, sehingga di sinilah mereka sekarang. Chan dan arin yang sedang diintrogasi oleh cha. Oh iya dan ada juga leo. Yang sudah membeli beberapa tusuk odeng.


Tetapi karena di luar terlalu dingin, cha menunda interogasi nya dan mengajak untuk pindah ke dalam restoran jepang tanpa alas kaki itu.


Cha yang duduk di atas sofa yang ada sembari menunggu makanan mereka untuk menghangatkan tubuh. Sedang arin dan chan duduk bersujud di depan cha, seolah sudah melakukan kesalahan besar.


Oh iya leo! Leo juga duduk di bawah bersama dengan chan dan juga arin. Sesekali ia menyuapi odeng itu pada cha yang juga sedang kedinginan. Yang tentu saja cha menerima dengan senang hati suapan odeng dari leo. Karena odeng panas itu benar-benar menghangatkan.


"Jadi sejak kapan kalian berkencan?" tanya cha sambil menyilangkan kaki nya dan juga tangan nya, oh iya, ia juga sambil mengunyah odeng yang disuapi oleh leo.


"Cha, bukankah ini terlalu berlebihan?" tanya arin sambil nyengir sedikit.


Sebenarnya bagi cha ini juga terlalu berlebihan, tetapi bisa-bisanya mereka berdua itu berkencan tanpa memberi tahu dirinya. Benar-benar tak setia kawan.


"Yasudah, chan kau jangan menyakiti arin ya, kalau sampai itu terjadi aku yang akan maju lebih dulu" ujar cha yang kali ini ditujukan nya untuk chan. Dan juga tangannya membentuk sebuah tinju untuk menakuti chan.


"Kalau begitu, kapan kalian jadi?" kali ini leo yang bertanya, karena cha sibuk meniup odeng yang di pegangi oleh leo.


"Eee itu... Saat kita bermain di rumah chan" jawab arin akhirnya dengan sedikit gugup.


Jawaban arin itu menimbulkan rasa terkejut bagi cha dan leo. Yang membuat leo dan cha menutup mulut mereka yang sedang menganga itu dengan kedua tangannya.


Memangnya ada ya kesempatan untuk mereka jadian hari itu. Soalnya seingat cha dan leo, mereka hanya makan lalu tidur lalu nonton dan makan lagi lalu makan kembali. Kapan chan dan arin bisa jadian?!


Terkejut sebentar saja, cha dan leo melanjutkan lagi kegiatannya mengunyah odeng yang tinggal satu tusuk itu. Cha hanya menggigit separuh saja di tusukan odeng itu, lalu sisanya ia berikan kepada leo dan langsung di lahap habis oleh leo.


"Kalian berpikir apasih? Lihatlah kalian berdua, bukankah sedari tadi justru kalian yang lebih menunjukkan sikap seperti orang berkencan dibanding kami?" tanya chan akhirnya membuka suara, setelah melihat sedari tadi aktivitas cha dan leo itu.


Benar saja cha langsung menyadari nya, dan langsung menyuruh leo untuk menjaga jarak dengan tatapannya. Leo pun langsung menjaga jarak, dan tak lama makanan pun disajikan. Hingga situasi canggung tadi terjadi sebentar saja.


Tapi tak semudah itu, arin yang merasa harus membalas perbuatan cha tak bisa diam saja. Setelah melihat lagi-lagi sikap romantisme leo kepada cha.


Leo bahkan memberikan tamago dan Nori nya ke dalam mangkuk cha, karena tau cha sangat menyukai itu. Lalu memisahkan daun bawang juga dari mangkuk cha, karena cha tidak menyukai daun bawang.


"Leo kau suka cha ya?" tanya arin blak-blakan.


"Tidak!!!" jawab cha dengan sangat cepat.


"Kenapa kau yang jawab? Aku bertanya pada leo" tanya arin santai lalu menyeruput kuah hangat dari mangkuknya.


Melihat reaksi cha yang semakin canggung dengan leo, chan pun langsung tersenyum iseng untuk menggoda mereka berdua.


Seperti yang selalu dilakukan leo pada nya, chan kini punya kesempatan untuk membalas leo. Hal itu membuat cha semakin canggung dan segera pergi dari restoran itu dengan terburu-buru.


Haha ternyata cha bisa gugup juga, arin pikir social butterfly seperti cha tak bisa canggung dan gugup karena selalu bisa menghidupkan suasana.


"Teman-teman aku pergi sekarang, chan kau yang bayar ya! Sebagai pajak kencan kalian" ujar cha terburu-buru dan langsung meninggalkan mereka bertiga di situ.


Leo sedikit kecewa karena cha yang tiba-tiba pergi. Terlihat wajahnya yang lusuh itu kini semakin lusuh. Apalagi sekarang rambut nya yang ikal itu menutupi kening hingga matanya, dan membuat dirinya semakin terlihat mengenaskan.


"Leo kau masih di sini? Menunggu apa? Tak mengejar cha?" tanya arin bertubi-tubi pada leo yang yang mengenaskan itu.


"Kau kejar cha dong! Antar dia ke tempat kerja nya sana" tambah arin lagi.


Mendengar itu, leo langsung segera pergi. Iya juga kenapa pula ia harus kecewa, seharusnya dikejar dong, kan ia sudah berniat akan mengejar cha secara ugal-ugalan.


"Chan kau yang bayar ya, pajak jadi!" ucap leo akhirnya sebelum pergi.


Yah chan sih tak masalah jika membayar bill untuk ini. Setidaknya ia puas hari ini karena telah melihat drama percintaan dari kedua teman nya itu. Dan itu cukup menggelitik.


"Akhirnya mereka pergi juga, cha si bawel itu" ujar arin sedikit tertawa pada chan.


Bisa-bisanya cha yang berniat menginterogasi mereka berdua malah cha lah yang terinterogasi. Menggelikan!


"Oh iya kenapa alfin tak ikut ke sini? Kupikir ia akan mengikuti leo" tanya chan heran karena tiba-tiba mengingat alfin.


.....


Sementara itu alfin...


Alfin dan dua gadis berdarah thailand itu ternyata masih berada di kelas sedari tadi, sedangkan chan, cha, leo & alfin sudah menghabiskan satu mangkuk ramen.


"Jadi, mau makan bersama?" tanya alfin kepada dua gadis thailand itu.


Setelah cukup lama mendengar kedua gadis itu berbicara dalam bahasa mereka.


"Tentu saja ayo!" jawab mali.


"Kebetulan kami ingin mencoba hot pot, akan lebih enak jika dimakan bersama banyak teman" tambah asa lagi.


"Tidak jadi cemilan?" tanya alfin.


"Tidak, karena ada alfin sepertinya mencoba hotpot tidak akan mubazir" jawab asa.