
"Sementara kau...."
Cha menghentikan ucapannya, dan langsung menunduk lirih. Seolah ia tak membiarkan leo mengintip matanya yang sudah berlinang air mata itu.
"Aku punya tujuan untuk ayah ku dan keluarganya yang berlagak harmonis itu, karena itu ku mohon jangan buat aku goyah dengan setiap sikap mu yang penuh perhatian itu" ucap cha lagi yang kini menatap leo dengan tatapan sendu.
"Kau pasti akan meninggalkan ku jika nanti sudah bosan atau ternyata diriku yang kau lihat ini tak sesuai dengan mu seiiring berjalannya waktu"
"Singkatnya begini..." ucap cha lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan pembicaraannya.
"Kau dan aku berbeda untuk banyak hal, tak ada gunanya untuk berhubungan dengan gadis seperti ku" ucap cha akhirnya.
"Dan lagi, gadis ceria, murah senyum dan percaya diri yang kau lihat ini adalah palsu." sambung cha lagi.
"Aku hanyalah gadis menyedihkan yang tumbuh di keluarga yang kacau"
Betapa terkejutnya cha saat ternyata air mata leo telah mengalir deras untuk saat ini. Astaga leo menangis?
"Loh kau menangis?" tanya cha terkejut namun tertawa sedikit.
Leo mengangguk mengiyakan pertanyaan cha. Benar saja, leo tak menyangka gadis yang disukainya sudah menjalani kehidupan seberat itu. Dan memang betul bahwa gudang di tempat leo lebih besar dari kamar cha ini.
Leo turut bersedih akan hal itu, dan berjanji dalam hatinya akan memperlakukan cha dengan lebih baik.
"Cha tak masalah apa yang sudah kau lalui" ucap leo menatap cha.
"Dan apa pun itu tujuan mu, aku akan selalu mendukung mu" tambah leo.
Kini mereka bertatapan untuk waktu yang lama. Berkutat dalam pikirannya masing-masing, dan melemparkannya senyum sendunya.
"Sekalipun itu untuk tujuan yang salah?" tanya cha mencoba meyakinkan leo.
Mendapat pertanyaan itu leo langsung saja menganggukkan kepala tanpa sempat berpikir apa maksud 'tujuan yang salah' yang dikatakan oleh cha itu.
"Aku tak perduli entah kau hanya bermain-main dengan ku atau kau hanya kesepian hingga selalu memanggilku di saat seperti ini, tetapi cha yang pasti adalah aku menyukaimu" ucap leo menatap cha dalam-dalam.
"Dan apapun itu tujuan mu yang selalu kau pikirkan itu, aku juga akan selalu mendukung mu, karena itu jangan pernah sungkan untuk membicarakannya dengan ku lagi" tambah leo lagi yang diakhiri dengan senyumannya yang hangat.
Setiap perkataan yang dituturkan oleh leo semuanya adalah penghiburan bagi cha. Leo yang selama ini hanyalah pemuda kaya raya yang hanya dianggap sebatas permainan oleh cha, tak disangka malah menyatakan perasaannya di saat keraguan memenuhi cha.
"Karena itu, levicha ayo kita berkencan!" ajak leo pada cha dan memberikan senyuman terbaiknya.
Astaga leo teringat, fatal sekali bagaimana mungkin dia menembak seorang gadis tanpa bunga dan coklat.
Leo langsung berlari keluar rumah dan itu membuat cha kebingungan. Tanpa sadar ternyata leo tak memakai mantelnya, dan hanya keluar dengan kemeja dan jas sekolahnya.
Leo baru tersadar saat sudah merasa kedinginan berada di luar. Tentu saja leo menuju toko bunga terdekat, untung saja kawasan tempat tinggal cha berada di sekitaran mall yang merupakan pusat kota sehingga ada banyak toko pilihan yang menawarkan bunga di sini.
Oh dan lagi di sana ada coklat lucu yang pastinya akan disukai oleh gadis remaja yang lucu seperti cha.
