
From : Arin 🍓
Chan, sedang apa?
Aku ingin bertanya mengenai mengenai soal limit nomor 2 tadi siang, apakah penyelesaian ku ini sudah benar?
Send photo...
Sementara itu di seberang sana ponsel chan yang berbunyi langsung saja membuyarkan aktivitas nya yang juga sedang belajar. Lebih senang lagi chan saat kontak nama yang memberi nya pesan adalah nama seorang arin.
Chan langsung saja dengan sigap membalas pesan tersebut tak ingin gadis pujaan nya itu menunggu lebih lama.
To : Arin 🍓
Send photo
Ikuti saja ini, besok akan ku jelas kan saat pelajaran mandiri pagi. Sebaik nya kau istirahat saja.
Sang master waktu sudah memperlihat kan waktu yang sudah semakin larut. Pasalnya ini sudah pukul 00.50, yang tentunya sangat terlalu larut untuk seseorang tertidur dan akan bangun pukul 06.00 keesokan nya.
"Apa arin tidak kelelahan?" pikir chan sedikit iba. Setelah selesai sekolah, arin selalu terburu-buru menuju tempat kerja dan dilanjutkan dengan belajar malam di rumah.
Ingin rasanya chan mengajak arin untuk les tambahan bersama nya, tetapi sudah pasti arin menolak jika sudah menyangkut soal uang.
"Arin berusaha terlalu keras" pikir chan.
Belakangan ini arin memang semakin giat belajar, saat istirahat di tempat kerja pun tak ragu-ragu ia langsung membaca catatan yang diberikan chan pada nya. Padahal saat istirahat bekerja 30 menit itu biasanya dipakai nya hanya untuk melamun memandangi jalan, atau sekedar menelan biskuit dari Sakura Mart.
Ibu arin bahkan agak tidak menyangka bahwa arin, belajar?
Pasalnya setelah pulang bekerja di pagi hari, sebelum membersihkan diri ibu arin juga terkadang menyiapkan sarapan kecil-kecil lan jika sempat bertemu arin sebelum berangkat sekolah. Namun jika arin sudah pergi lebih dulu, maka ibu arin hanya membersihkan rumah sebentar dan segera beristirahat.
Melihat meja belajar arin yang terisi coretan dan buku-buku yang di pelajari nya selama beberapa malam, membuat dugaan pada ibu arin, bahwa putri nya itu sedang belajar. Sehingga membuat rasa takjub dan juga sedikit terkejut dengan perubahan sikap putrinya.
"Sudah kuduga, kau pasti bisa sayang, maju lah jangan menjadi seperti ibu mu yang hina ini" ucap nyonya karin, yang tak lain adalah ibu nya narin.
Ibu nya arin memandangi buku yang di pegang nya saat ini sambil membuka lembar demi lembar melihat coretan putrinya. Tak di sangka air mata nyonya karin berjatuhan sedikit demi sedikit membasahi buku sosiologi milik chan yang diberikan nya untuk arin pelajari.
"Putriku sudah berusaha keras"
......................
Sesuai janji chan kemarin malam, pagi ini chan mengajari penyelesaian soal limit matematika kemarin pada arin. Penyelesaian yang singkat dan jelas membuat arin lebih cepat mengerti di banding penjelasan dari guru matematika itu sendiri.
"Baiklah mengerti, terimakasih lagi" ucap arin bahagia karena sudah mengerti.
"Kau tidak lupa kan dengan janji kita" tanya arin lagi mengeluarkan suara.
Mereka berdua tak berbicara lagi, namun siapa saja yang melihat mereka berdua di sudut ruangan itu, pasti dapat menilai bahwa mereka benar-benar bahagia. Rasanya seperti tidak ada yang di gubris oleh mereka, terlihat dari sudut bibir mereka berdua yang terangkat.
Bukan tanpa alasan, tentu saja karena arin sudah semakin lihai dalam belajar dan juga chan yang semakin lihai?
