BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Pemantik



"Dari mana saja?" ujar seorang pemuda yang masih setia menunggu di restoran sup tahu itu.


Sudah 3 jam sejak arin meninggalkan nya untuk pergi menemui gadis yang dipanggil guzel itu. Dan sudah tiga jam pula chan masih setia menunggu arin tanpa berpindah tempat sedikit pun.


Bahkan chan sudah menghabiskan dua gelas teh leci. Oh iya sup dan minuman matcha arin juga sudah menjadi dingin seperti suhu ruang. Tetapi syukurlah tak ada hal buruk yang terjadi lagi.


"Astaga matcha hangat ku sudah tak hangat lagi, apa aku terlalu lama ya" ucap arin yang berniat menelan minumannya itu untuk menghangatkan tubuh.


Chan hanya menggeleng dan tersenyum tipis mendengar perkataan arin. Tentu saja matcha itu sudah tak hangat lagi, jelas-jelas ia sudah pergi selama tiga jam.


"Kalau begitu pesan lagi saja" ujar chan pada arin yang terlihat memelas karena masalah matcha.


"Tidak mau ah, sudahlah kita kembali saja, kapan lagi kita belajar jika berpergian terus" ujar arin yang kali ini semakin menunjukkan jelas perasaan bahagia di wajahnya.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka langsung saja membayar makanannya dan langsung kembali ke rumah arin.


Berjalan keluar menikmati salju, entah kenapa salju yang begitu dingin ini terasa tak begitu dingin lagi bagi arin saat ini. Senyuman lega namun juga terasa bahagia terpancar jelas di wajah nya yang seolah menikmati musim yang membekukan itu.


"Kau ingat kan guzel?" tanya arin yang masih dalam perasaan bahagianya.


"Gadis yang tadi itu guzel, tahu!" tambah arin lagi menjelaskannya pada chan.


Chan hanya berpikir, ya sudah kalau itu guzel memangnya kenapa?.


"Aku senang banget hari ini, ku pikir saat melihat guzel aku bakalan teringat lagi hal buruk di masa lalu," ujar arin lagi.


"ternyata saat bertemu guzel aku malah menjadi senang dan lega, karena kali ini aku sudah berbaikan dengan guzel.


Arin memanjangkan kedua tangannya dan menggoyang-goyangkan nya, menunjukkan semakin jelas bahwa ia sedang sangat senang. Arin pikir bertemu guzel hanya akan membuka luka lama yang selama ini sudah ditutupnya rapat-rapat.


Atau saat bertemu guzel dan hal yang berhubungan dengan masa kelam nya itu akan membuatnya merasa buruk dan rendah diri. Tetapi justru tidak, ia malah menjadi lega saat ini, karena tidak lagi menganggap masa lalu itu sebagai kelemahan dirinya. Namun ia berhasil menjadikan itu sebagai pelajaran dan menerimanya dengan hati terbuka.


"Hoho apa ini yang terjadi jika kita semakin dewasa?" tanya arin masih dalam ekspresi senang.


"Rasanya aku sudah sangat dewasa bagaikan 25 tahun karena berhasil menerima kekurangan ku, dan memaafkan musuh ku" ujar arin lagi yang kali ini merasa bangga dengan dirinya sendiri.


"Tapi arin, bukannya guzel itu teman mu? kenapa musuh?" tanya chan yang merasa janggal dengan kalimat arin barusan.


Arin yang mendengar itu hanya mendesis kecil lalu mengeluarkan tawanya, di depan chan yang masih menunggu jawaban.


Sampai....


Mereka sudah sampai di depan pintu rumah arin, dan mereka tak membahas itu lagi. Namun bahagia dan senang masih terukir jelas di wajah arin.


"Jadi kita akan mulai dari mana pelajaran kali ini?"


......................