Leo berharap dalam hatinya semoga saja kali ini cha benar-benar menerimanya, menerima dirinya untuk berkencan. Ia sudah sangat iri pada chan yang bisa mendapatkan hati arin. haha memang konyol.
...
Leo kembali ke rumah cha dan langsung memberikan coklat dan bunga itu pada cha.
Cha menerimanya dengan senang dan senyuman tulus. Kali ini pemikiran cha tentang leo telah berubah sedikit. Cha menjadi percaya bahwa leo memang menyukainya dengan tulus, jadi cha tak lagi akan mempermainkan leo dan langsung memberi kepastian saat ini.
Leo mengangguk cepat.
"Tetapi bagaimana ya..." ucap cha berpikir-pikir.
"Untuk saat ini aku tak ada keinginan untuk berkencan dulu karena kau tahu sendiri kan bagaimana kesibukan ku" ucap cha.
Ucapan cha itu membuat leo langsung patah hati seketika, hal itu bisa dinilai dari raut wajah leo yang terlihat kecewa.
"Tetapi sebagai gantinya, ayo kita berteman saja!" sambung cha yang meninggikan nadanya dengan ceria.
Hal itu lantas membuat leo keheranan sekaligus kecewa. Berteman? Bukankah yang dijalani mereka saat ini adalah pertemanan?
"Ah begini maksudku, bagaimana kalau kita berteman, ah bukan kita bisa bersahabat yang lebih dekat dari sekarang ini" ucap cha meluruskan perkataannya barusan.
"Kita bisa bermain bersama. Hanya berdua saja agar lebih dekat, bagaimana?" tanya cha kembali pada leo yang kini sudah semakin bersemi.
"Baiklah" jawab leo singkat namun tak dipungkiri bahwa terlihat ekspresi wajah senangnya.
Leo berpikir dalam hatinya, begini saja tak masalah. Dekat dengan cha tanpa status hubungan kencan, yang penting ia bisa tetap berada di dekat cha. Karena saat ini bagi leo itu sudah lebih dari cukup, asalkan cha tak menjauh lagi darinya.
Mulai saat ini leo akan selalu memperlakukan cha dengan baik dan tak akan mengecewakan cha.
"Kalau begitu aku boleh memberimu hadiah?" tanya leo pada cha.
"Hadiah apa?" tanya cha kembali.
"Yah hanya hadiah jika aku ingin memberimu hadiah" jawab leo.
"Dan jika aku ingin bertemu dengan mu, apa boleh aku langsung menemui mu?" tanya leo lagi.
Pertanyaan kedua membuat cha mengerti dan langsung mengiyakan saja semua pertanyaan leo.
"Ya boleh lakukanlah sesuka mu," ucap cha.
Cha mulai membuka hatinya untuk membiarkan leo menyiramnya dengan setiap kehangatan leo. Tetapi tetap saja cha masih memberi batasan pada leo karena bukan tak mungkin suatu saat nanti tuan muda itu akan merasa bosan padanya.
Dan jika pada saat itu tiba, cha tidak akan terjatuh terlalu jauh dan masih bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
......................
10 tahun kemudian....
"Apakah 10 tahun ini tak cukup untuk mu untuk menjadikan ku sebagai kekasihmu?"
"Butuh berapa lama lagi yang harus kutunggu untuk momen itu levicha?"
"Aku benar-benar suka pada mu, ah bukan kini aku mencintai mu dan semakin serakah karena menginginkan hati mu seutuhnya"
"Aku cemburu pada setiap orang yang menaruh hati padamu"
Perkataan leo itu tak digubris sama sekali oleh cha, dan cha hanya melanjutkan kegiatannya mengganti pakaian dan membersihkan diri usai bekerja.
Kini cha bekerja di sebuah sekolah SMA swasta sebagai seorang guru etika dasar atau guru konsultasi seputar permasalahan siswa.