Tentu saja tidak, lihai dalam belajar sudah seperti makanan chan sehari-sehari untuk apa senang hanya karena bisa menyelesaikan soal. Justru chan senang bukan main karena berhasil membuat arin senang. Rumit memang, berkat kepandaian chan dalam mengkritisi pelajaran bisa membuat arin tersenyum bahagia.
"Senyum yang sungguh manis"
Kelompok belajar ini memang seperti sudah di takdir kan untuk mereka, yang sama-sama saling melengkapi.
Senyuman chan berhenti mendadak ketika matanya tak sengaja menangkap penampakan leo di depan. Leo yang sudah merasakan bunga-bunga percintaan antara arin dan chan langsung tersenyum iseng di sana, membuat chan mendadak gugup sementara.
Leo langsung mendatangi tempat chan dan arin berada, dan memandangi nya sebentar. Arin tentu saja ia masih fokus pada pelajaran yang dipelajari nya, hingga tak sadar ada leo di belakang nya yang sudah meledek chan dari tadi.
Chan yang menerima senyuman jahil dari leo langsung saja berusaha tetap diam, ia tak ingin salah tingkah di depan arin.
"Chan! Kau terlihat senang beri pajak bersenang-senang dong" ucap leo akhirnya setelah beberapa lama hanya senyum jahil menggoda chan.
Arin yang mendengar suara leo dari belakang langsung memastikan, ah ternyata benar ada leo, tetapi sejak kapan ia berdiri di sana. Melihat sebentar lalu kembali fokus pada pelajaran.
Chan mengiyakan permintaan leo untuk memberi nya pajak kesenangan. Dengan tidak tahu diri nya leo langsung saja memesan Italyan Piazza sebanyak 30 kotak untuk dimakan bersama-sama di kelas. Tentu saja itu semua di bayar dana pribadi milik chan.
Leo yang tersenyum puas lantas segera kembali ke tempat nya dan menunggu panggilan pizza tersebut. Setelah 3 jam pizza segera datang dan alfino teman satu bangku nya saat ini langsung saja menjemput pizza tersebut di lantai dasar.
Tepat sekali ini adalah waktu istirahat, sehingga ruangan yang semula berbau harum lavender ini menjadi berbau campuran antara pepperoni dan keju. Karena tidak tahu siapa donatur yang memberi mereka sekotak pizza saat ini tentu saja semuanya menghabis kan dengan lahap, kecuali beberapa gadis yang sedang berdiet.
Pasalnya jika mereka tahu bahwa ini adalah traktiran chan tentu saja beberapa dari mereka akan menolak nya, terutama darren dan teman-teman nya. Memang sih mayoritas yang berada di sekolah elit ini adalah kaum yang sama dengan chan, yang mana mereka bisa saja membeli pizza kapan saja yang mereka mau. Tetapi siapa yang akan menolak jika di beri pizza secara cuma-cuma.
......................
Setelah memastikan lampu ruangan sudah tidak menyala, arin langsung mengunci pintu toko bunga tempatnya bekerja, pasalnya ini adalah jadwal nya untuk menutup toko dan pulang lebih akhir.
Setelah tadi sore ia pergi ke toko pasta di kawasan southmusk bersama chan rasanya agak menyenangkan bisa memberi yang terbaik untuk orang lain.
"Jadi begini ya perasaan orang kaya itu jika sudah berhasil memberi versi terbaik mereka pada orang lain" pikir arin.
Karena ini sudah terlalu malam untuk belajar sebaiknya jika sudah sampai rumah nanti arin hanya akan membersihkan diri lalu tertidur hingga siang besok nya. Karena besok adalah hari sabtu, lagi pula tak masalah mengabaikan sebentar semua pelajaran itu untuk beristirahat setelah sekian lama sudah berusaha cukup keras.
Yah begitu lah pikir arin hingga keesokan pagi nya, dengan tiba-tiba ibu nya merusak jadwal tidur nya di hari libur yang indah ini.
"Arin ayo kita pergi ke Southland"
Sial waktu tidur ku yang berharga, haruskah ku habiskan untuk pergi ke taman bermain yang berisik itu?