BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Levicha (1)



Ruangan bertirai orange itu kini di huni oleh keempat pelajar yang sedang berteduh dari hantaman hujan. Oh tidak salah satu dari mereka sudah terkena hujan lebih dahulu.


Usai sampai di apartemen levicha, kondisi arin dan chan yang basah kuyub membuat alfin dan cha sangat terkejut. Apa guna nya payung jumbo bak payung raja mesir itu?


 Mengapa mereka tetap basah kuyub?


Apa mereka diterjang badai musim dingin, yah memang cuaca sudah semakin dingin karena sebentar lagi musim salju yang diduga tidak mustahil jika muncul badai secara tiba-tiba.


Tetapi setelah memastikan sekali lagi kondisi arin, cha langsung khawatir. Bagaimana tidak, mata nya yang sudah sangat sembab bak disengat tawon itu dan tambah lagi rambut nya yang sudah bergumpal karena diguyur hujan.


Cha langsung saja menarik arin untuk membersihkan diri di kamar mandi. Cha memberikan setelan piyama yang cukup hangat untuk dipakai oleh arin. Tak lupa juga cha meminjamkan pakaian dalam nya, karena sudah pasti milik arin juga basah kuyub.


Chan terdiam, tidak tahu mengapa arin yang mereka tinggal saat berburu kuliner itu terlihat sangat senang tiba-tiba menjadi seperti orang yang terkena musibah besar. Dalam waktu sesingkat itu, apa yang terjadi?


Usai membersihkan diri dan bertukar pakaian, arin langsung saja duduk bergabung dengan mereka. Wajah nya yang tanpa riasan terlihat sangat polos, apalagi mata sembab nya yang sekarang sudah tidak terlalu bengkak lagi, membuat tampilannya benar-benar seperti gadis kecil.


Kamar di gedung yang disewa cha ini memang didesain serbaguna, karena memang apartment ini adalah apartemen studio. Arin sempat berpikir bahwa gadis seperti fashionable seperti cha setidaknya tinggal di gedung the buttersouth.


Gedung itu merupakan salah satu apartemen yang berada di kawasan elit di kota ini. Tetapi ternyata tidak demikian.


Setelah mereka terdiam cukup lama sejak arin bergabung dengan mereka akhirnya cha membuka suara.


"Arin aku tidak tahu apa masalah mu sekarang, tetapi minum dulu dong sialan!" ucap cha untuk mencairkan suasana dan meneguk coklat panas yang dibuatnya sewaktu arin membersihkan diri tadi.


"Kalian juga" tambah cha untuk kepada alfin dan chan untuk segera meneguk coklat panas itu.


Mereka bertiga langsung saja meneguk coklat panas yang kental dan manis itu. Tetapi bagi arin saat ini coklat panas manis itu terasa sangat hambar.


Usai menyeruput coklat panas sachet murahan itu mereka kembali terdiam lagi, tetapi tentu saja cha yang bisa menghidupkan suasana ini akan bertindak.


"Bagaimana, bagaimana? Lezat bukan?" Tanya cha kepada mereka yang berada di situasi canggung itu.


"Omong-omong kedua tuan muda kuharap kalian tidak alergi ya, soalnya itu coklat sachet murah yang kudapat sebagai hadiah di grosir bulanan" ucap cha yang kali ini ditujukan pada chan dan alfin. Mendengar itu alfin yang semula canggung seketika tersenyum mendengar ucapan cha yang sedikit berlebihan.


Meskipun hanya coklat murahan, tentu saja tidak akan separah itu, pikir alfino.


"Kalian tahu mengapa aku ditransfer dari sekolah lama?" ucap cha tiba-tiba padahal tidak ada yang menyinggung ke arah sana.


"Setelah aku dikeluarkan dari sekolah, ibu ku juga harus berhenti berjualan kimbab. Padahal hanya itu satu-satunya mata pencaharian ibu, sumber keuangan kami"


Tunggu!


