
Setelah mengelilingi lorong-lorong parfum yang ada di sana, cha bertabrakan dengan seseorang. Setelah memperbaiki diri akhirnya kedua orang yang saling bertabrakan itu akhirnya saling bertatapan untuk meminta maaf.
Seseorang yang menabrak cha itu cukup familiar baginya. Wanita yang berada di pertengahan usia 30an itu tampil modis yang memperlihatkan bahwa ia adalah seorang dari keluarga terhormat.
"Cha?" ujar wanita itu pada cha, yang sepertinya juga mengenali cha.
Yah itu adalah istri muda ayahnya, atau bisa di bilang ibu tirinya cha. Meskipun itu fakta, tetapi cha masih memiliki ego untuk sekedar wanita itu dengan sebutan 'ibu'. Karena bagi cha ibunya hanyalah satu.
"Astaga, benar rupanya. Maafkan aku sayang" ucap wanita itu lagi yang memperlihatkan ekspresi khawatir di wajahnya akan kejadian barusan.
Cha langsung dengan cepat menepis tangan wanita itu yang mencoba menyentuhnya, yang mencoba memastikan keadaannya yang baik-baik saja.
"Ah iya tante aku tak masalah, tante sendiri tak apa-apa?" tanya cha kembali pada wanita itu.
Setelah mereka berdua berdamai, akhirnya wanita itu berjalan bersama cha dan sesekali merekomendasikan parfum yang cocok untuk remaja seumuran cha. Dan itu disambut baik oleh cha. Yah meskipun awalnya ia sangat membenci wanita ini, tetapi ternyata wanita ini tak seburuk yang dibayangkan oleh cha. Layaknya ibu tiri kejam pada umumnya.
Sebelumnya ia pernah bertemu dengan wanita ini saat bertemu ayahnya di restoran perancis di pusat kota. Saat ia yang baru saja dikeluarkan dari sekolah dan tak memiliki biaya yang cukup untuk membayar sekolah baru, karena tak ada sekolah yang mau menerima nya. Jadi saat itu sebenarnya cha ingin mengancam ayah nya sedikit agar ayah nya mau menanggung setidaknya biaya pendidikan nya lagi.
Tetapi tanpa disangka justru wanita inilah yang berhasil membujuk ayah untuk menuruti kemauan ku, dan menyarankan untuk memasukkan ke sekolah EnR. Agak kesal sih saat itu saat melihat bahwa ayah nya lebih menuruti kemauan istri muda nya itu dibanding dengan cha.
Tetapi akhirnya cha yang berhasil menahan rasa kesal nya hanya mengangguk menurut. Yang penting ia bisa bersekolah lagi, dan kali ini biaya sekolah tak lagi membebani ibunya. Sehingga kini, ibunya tak perlu bekerja terlalu keras lagi.
...
Usai memilih parfum, akhirnya cha memutuskan untuk membeli parfum rekomendasi dari pelayan toko dengan aroma vanilla yang biasa seperti miliknya sebelumnya.
Cha memilih aroma itu yang bahkan tak ada di rekomendasi ibu tirinya itu. Hal itu membuat ibu tirinya menghela nafas pendek, karena sia-sia sudah melakukan aksinya itu.
Tetapi tak sampai disitu saja, ketika cha hendak berpamitan wanita itu menahannya dan mengajak cha untuk makan malam bersama di foodcourt terdekat dengan posisi mereka saat ini.
"Ayo makan malam dulu? Kau tidak buru-buru kan?" ajak sekaligus tanya wanita itu pada cha.
Sebenarnya cha ingin langsung pulang saja tetapi ada rasa tidak enak yang mengganjal hatinya, sehingga ia mengiyakan saja ajakan ibu tirinya itu untuk menikmati makan malam bersama.
....
Usai pesanan mereka tiba, cha tak langsung menikmati makanan itu. Sebaliknya ibu tiri cha malah langsung menyapu habis makanan dengan porsi sedikit itu dan langsung meminta makanan penutupnya.
