
Mempermainkan sedikit perasaan para pangeran itu, menjadi hiburan kecil bagi cha. Yah ambisinya untuk menghancurkan keluarga baru ayah nya itu memang sangat melelahkan. Apalagi saat ini ia tak memiliki banyak untuk bisa segera membuat ayahnya itu hancur.
Tetapi ia sudah bertekad dan akan melakukan itu. Di tengah kegundahan itu tentu saja memainkan perasaan orang-orang yang jatuh hati padanya terasa menyenangkan. Sebenarnya bukan cha tak punya rasa juga pada leo, tetapi hanya saja akan sangat menyebalkan jika si leo ini menjadi kekasih nya semudah itu.
Hingga kini cha tidak pernah benar-benar berkencan dengan siapapun meskipun hanya sebentar. Karena bukan itu tujuannya. Bukan itu yang ia inginkan. Meskipun ia hanyalah gadis yang masih berusia 17 tahun, tetapi tekad serta pengalaman pahit yang sudah dialaminya membuat cha tanpa sadar sudah bersikap dan memiliki pemikiran layaknya seorang yang sudah 27 tahun.
Sementara leo?
Ia hanya seorang putra yang dibesarkan layaknya seorang pangeran tanpa pernah merasakan kesusahan sepertinya. Tanpa pernah tinggal di kamar kecil yang banyak kecoa dan hanya memakan kimbab saja seharian. Bahkan melihat kecoa saja mungkin leo belum pernah.
Bagi cha memainkan perasaan lelaki itu sedikit menghibur nya, untuk membuat mungkin sekali saja anak itu tak bisa mendapatkan apa yang diinginkan nya. Enak saja jika cha mengiyakan ajakan berkencan leo dengan mudah, dengan begitu sudah pasti kehidupan leo akan sempurna karena berhasil dengan mudah mendapatkan hatinya.
...
"entah apa yang dilakukan cha hingga membuatku menjadi tak karuan begini" batin leo kini yang kali ini mengalihkan pandangannya dari buku bacaannya.
Pandangan nya beralih pada cha, yang juga sedang menatapnya.
Entahlah kali ini leo benar-benar tak bisa menahan kekesalan nya pada cha, tetapi sebesar apapun rasa kesal nya pada cha, ia tak bisa membenci cha. Dan tak bisa menghapus rasa sukanya pada cha.
"Baiklah terserah mu saja" jawab leo akhirnya setelah saling bertukar pandang dengan cha.
Leo langsung mengemasi barangnya dan segera meninggalkan ruang kelas. Dengan langkah yang luas ia berhasil meninggalkan cha yang entah mengapa malah mengikuti nya keluar. Tetapi tentu saja langkah dari kaki panjang nya itu masih bisa menjaga jarak dari cha yang kesulitan mengimbangi nya.
Tinggi leo sekitar 185 cm, sedangkan cha yang hanya 165 cm saja, mana mungkin bisa mengimbangi langkah leo yang buru-buru jika tidak berlari.
Sadar akan hal itu, kini cha berlari mengejar leo setelah memasukkan ponselnya ke dalam tote bag miliknya.
...
Setelah cukup dekat dengan leo, cha langsung menarik lengan leo yang dua kali lebih besar dari lengannya. Hal itu membuat leo terhenti dan berbalik arah kepada sosok yang memegang lengannya itu.
Melihat cha yang mencoba menahannya membuat leo sedikit keheranan, setelah sedikit perdebatan kecil di antar mereka. Leo menghela nafas singkat dan langsung bersandar ke arah dinding dan melipat kedua tangannya di dada melepaskan lengan nya itu dari genggaman cha.
Cha mendekat ke arah leo yang kini masih bersandar pada dinding koridor sekolah itu. Mendekat kan tubuhnya pada leo, dan menatap leo dalam-dalam. Dan membuat leo... Sedikit gugup.
Tidak, tidak! Kali ini leo benar-benar gugup setengah mati.
