
"Arin, kau sudah bangun sayang?" panggil ibu arin sembari membuka pintu kamar arin.
Melihat putri nya yang masih tertidur pulas membuat nya tak tega melihat kelelahan yang melekat di wajah putri semata wayang nya itu. Melihat tak ada respon dari arin ibu nya mengurungkan niat nya untuk membangun kan arin. Ia tak beranjak dari sisi tempat tidur, memandangi arin yang tertidur cukup pulas.
Rambut nya yang coklat dan bergelombang itu sedikit berantakan, namun itu semua tidak melunturkan kecantikan sejati milik arin.
"putriku yang mirip seperti ku, ibu sangat menyayangi mu nak" batin ibu arin, sembari menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah arin.
Arin yang merasakan ada sentuhan di wajah nya mendadak langsung terbangun.
Tersentak melihat ibunya tepat berada di samping nya, membuat arin bertanya-tanya apakah ibu tidak pergi bekerja?
"Hari ini ayo kita berkencan" ajak ibu arin.
"Hanya kau dan ibu saja"
Arin terdiam, ada apa dengan ibu nya sih, menggunakan bahasa seperti itu pula.
"Ayolah sayang, mari kita habiskan waktu hari ini, hanya kita berdua" jelas ibu nya lagi untuk menjawab keheranan yang terpampang jelas di wajah arin.
"Ibu tidak beristirahat?" tanya arin yang akhirnya membuka suara.
"Tidak perlu, nanti malam saja, ibu akan cuti untuk hari ini" jawab ibu arin lagi.
"Ayo kita ke Southland, ibu dengar di sana ada wahana baru, ayo kita coba dan bersenang-senang seharian" ajak ibu arin lagi penuh semangat. Tak sabar ingin segera menghabiskan waktu bersama putri nya itu.
"Sial waktu tidur ku yang berharga, haruskah ku habiskan untuk pergi ke taman bermain yang berisik itu?" batin arin.
Arin merasa tidak bertenaga saat ini tetapi memang sudah lama ia dan ibu nya tidak menghabiskan waktu bersama. Jadi ia hanya mengiyakan dan segera bergegas untuk bersiap.
...
Di sini lah narin dan nyonya karin berdiri sekarang, mengantri tiket untuk bisa menerobos masuk ke dalam wahana di southland.
Cuaca yang lebih hangat dari biasanya seolah memberi dukungan pada mereka hari ini, padahal sebentar lagi musim dingin. Terlihat dedaunan yang berguguran di sana, sangat indah. Ibu arin segera memposisikan arin di sana dengan background dedaunan yang berjatuhan itu dan...
Cekrek
Nyonya karin langsung saja mendapat dokumentasi putri nya yang tampil cantik hari ini. Yah benar sih kapan memang nya Arin tidak cantik, sekarang pun sama.
Arin memakai sweater putih yang melekat dan sangat pas di tubuhnya sehingga semakin memperlihatkan bentuk tubuh nya yang bagai jam pasir itu. Tak lupa di padukan dengan celana jeans pendek berwarna biru muda itu, sehingga menciptakan tampilan yang sederhana namun sangat pas di tubuh arin.
"Astaga, apa yang ibu lakukan? kenapa memotret tiba-tiba" tanya arin tidak terima.
Ia hanya melakukan yang di suruh oleh ibu nya untuk berdiri di antara dedaunan yang gugur itu, tetapi tiba-tiba mengarah kan kamera dan malah memotret nya. Setidaknya beri aba-aba dulu dong jika ingin memotret.
Tak jauh dari mereka ada stan yang menjajakan beberapa bando dan aksesoris yang berbentuk telinga kelinci dan hewan lain nya. Oh di situ ada juga kacamata unik yang bagian hidung nya di buat seperti belalai gajah. Menarik!
Ibu arin langsung dengan tepat memilih bando coklat muda yang menyerupai telinga beruang itu, segera memasang kan nya kepada putri nya yang baru saja tiba di stan itu menyusul ibu nya. Ibu nya memandangi arin, melihat kecocokan arin dengan bando tersebut.
Usai membayar bando coklat muda itu, lagi dan lagi ibu arin memotret putri nya sebanyak mungkin. Dari Arin yang berpose, berjalan, tertawa hingga merengek pun ia abadikan semua nya dalam memori nya.
