BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Mengingat kembali (4)



Ain ingin segera pergi saja usai menitipkan sapu tangan itu pada pelayan di rumah itu. Tetapi pelayan itu malah mengatakan bahwa sang pemilik benda itu ingin arin langsung yang memberikan padanya, hingga arin mengurungkan niatnya untuk segera pergi.


Jadi saat ini ia sedang menunggu di ruang tamu untuk menunggu sang pemilik sapu tangan yang telah membantu ibu.


Tak lama kemudian suara yang terdengar familiar dan juga... trauma, itu membuat arin menoleh mencari sumber suara, yang tak lain dan tak bukan adalah suaranya jake.


Gila! Apa ini berarti ia mendatangi kandang macan?


"Sudah sampai sayang?" ujar jake pada arin yang kini menjadi panik.


Berbeda saat di sekolah ia bisa dengan mudah tak meladeni jake, karena ada banyak orang di sana dan itu membuat jake tak bisa melakukan apa-apa. Tetapi di sini, ini adalah kediaman jake, sudah pasti ia tak bisa pergi sembarangan karena sudah pasti jake akan menahannya.


Arin berpikir dalam hati, apa ini anak baik yang dikatakan ibunya?


Baik angela atau pun ibunya sendiri sepertinya sudah terbuai oleh drama kebaikan yang diciptakan oleh jake, sehingga mereka menganggap bedebah seperti jake ini adalah lelaki yang baik.


Arin segera memberikan paper bag itu pada jake, karena jake tak kunjung menerima nya. Jadi, arin membuka telapak tangan jake dan menyangkutkan paper bag itu di situ. Setelah melakukan itu arin langsung berjalan ke arah pintu keluar.


"Sudah ingin pulang? Main dulu dong sebentar" ucap jake yang sama sekali tak menghentikan langkah arin.


"Kalau kau tak menurut aku bisa membuat hidup mu lebih sengsara dari ini" tambah jake lagi yang membuat langkah arin terhenti.


"Nah begitu dong" ujar jake lagi.


Jake menghampiri arin yang kini sudah lebih dekat dengan posisi pintu keluar. Ia langsung menarik arin ke dalam dekapannya yang membuat arin berusaha melepaskan itu.


Padahal saat itu ada seorang pelayan yang lewat dan menyaksikan itu, tetapi ia malah memilih memutar arah dan berlaku seolah tak melihat kejadian itu.


Karena arin tak juga diam di dalam dekapannya, jake langsung saja menekan tangan arin dengan kuat, hingga arin meringis kesakitan.


"Kalau tak mau aku berlaku kasar, jadilah gadis penurut" ucap jake yang masih saja mencengkram erat pergelangan tangan arin.


Hal itu membuat arin menjadi tenang dari sebelumnya. Kini mereka berdua tak memiliki jarak sama sekali, karena jake yang mendekapnya erat seolah tak ingin melepaskannya.


"Kenapa kau seperti ini? Lepaskan lah" ucap arin akhirnya yang sudah menahan suara cukup lama. Karena sungguh posisi nya saat ini sangat tak nyaman baginya.


"Ayo berkencan dengan ku" ucap jake, yang tak ada niat untuk melepaskan dekapannya itu.


"Lepaskan dulu, lagi pula bukannya kau sudah berkencan dengan jela" ucap arin yang berusaha lagi melepaskan diri dari jake itu.


Kini jake semakin mendekat kan wajahnya, seolah tak ingin lepas dari posisinya saat ini.


Mendengar itu, entah mendapat kekuatan dari mana arin, hingga ia bisa melepaskan diri dari jake, dan langsung menampar jake dengan sangat keras. Tak hanya itu, ia juga menendang tulang kering jake, yang segera membuat jake memegangi kaki nya itu karena kesakitan.


"KAU BENAR-BENAR TAK PUNYA MALU YA, BERENGSEK!" ucap arin yang sudah di penuhi emosi, saat mendengar langsung kesan jake terhadap angela.


Padahal angela menyukai jake sebesar itu, dan selalu menceritakan tentang hal baik dari jake. Tetapi jake malah menganggap angela seperti mainan yang tak berguna. Padahal juga angela sampai membenci dirinya, hanya demi si berengsek jake yang tak bisa dibenci oleh angela. Tetapi mengapa? Mengapa di jake sialan ini mengatakan hal tersebut begitu ringannya, tanpa rasa bersalah.


"Enyahlah kau sialan" ujar arin lagi dan segera pergi meninggalkan jake yang masih memegangi kaki nya itu.


"Angela yang menyebarkan kabar tentang ibu mu itu, asal kau tahu saja" ucap jake pada akhirnya untuk menahan langkah arin.


Tetapi itu tak cukup untuk membuat arin terhenti. Karena ...


Arin sudah tahu, bahwa angela lah yang menyebarluaskan berita itu. Tetapi ia benar-benar tak bisa membenci angela. Sama seperti angela yang tak bisa membenci jake. Karena mau bagaimana pun angela adalah salah seorang yang telah mewarnai hari-hari arin.


......................


Keesokan harinya jake seolah tak menyerah untuk mengajak arin berkencan dengannya. Kini ia bahkan terang-terangan merangkul arin di depan umum.


Rangkulan itu membuat beberapa lalat yang mendekati arin dengan maksud langsung menjauh saat jake si lalat besar yang tak sadar diri itu mendekat.


"Kau lihat kan? Ini yang akan terjadi jika kau bersama ku, jangankan memandang mu rendah, menatap mu saja mereka tak berani" ucap jake dengan percaya diri.


"Lagi pula sebentar lagi aku akan lulus, tak bisakah mengencani ku sampai kelulusan ku saja?" tanya jake.


Tentu saja jake ingin melakukan itu agar ia bisa memamerkan hal itu pada teman-temannya yang entah dari mana saja. Memamerkan bahwa ia memiliki kekasih yang sangat cantik seperti arin. Karena memang jake dikenal hanya megencani gadis-gadis yang sangat cantik saja.


Jika gadis itu populer namun tidak terlalu cantik, jake akan langsung menolaknya, karena bagi jake wajah adalah nomor satu.


....


Kini arin bahkan tak pergi makan siang lagi ke cafetaria sekolah dan hanya menelan biskuit yang dibelinya dari supermarket, di dalam kelas. Karena bedebah jake itu terus saja menunjukkan sikap berengsek nya yang membuat arin semakin merinding. Takut, jika kejadian itu terulang lagi.


Semakin hari jake semakin menyeramkan saja, karena beberapa kali arin mendapati jake sedang mengikuti nya di gang kecil yang gelap itu. Hal itu tentu saja membuat arin terkejut setengah mati, pasalnya orang waras mana yang berdiri di lorong gang segelap dan sesepi itu saat waktu bahkan sudah semakin larut.


Tak lagi mengajak arin berbicara, kini jake hanya menatap nya dengan sangat tajam, baik dari kejauhan, atau pun saat tak sengaja bertemu. Tatapan yang diberikan jake itu bagai ingin menerkam arin dan itu membuat arin menjadi semakin ketakutan dengan jake. Tatapan-tatapan yang terlihat seperti memiliki niat buruk itu, seolah menelanjangi keberanian arin untuk terus menolaknya.


Yang biasanya ia hanya bersikap cuek saja pada jake, kini ia tak bisa sesantai itu, karena tak ada yang tahu hal gila apalagi yang bisa dilakukan bedebah itu padanya.