Malam hari di pusat kota terlihat begitu ramai. Orang-orang berlalu lalang, berdatangan ke satu tempat dan pergi lagi hingga mengulangi siklus yang sama, di tiga tempat berbeda. Apalagi sekarang ini adalah akhir pekan, sehingga ada banyak waktu untuk sekedar berjalan-jalan atau bersantai menikmati pusat kota.


Karena terlalu suntuk saat berada di dalam, ia memutuskan untuk menghisap rokok di luar, sekaligus menghirup udara malam tentunya.


Saat tiba di luar gedung, ia langsung berjalan menuju gang kecil yang ada di sana. Mengeluarkan satu puntung rokok dari celananya, dan memegangi sambil berpikir sedikit. Entah apa yang dipikirkan nya, hingga pemuda ini lupa akan pemantik nya.


Oh di sana ada seseorang juga, jadi pemuda kekar itu mencoba berbicara dengan pemuda lainnya itu untuk menanyai pemantik.


"Hei kau yang di sana, bisa ku pakai pemantik mu?" tanya bagas pada pemuda itu.


"Aku tak punya" ujar pemuda yang ditanyai nya itu akhirnya.


Bagas berpikir, sepertinya kali ini ia tak direstui oleh semesta untuk merokok meskipun hanya satu batang saja.


Bagas langsung mematahkan sebatang rokok utuh yang dipegangnya itu. Begitulah cara bagas mengatasi kebiasaan merokoknya.


Karena orang tuanya sangat perduli terhadap nilai-nilainya, sehingga membuat bagas diharuskan untuk mengikuti beberapa les, dan itu membuatnya tak memiliki waktu untuk berteman. Dan satu-satunya cara ia melepaskan stress adalah rokok.


Merokok tanpa diketahui orang tuanya. Sudah pasti ibu nya akan sangat marah besar padanya jika ia ketahuan melakukan itu di belakang. Karena ibu bagas menaruh harapan besar pada bagas, agar bisa mengikuti jejak ayahnya yang merupakan seorang dokter spesialis jantung.


Yah walau bagas masih sesekali merokok, namun itu hanya saat ia benar-benar tak bisa menahannya lagi. Saat seperti ini jika ia banyak pikiran dan ingin merokok, ia tak langsung menyesap rokok nya itu. Tetapi ia menunggu beberapa saat untuk membiarkan momen yang datang adalah tidak membiarkan nya merokok.


Seperti sekarang ini, momen yang datang adalah momen yang tak membiarkan nya merokok. Yah bagas bersyukur sedikit, tetapi ada rasa yang tak tertahankan oleh nya untuk ingin segera menyesap rokok itu. Sehingga dengan cepat ia patahkan saja dan membuangnya ke tempat sampah sekitaran situ.


Ia yang sudah membuang rokok itu langsung saja mengemut permen. Agar bisa sedikit saja mengurangi keinginan nya untuk merokok.


Baru saja bagas akan segera pergi dari sana, pemuda yang dimintai pemantik oleh bagas tadi langsung berbicara dan itu menghentikan bagas.


"Kau dari sekolah EnR elit itu kan?" tanya pemuda itu pada bagas, yang ternyata keluar dengan memakai celana panjang olahraga sekolah.


Padahal ia hanya asal memakai pakaian saja untuk melindungi tubuhnya dari musim dingin. Tetapi jeli juga penglihatan pemuda ini.


"Kalau begitu apa kau mengenal levicha? belum lama ini ia pindah ke sana" tanya pemuda itu lagi.


Bagas mengingat-ingat...


Levicha?


Tentu saja nama itu sangat asing bagi bagas.


"Tidak tahu tuh, memang ada apa dengan nya?" tanya bagas pada akhirnya.


"Dia mencampakkan ku" jawab pemuda itu cepat, dan itu membuat bagas menjadi iba padanya.


"Kalau begitu datangi saja sendiri, kenapa bertanya pada orang yang tak mengenalnya" jawab bagas yang menimbulkan rencana baru bagi pemuda itu.


"Haruskah aku pergi ke sana?"