BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Levicha (2)



Saat aku diterima di sekolah dasar, tak lama ibu juga menyusul dan berjualan di sekolah ku. Sehingga saat istirahat tiba aku bisa membantu ibu. Namun tentu saja ibu tak membiarkan ku membantu nya, dan justru malah memberiku porsi kecil untuk ku nikmati di jam istirahat.


Ketika aku berada di tahun kedua sekolah dasar, kudengar ayah ku ternyata sudah menikah lagi dengan wanita yang katanya lebih bermartabat dari pada ibu. Aku mengetahui nya saat kudengar ibu sedang bertelepon.


Cih dalam hati ku lihat saja jika wanita itu sudah menikah dan punya anak, pasti anak itu akan diperlakukan buruk oleh ayah seperti ayah memperlakukan ku dengan ibu.


Namun aku salah, setelah 7 tahun kemudian, mereka malah menjadi keluarga yang harmonis. Anak itu bersekolah di sekolah dasar elit yang sangat terkenal bagus di kota ini. Melihat nya setiap hari diantar jemput dengan supir pribadi, dan bahkan terkadang ia juga dijemput oleh ayah.


Sementara aku...


Aku bahkan hanya bersekolah di sekolah murah yang dikelola oleh negeri. Jangankan dijemput oleh ayah, makan malam bersama ayah saja dulunya bisa dihitung, ibu saja yang menjemput ku dahulu dan kami pulang bersama menggunakan bus kota.


Aku benar-benar merasa tak adil, hingga dada ku sesak rasanya. Aku yang salah, sudah lebih baik hidup bersama ibu tetapi aku dengan bodohnya menelusuri kehidupan ayah yang sekarang.


Jika ayah benar-benar ingin selalu hidup mudah di keluarganya yang kaya raya itu, kenapa sok sok-an memilih ibu dulunya, dan hidup susah bersama ibu. Setelah menghancurkan hidup ibu, sekarang ia bahkan kembali ke keluarga nya yang kaya raya itu dan hidup harmonis seolah tak terjadi apa-apa. Sementara kami disini, hanya tinggal di kamar kos sederhana, yang banyak kecoa nya.


Keluarga ayah memang kaya raya, dan lagi setelah ku ketahui ternyata ayah menikahi wanita itu untuk menyatukan kedua bisnis keluarga nenek dan keluarga istri baru nya itu.


Hidup benar-benar tidak adil, mengetahui itu semua di usia ku yang baru 15 tahun saat itu, rasanya benar-benar menyesakkan.


Tetapi aku bersyukur, meskipun hidup sederhana bersama ibu setidaknya aku bisa dicintai dan disayangi oleh ibu sekaligus ibu yang berperan sebagai ayahku itu.


Setahun setelah itu aku lulus dari sekolah junior dan melanjut ke sekolah senior. Tepatnya sekolah menengah atas. Disana juga ibu berjualan, kali ini ibu berjualan kimbab, sehingga saat makan siang tiba aku tidak perlu menghabiskan uang saat ke kantin, dan memilih untuk menikmati kimbab ibu saja. Ibu selalu mengikuti ku untuk berjualan dimana saja aku bersekolah.


...


Tak terasa aku sudah berusia 16 tahun, dan tentu saja ibu merayakan ulang tahun ku ini dengan kimbab yang dibentuk oleh seperti kue. Haha aku tertawa jika mengingat itu sesekali. Tetapi meskipun waktu sudah lama berlalu, aku terus saja terbayang-bayang oleh keluarga baru ayah. Apalagi terbayang putranya yang sekarang pasti sudah berusia 8 tahun.


Benar saja, putranya itu sudah berusia segitu. Meskipun aku tak lagi memantau keluarga ayah secara langsung, kini aku memantau mereka lewat media sosial. Ternyata putra baru ayah itu berulang tahun 3 hari sebelum ulang tahun ku.


Di salah satu postingan yang kuduga milik istri baru ayah itu, kulihat mereka merayakan ulang tahun putra nya dengan sangat mewah, di tahun-tahun sebelumnya pun juga begitu.


