BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Konsultasi cinta (2)



Tak mau kalah jadi leo malah memutarbalikkan lagi pertanyaan pada luke.


"Oh jadi jika kak claudine begitu, berarti kakak yang pergi ke italia itu pasti wangi" ucap leo mengalihkan pembicaraan.


"Sudah begitu pasti suaranya lembut dan suka berdiskusi tentang hal yang berbobot, tidak banyak bicara, tenang dan yang pasti tak mau menyentuh laki-laki terlebih dahulu"


degh!


Tiba-tiba debaran jantung luke terasa semakin kencang saat leo mendeskripsikan dengan tepat tentang yiren, mantan kekasihnya itu. Huh padahal luke tak mau lagi membicarakan tentang gadis itu karena benar-benar harus move on. Sudah berapa lama sejak perginya yiren ke Italia.


Karena nilainya yang selalu bertahan pada peringkat pertama dan juga yiren memang gadis yang pandai, sehingga yiren bisa menempuh pendidikan gratis di sana. Tetapi tak luke sangka juga bahwa usai tamat kuliah pun yiren masih memilih untuk tetapi tinggal di sana.


Ingin rasanya luke pergi ke italia menyusul yiren dan mengajaknya membangun hubungan lagi. Tetapi sudah pasti ibunya itu akan menolak itu mentah-mentah. Karena salah satu penyebab luke dan yiren putus juga adalah ulah ibunya.


Ibunya yang memberi sejumlah uang yang cukup besar pada yiren untuk menjauhi luke. Karena luke akan dijodohkan dengan claudine. Yiren yang merasa harga dirinya direndahkan langsung saja menolak uang itu dan juga memutuskan luke usai pertemuannya dengan ibu luke.


"Yah kau tak salah, begitulah yiren" ucap luke dengan nada sendu, tersirat nada kesedihan dalam perkataannya itu dan membuat leo menjadi semakin penasaran dengan sosok si yiren itu, yang membuat kakak pertamanya ini tak kunjung move on.


"Kalau begitu kak, bagaimana kau mendapatkan kak yiren saat itu?" tanya leo penasaran.


"Terlalu banyak yang untuk dibicarakan satu persatu, lain kali saja ya" balas luke yang tak ingin menjawab.


"Kau sendiri, gadis seperti apa yang kau dekati sekarang?" tanya luke berganti topik.


Akhirnya leo pun menjelaskan tentang cha pada luke. Tentang bagaimana sikap cha yang berubah-ubah semaunya dan juga tentang masalah keluarga cha yang membuat cha seperti orang penuh dendam.


Luke hanya mendengarkan saja tanpa memberikan penilaian sepihak saja yang menyudutkan cha. Tetapi luke justru berkata hal yang tak cukup aneh bagi leo.


"Yah kalau sudah begitu, kau jauhi saja jika sudah berada di posisi yang sama seperti ku kau akan menyadarinya" ucap luke pada akhirnya memberi nasihat yang tak jelas itu pada leo.


Tentu saja leo yang menerima nasihat itu tak mengerti dan merasa bahwa percuma saja ia berkonsultasi dengan luke saat ini. Karena sudah pasti ia tak mendapat jawaban yang sesuai dengan perkiraannya.


"Tetapi aku benar-benar tak menyangka bahwa di usia segini kau hanya memiliki dua mantan saja luke, atau bahkan kau belum pernah berciuman juga?" tanya leo menduga-duga yang ternyata dugaan nya itu benar karena balasan luke yang agak sedikit malu.


Karena terlalu malu akhirnya luke membalas perkataan leo dengan sarkas.


"Kau pikir aku lelaki apa? Mana bisa aku mencium gadis sembarangan, kau pikir aku seperti liam" jawab leo dengan cepat. Karena sedikit tak terima mendapat tatapan iseng dari leo itu.


"Sudahlah kau keluar saja, tanyakan saja pada liam tentang gadis mu itu" usir luke dengan cepat sambil menepuk-nepuk badan leo untuk segera beranjak dari tempat tidur nya itu.


....


"Liam berapa mantan mu?" tanya leo pada kakak keduanya itu yang masih berusia 22 tahun.


Melihat leo yang semakin kedinginan, bukannya menutup jendelanya liam malah melemparkan kotak kecil yang berisi rokok pada leo. Mengisyaratkan pada leo untuk mencobanya agar tak kedinginan.


Leo langsung melempar balik rokok itu, sampai sekarang pun leo tak pernah dan tak akan pernah untuk mencobanya. Lagi pula ibunya sangat menentang hal itu, karena merokok bikin mulut bau kata ibunya.


Melihat reaksi leo, liam hanya bergumam.


"Cih, luke kedua"


"Apa peduli mu tentang mantan ku?" tanya liam pada leo yang masih setia menyesap rokok di dekat jendela.


"Tidak ada aku hanya penasaran apa yang kau lakukan untuk bisa mendapatkan kekasih-kekasih mu sebelumnya" jelas leo singkat.


Liam bingung, tak tahu harus memulai dari mana karena liam memilki banyak mantan dan juga kekasih saat ini. Jadi ia tak tahu harus menceritakan yang mana, karena bagi liam cukup mudah untuk mendapatkan semua gadis itu. Justru terkadang gadis-gadis itulah yang menyodorkan diri terlebih dahulu.


"Mendapatkan yang mana dulu?" tanya liam usil dan menunjukkan kebolehannya itu dalam mendapatkan hati seorang gadis.


Liam langsung saja mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri yang berisi gadis-gadis yang dikencaninya.


"Ini Bella, kau tahu aku tak berlaku apa-apa saat di bar, tetapi ia malah langsung mengajak ku keluar dan mencium ku dengan sangat ....sshh" ucap liam sembari menunjukkan foto gadis berambut merah itu pada leo.


Membuat leo lagi-lagi teringat dengan ciumannya dan cha. Yang mana cha juga lah yang memulai ciuman terlebih dahulu. Apa berarti itu hal yang normal-normal saja.


"Lalu bagaimana kelanjutan hubungan kalian?" tanya leo lagi.


"Tak ada yang berlanjut, hanya seminggu saja" jelas liam enteng.


Astaga leo benar-benar tak habis pikir dengan kakak keduanya ini. Bagaimana bisa hanya berkencan selama sepekan saja padahal sudah berciuman. Entah leo yang masih terlalu lugu atau justru liam lah yang sudah terlalu kelewat batas. Yang pasti liam benar-benar seperti bajingan dan sangat tidak direkomendasikan pada gadis yang menginginkan hubungan serius.


"Yasudah lah liam, aku tak berniat mengobrol lagi dengan mu" ucap leo ingin menyudahi pembicaraan itu dengan liam.


Liam sedikit kecewa padahal ia masih ingin menunjukkan gadis-gadis lain pada adik teladan nya itu.


"Kau sendiri apa sudah pernah berciuman? Di usia mu ini sudah banyak yang melakukan nya tahu" ucap liam yang kembali menyesap rokok yang barusan ditinggalkannya tadi untuk menunjukkan foto bella.


Duh lagi-lagi leo malah salah tingkah dan ingin segera menghilang dari pandangan liam. Sudah pasti liam akan menjahilinya jika tahu ternyata ia sudah sejauh itu dengan gadis yang disukainya.


Dari reaksi leo, liam langsung saja berhasil menebak.


"Wah sudah pernah ya, hebat juga kau. Siapa yang memulai?" tanya liam lagi.


"Dia" ucap leo yang membuat liam membelalakkan matanya.