Mendengar ucapan cha yang tiba-tiba membeberkan masa lalu nya membuat arin berpikir. Ternyata seorang cha juga memiliki hidup yang tak juga mulus. Ia bilang dikeluarkan dari sekolah, ibu nya berjualan kimbab dan bahkan ia hanya tinggal di apartemen studio sepetak ini saja.


Levicha pov


Sejak ayah dan ibu bercerai, di usia ku yang masih duduk di taman kanak-kanak, aku tak pernah lagi bertemu ayah ku. Hubungan ayah dan ibu yang semula harmonis, bagai tak diberi peringatan kepada ku, tiba-tiba mereka bercerai.


Aku ingat jelas suasana malam itu, ayah memukuli ibu karena kesal. Sudah berapa lama memang ayah yang tiba-tiba berubah itu setiap pulang dari kantor nya langsung melampiaskan emosi nya pada ibu. Padahal ibu melayaninya dengan baik usai pulang dari pekerjaan nya.


Pernah juga saat ibu sedang mengajari ku menghafal nama hewan dalam bahasa inggris, ayah yang baru pulang langsung menarik ibu ke dalam kamar. Menutup pintu, sebelum pintu benar-benar tertutup aku melihat raut wajah ibu yang seolah tak mengizinkan ku untuk mengikuti nya. Seolah tak mengizinkan ku untuk melihatnya, dan pintu tertutup.


Tetapi serapat apapun pintu itu ditutup tetap saja telinga ku ini mendengar kejadian itu. Kejadian dimana hari ibu dan ayah berpisah. Masih teringat jelas oleh ku pecahan bingkai foto yang dipecahkan ayah dengan sengaja untuk melukai ibu.


Bunyi dari setiap pukulan-pukulan ayah terhadap ibu juga sangat terdengar jelas oleh ku dan juga suara teriakan ibu yang terdengar kesakitan. Ibu yang sudah tidak tahan langsung mengeluarkan kata pisah dari mulutnya yang sudah terluka di sudut bibir nya.


"Aku tidak tahan lagi, ceraikan saja aku. Kenapa tega nya melakukan ini?" ucap ibu pada ayah yang tentu saja tidak dihiraukan oleh ayah.


Setelah beberapa lama menyiksa ibu, ayah langsung pergi keluar kamar. Dibuka nya pintu yang semula tertutup itu lalu meninggalkan kami berdua di dalam rumah. Aku yang masih saja menghafal nama hewan itu dilirik sekilas oleh ayah, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan kami.


Aku berpikir, saat ia melihat ku, melihatku putrinya ini, apa tidak ada sedikit rasa penyesalan nya?


Apa tidak ada sedikit saja rasa perjuangan nya untuk mempertahankan rumah tangga yang harmonis bersama ibu demi aku?


Tetapi saat itu juga aku langsung mendapatkan jawabannya. Ayah pergi, berarti memang benar-benar tidak ada.


Setelah ayah pergi, ibu yang sudah babak belur itu keluar dari kamar sambil tersenyum. Padahal aku tahu bahwa dalam hati kecil ibu, ia sedang menangis. Tetapi ibu benar-benar wanita kuat, yang tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di depan ku.


Setelah itu ibu langsung saja mengemasi barang-barang kami seadanya dan mengajak ku untuk keluar dari neraka itu. Dan benar saja seminggu setelah kami keluar dari sana ibu dan ayah bercerai.


Kami tinggal di kamar kost yang terbilang cukup kecil dan aku berhenti dari taman kanak-kanak ku yang lama. Untung saja keuangan kami yang semula terpuruk perlahan menjadi baik karena masakan ibu yang cukup lezat hingga membuat dagangannya selalu habis tak bersisa.


Pagi hingga ke siang ibu berjualan, sementara aku belajar mandiri di rumah. Sebelum pergi berjualan ibu sudah terlebih dahulu menyiapkan soal latihan untuk menemani ku selama ibu pergi. Lalu saat malam ibu menyisihkan waktu untuk mengajari ku tentang pelajaran berhitung, bahasa inggris dan juga memeriksa jawaban soal yang tadi pagi diberikannya.