Arin yang awal nya kaku, perlahan-lahan menjadi kegirangan menikmati suasana usai melewati beberapa wahana. Hingga senyuman yang benar-benar cerah sudah terlukis di wajah nya.
"Sangat pas untuk di abadikan"
Jepret
Lagi dan lagi ibu arin mengabadikan semua nya. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang, perut yang semakin keroncongan yang meminta segera diberi asupan, menghentikan aksi mereka untuk bermain ke wahana berikut nya.
Foodcourt yang ramai pengunjung bagai di serbu tanpa henti, wajar saja ini adalah jam makan siang. Pengunjung yang kelelahan tentu saja langsung mencari tempat istirahat sekaligus makanan berat untuk menemani nya.
Arin dan ibu nya mengambil posisi di luar foodcourt agar bisa menikmati makanan sembari memandangi beberapa wahana yang terlihat. Sebenarnya memang tidak ada tempat yang tersisa jika menginginkan posisi indoor.
Sementara itu di sudut dalam ruangan terlihat chan, lagi lagi pikir nya.
Lagi-lagi arin berada di sekitar nya, benat-benar kebetulan. Tetapi kali ini ia hanya memandangi arin dari sudut karena jika ibu nya tahu sudah pasti ibu nya akan mendatangi arin seperti waktu itu dan membuat arin tidak nyaman. Ditambah lagi sekarang ini ia sedang menemani ibu nya untuk bertemu teman lama, dan juga putri dari teman ibu nya itu yang bersekolah di sekolah elit kawasan utara.
"Seperti nya wanita yang di sebelah nya itu adalah ibu nya. Sangat mirip, seperti melihat arin versi tua nya" pikir chan dalam hati yang membuat nya tersenyum.
Arin yang tampil kasual dan apa itu bando telinga beruang itu sangat cocok dengan nya. Tampilan sederhana pun tetap cantik, pikir chan lagi. Lagi dan lagi ia hanya bisa terpesona dan berdecak kagum dari sudut ruangan.
Ibu chan yang menyadari itu langsung saja peka terhadap situasi dan beranggapan saja bahwa chan sedang kasmaran. Usai menyelesaikan makanan mereka, mereka berempat langsung membayar dan segera pergi ke pusat perbelanjaan untuk shopping mingguan.
...
"Bu sepertinya hari ini kita menghabiskan terlalu banyak uang, apa kita tidak pulang saja dan makan siang di rumah" ucap arin pada ibu nya yang masih memiliki kesempatan untuk segera meninggalkan foodcourt itu.
Ibu arin hanya mengisyaratkan untuk tetap duduk, dan tak lama pelayan segera mengantar kan menu pilihan mereka.
"Nak berhenti lah bekerja" Ucap ibu arin tiba-tiba sambil mencocol onion ring nya ke dalam tuna mayo itu.
"Kau masih terlalu muda untuk memikir kan soal keuangan, fokus saja belajar ya, biar ibu saja yang bekerja"
"Ibu lihat akhir-akhir ini kau belajar dengan sangat baik, apa kau ingin mengikuti les tambahan juga? Daftar lah masih belum terlambat jika mendaftar sekarang." Entah mengapa bukan nya malah senang, arin justru kesal dengan tanggapan ibu nya itu.
Bagaimana bisa ia membiarkan ibu nya bekerja lebih keras lagi sebagai seorang wanita penghibur.
Bagaimana bisa ia memakai uang hasil pekerjaan itu untuk kebutuhan harian nya, rasa nya benar-benar kotor dan hina.
"Kalau begitu, apa ibu bisa berhenti dari pekerjaan itu? Dan menghidupi kita berdua dengan uang dari hasil pekerjaan yang lebih baik?" ucap arin sedikit lantang.
Sudah lah, nafsu makan nya sudah hilang. Rasa hidangan ini benar-benar sangat hambar sekarang.
"Baiklah ibu akan berhenti" jawab ibu arin membuat arin terdiam tidak menyangka bahwa ibu nya akan berhenti dari pekerjaan kotor yang sudah lama di tekuni nya itu.
Semudah itu??