Akhir-akhir ini aku memang sedikit aktif di sosial media, karena katanya jika kita memiliki banyak pengikut maka bisa menghasilkan uang. Jika aku bisa menghasilkan uang tentu saja ini akan sangat bagus dan bisa meringankan sedikit saja beban ibu.


Dan dengan sedikit perjuangan ku itu maka tujuan ku semula mendatangi ku. Kini beberapa brand lokal meminta ku untuk menyiarkan produk mereka untuk ku upload di akun media sosial ku. Dan sedikit demi sedikit hasil jerih payah ku itu bisa membantu ibu.


Karena itu kami bisa tinggal di apartemen studio sekarang ini. Yah meskipun kecil dan hanya satu ruangan saja setidak nya ini sudah jauh lebih baik dibanding kamar kos yang banyak kecoa itu.


Karena semakin terkenal, membuat teman-teman ku dari yang akrab hingga yang berpura-pura akrab langsung menempel bagai lalat kepada ku. Itu membuat ku cukup risih serius.


Di sekolah aku bukan termasuk anak yang pintar, tetapi juga tidak bodoh karena jika diperlukan aku masih akan belajar kok. Bukan hanya bermain media sosial terus-terusan.


...


Setelah memasuki kelas 11 lebih tepatnya di usia ku yang sudah 17 tahun ini, bukannya meninggikan diri sih tetapi aku benar-benar sudah semakin terkenal di dunia maya karena kemampuan ku ini yang pandai mencampurkan gaya agar terlihat lebih menarik. Bahkan beberapa video ku yang viral itu, membuat gaya baru di realita menjadi contoh dan banyak diikuti oleh remaja-remaja seusia ku.


Benar-benar hidup yang mudah, pikirku.


Tetapi sepertinya semesta tak membiarkan ku untuk menjalani hidup mudah seperti yang kupikir kan. Baru sebentar aku menjalani kisah di kelas 11 itu, aku justru harus dikeluarkan.


Dikeluarkan karena ada lelaki gila dari kelas sosial 11.4 yang tergila-gila dengan ku. Sudah ku tolak berapa kali pun bukannya sadar ia justru malah membuat keributan, keributan hingga membuat guru seni hari itu terluka di bagian kepala nya.


Bagaimana tidak, lelaki gila itu dengan nekat memukul bagian belakang kepala guru itu dengan kursi besi karena hendak melarangnya mengganggu ku. Tak sampai di situ saja, setelah di keluarkan dari sekolah aku juga harus membayar biaya pengobatan guru seni itu karena tentu saja lelaki dari kelas sosial yang tidak bertanggung jawab itu melarikan diri.


Sebelum sah dikeluarkan dari sekolah, ibu sempat aju banding agar aku tak menerima akibat fatal seperti itu. Karena bagaimanapun aku adalah korban kekerasan, bukan pelaku. Tetapi tetap saja keluhan ibu tak diterima dengan baik. Karena hasil nya aku bukanlah seorang korban melainkan seorang yang juga terlibat dalam kekerasan terhadap guru.


Aku dikeluarkan dari sekolah, ibu juga dilarang membuka stan di fasilitas kantin sekolah. Yah aku sedikit putus asa hari itu. Tetapi itu tak membuat ku diam di titik terendah terus-terusan.


End (Levicha pov)


"Kalau begitu, kenapa kau bisa diterima di sekolah yang sekarang, kudengar EINSTEIN & ROBERT SCHOOL tidak menerima murid yang keluar kan" ucap alfin setelah mendengar sedikit penggalan kisah dari cha.


Cha yang menerima pertanyaan itu langsung tersenyum jahil karena berhasil membuat teman-teman nya itu menanti-nanti cerita selanjutnya. Dengan kelicikan cha yang membuat teman-teman nya menanti.


"Tidak jadi, itu aku ceritakan di lain waktu. Sekarang kalian bisa pulang, sepertinya hujan sudah redah" balas cha yang sama sekali tidak ada niat untuk mengatasi rasa penasaran alfin.