Hal itu membuat cha agak terkejut, karena ia sangat berbeda dengan saat bersama ayah nya hari itu. Dimana ia malah bersikap anggun dan makan secara perlahan ala bangsawan kala itu.
Tetapi cha tak perduli dan memilih mengotak-atik ponselnya saja sebelum benar-benar makan. Tak lama ponsel wanita itu berdering.
Usai melihat nama yang tertera di ponselnya wanita itu langsung menjawab panggilan itu dengan raut wajah gembira dan suara yang diubah seperti berbicara dengan anak kecil.
....
"Cha sepertinya aku harus pergi dulu, putra ku sudah selesai les rupanya. Kau nikmati sendiri ya" ucap wanita itu akhirnya usai menyelesaikan panggilan itu.
"Baik tante" jawab cha cepat tanpa ekspresi senang maupun ramah. Hanya raut wajah biasa saja.
Bukannya langsung pergi, wanita itu malah duduk kembali. Kali ini ia berada di posisi yang lebih santai, yang mana ia menyandarkan punggung rampingnya itu di kursi restoran, menyilangkan kedua tangannya dan mengetuk meja untuk menarik perhatian meja.
Hal itu tentu saja membuat perhatian cha langsung terpusat padanya. Dan membuat cha meletakkan ponselnya di atas meja.
"Jangan panggil aku tante dong, panggil aku kakak saja ya" ucap nya sedikit santai namun menyiratkan nada kesombongan dari setiap kata yang diukirnya bersamaan dengan raut wajahnya yang merendahkan itu.
"Tidak, tidak jangan panggil aku apapun, dan jika melihat ku berpura-pura saja tidak mengenali ku" tambahnya lagi dan membuat cha semakin yakin bahwa wanita ini memang wanita terburuk seperti yang dipikirkan nya selama ini.
"Aku bahkan tak sudih menjadi ibu mu, jadi lain kali tidak usah sok akrab ya, aku menyapa mu pun seperti sekarang ini tadi hanya terpaksa, jadi maklumi saja ya"
"Pendidikan mu kan sudah dibiayai penuh oleh suami ku, jadi selagi sekolah mu lancar-lancar saja jangan mengusik keluarga ku ya. Hiduplah dengan tenang bersama ibu mu itu" ucap wanita itu lagi, membuat cha benar-benar sadar. Apa yang diharapkannya dari wanita angkuh seperti ini?!
"Oh iya satu lagi kimbab ibu mu benar-benar seperti .... Eugh aku seperti menelan sampah saat memakannya" tambah wanita itu lagi dan membuat puncak amarah cha hampir meledak.
Baguslah cha merasa, memang firasat nya selama ini tentang wanita itu benar. Wanita itu benar-benar wanita terburuk yang pernah dikenalnya.
Tunggu omong-omong kapan ia mencoba kimbab ibu? Batin cha bertanya -tanya.
Cha langsung berpikir keras dan menduga-duga, mungkinkah hari saat ia bertemu dengan ayahnya itu, ayahnya juga menemui ibunya tanpa sepengetahuan cha?
Tak mungkin, cha sudah menyusun rencana matang-matang agar ketahuan oleh ibunya. Dan lagi tak ada tanda bahwa ayahnya menemui ibunya hari itu. Karena usai bertemu ayahnya, ia langsung pulang ke rumah dan bertemu ibunya. Oh iya hari itu kan ia singgah melewati Southland sebentar.
Bagaimana mungkin dalam waktu secepat itu?
....
Akhirnya setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, cha langsung bergegas meninggalkan restoran itu dan pergi menuju rumah untuk memastikan apakah benar dugaan-dugaan yang memenuhi kepalanya itu.
Arghh rasanya hampir gila, bagaimana mungkin ayahnya menemui ibunya tanpa ia ketahui. Karena sepengetahuan nya, ayahnya tak akan pernah menemui ibunya lagi.
....
"Ibu pernah bertemu dengan ayah baru-baru ini?"