"Kau suka aku kan?" tanya cha tiba-tiba dan membuat leo semakin gugup namun tak melepas tatapannya dari pupil coklat milik cha.
"Hei! Kalau aku mencium mu sekarang, apa kau akan menolak nya?" tanya cha tanpa basa basi.
Tanpa persetujuan lagi, kini cha menangkap wajah leo dengan kedua tangan mungilnya dan semakin mendekat tubuh nya dengan leo. Berjinjit sedikit dan cha langsung saja menempel kan bibirnya itu pada bibir tebal milik leo.
Ciuman singkat itu membuat leo beku seketika, tak disangka gadis ini benar-benar melakukan nya.
huh sepertinya gadis ini benar-benar pemain, batin leo.
...
Karena tak tau harus merespon bagaimana, kini leo mendorong cha sedikit mengisyaratkan untuk menjauh, lalu ia segera meninggalkan cha yang tersenyum licik di koridor itu.
Leo berjalan cepat meninggalkan cha yang masih berada di tempat kejadian itu, kejadian saat mereka berciuman.
Membayangkannya lagi membuat wajah leo sudah semakin memerah seperti terkena demam. Ia langsung saja pergi ke toilet laki-laki di lantai dasar, dan mencuci wajahnya mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
"Gila! kami berciuman?!" ucap leo tak percaya dan salah tingkah.
Arghhh gila, leo sudah semakin jatuh ke dalam perasaan yang bodoh ini. Meskipun heran kenapa cha dengan mudah ya melakukan itu, tetapi leo menyukainya.
Ia menyukai bagaimana first kiss nya di ambil oleh gadis yang disukainya. Ia jadi ingin melakukan nya sekali lagi, dengan sedikit lebih serius.
"Astaga sadarlah!" ucap leo menampar dirinya tiba-tiba.
Benar ia harus tersadar dan berhenti terlihat seperti orang bodoh. Tetapi bayangan akan bibir cha terus menerus menghantuinya.
Sial!
Sial!
Sial!
Leo terus mengutuk di dalam toilet itu dan mencoba menyadarkan diri nya sebelum semakin gila. Dan akhirnya leo terduduk frustasi di atas kloset duduk di dalam toilet.
Ia melihat ponselnya, dan tanpa sadar langsung mengarah ke kontak cha, berharap ada pesan yang dikirim oleh cha. Tetapi tentu saja hal itu takkan terjadi.
Sepertinya gadis itu benar-benar pemain, batin leo.
....
Sementara itu cha yang masih di koridor, mengambil ponselnya untuk melihat pesan sebelum pulang ke rumah. Cha sedikit geli setelah sadar bahwa ini adalah ciuman pertamanya. Membuatnya tertawa kecil lalu melanjutkan langkahnya untuk kembali ke rumah.
Setelah keluar dari sekolah dan sedang berjalan dari sana, cha tersadar bahwa parfum yang digunakannya sudah habis pagi tadi. Sehingga ia harus membeli parfum yang baru agar bekerja besok ia tetap tercium fresh dan wangi tentunya.
Kebetulan hari ini cha sedang senggang, jadi tak ada alasan untuk menunda pergi ke parfum store. Cha langsung memutar arah dan pergi ke pusat perbelanjaan kosmetik. Ini adalah yang disukai cha, berbelanja!
Usai sampai di toko parfum mewah itu, cha langsung menghirup dalam-dalam aroma toko itu. Biasanya ia hanya akan pergi ke toko parfum khusus pelajar, tetapi kini karena ia sudah memiliki penghasilan yang lebih besar, ia memberanikan diri untuk mencoba membeli parfum luxury brand.
Setelah mengelilingi lorong-lorong parfum yang ada di sana, cha bertabrakan dengan seseorang. Seseorang yang cukup familiar baginya. Setelah tersadar mereka berdua langsung bertatapan untuk meminta maaf.
"Cha?" ujar wanita yang ditabrak oleh cha itu.