BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Kecupan singkat



"Begini kak, ada kepentingan apa di sini? Maaf ya teman kami berbicara yang agak kasar" ucap arin untuk mewakili permintaan maaf dari perkataan kasar cha.


Tentu saja bagi liam itu tak masalah, dan liam malah salah fokus dengan kecantikan arin. Dan tak bisa memalingkan pandangannya dari arin. Hal itu membuat chan melihatnya dan beranggapan bahwa sepertinya liam terpesona dengan arin. Yah siapa sih yang tidak terpesona dengan kecantikan arin.


Apalagi akhir-akhir ini arin sudah semakin banyak tersenyum itu menambah kecantikannya. Arin sudah tak sejutek dulu lagi memang, dan kini sudah berlaku lebih lembut.


Percakapan mereka itu teralihkan saat kedatangan leo yang sudah hampir setengah jam menghilang. Leo langsung saja menyapa liam yang sudah tiba.


"Hai sudah lama menunggu?" ucap liam sembari melemparkan sapaan melalui tangannya yang terangkat.


Menimbulkan kebingungan bagi mereka berlima, cha, arin, tasanee, mali dan juga alfin. Chan langsung membisikan pada arin, bahwa itu adalah kakak leo, yang membuat arin terkejut. Sudahlah kalau begini apakah cha dalam masalah? Perkataan cha yang tadi soalnya sangat tidak sopan untuk kakak laki-laki seorang teman.


"Leo dia beneran kakak mu?" tanya mereka berlima serentak dan penasaran.


Yah setelah diperhatikan lagi ternyata laki-laki dewasa itu mirip dengan leo. Tersadar sudah melakukan kesalahan akhirnya cha pun segera berdiri dan menunjukkan rasa bersalahnya terhadap liam karena sudah berbicara dengan kasar.


"Bagaimana ya, kakak leo aku benar-benar minta maaf atas perkataanku barusan aku kira kakak hanyalah orang aneh yang akan mengganggu" ucap cha dengan nada yang lembut dan senyuman yang manis.


Liam yang melihat itu langsung saja mendesis kecil dan mengisyaratkan cha untuk duduk, dan kali ini mereka ber-delapan duduk bersama di situ.


Jika sudah begini, cha menjadi tampak menggemaskan di mata liam. Terlebih lagi tubuh cha yang paling rendah diantara mereka ber-delapan membuat cha terkesan mungil saat berdiri bersamaan dengan arin.


Cha bagaikan kucing mungil yang galak dan tak suka disentuh sembarangan. Huh ternyata selera leo boleh juga pikir liam.


"Hei cha tempramen mu itu apa tak bisa di rem sedikit?" tanya liam untuk memulai basa-basi di antara mereka.


Cha kesal, namun ia tak menunjukkan kekesalannya. Justru ia malah langsung memberikan senyuman terbaiknya meskipun terkesan terpaksa.


"Maaf ya kak liam, itu karena aku sedang tak enak badan. Biasanya aku tak seperti itu kok" jelas cha yang sudah jelas mengada-ada saja.


"Lagi pula siapa yang tak kesal jika ada orang asing menerobos tiba-tiba tanpa mengenalkan diri terlebih dahulu" sambung cha lagi yang kali ini berisi pembelaan diri.


Liam hanya terdiam, apa yang dikatakan Cha benar juga. Jadi liam hanya mematung sebentar melihat adiknya dan teman-teman adiknya itu melanjutkan kegiatan kerja kelompok mereka. Lalu liam hendak beranjak dari sana, dan mengajak leo untuk ikut serta.


Tetapi tentu saja leo yang beranjak itu menimbulkan kericuhan dari kelompok belajar itu, karena bagaimana bisa leo pergi begitu saja meninggalkan diskusi kelompok ini?


"Leo kau curang!" teriak asa dan mali bersamaan setelah melihat leo keluar terburu-buru bersama dengan liam.


Padahal sebenarnya leo bukan benar-benar ingin pergi, hanya saja leo hanya ingin mendengar bagaimana penilaian liam tentang cha. Ia tak sabar jika harus menunggu hingga usai kerja kelompok ini dan berbicara di rumah. Tetapi teman-temannya itu malah mengira leo akan meninggalkan kerja kelompok itu.


Tetapi sudahlah pikir leo, nanti ia akan kembali usai berbicara sebentar dengan liam. Tetapi hal itu justru membuat cha malah ikut bergabung dengan mereka berdua.


Di sinilah mereka bertiga sekarang, tepatnya pada gang kecil di sebelah cafe belajar itu. Menyadari keberadaan cha, liam langsung saja membungkam lagi kata-kata yang ingin dibicarakannya.


Astaga untung saja mereka berdua belum sempat berbicara, bagaimana jika cha sempat mendengar pembicaraan mereka. Tetapi omong-omong untuk apa cha sampai mengejarnya kemari ya.


"Hei leo kenapa pergi tiba-tiba? Kau mau melarikan diri lagi dari tugas kelompok? Dasar pemalas!" ucap cha dengan gestur layaknya memarahi leo.


Jleb


Entah mengapa rasanya sangat aneh dikatakan sebagai pemalas. Seumur hidup leo hingga hari ini, baru kali ini ada orang yang mengatakannya sebagai pemalas.


"Pergilah leo, kita bicarakan nanti saja, pacarmu sudah marah tuh" ucap liam dengan maksud iseng pada cha.


Liam segera meninggalkan mereka berdua. sebelum pergi liam membisikkan sesuatu pada arin leo.


"Pakaikan mantel mu pada gadis itu" bisik liam, lalu benar-benar pergi dari sana.


Leo adalah seorang yang tak tahan dengan cuaca dingin, tetapi demi cha ia langsung mengikuti saran kakak laki-lakinya itu dan melepas mantel nya lalu memberikannya pada cha. Karena cha yang keluar terburu-buru dan tak memakai mantelnya dan hanya berlindung dengan cardigan tipis saja.


Cha yang menerima perlakuan dari leo itu langsung saja merasa kesal, dan menginjak-injak salju dengan kuat.


"Ergh, kau dan kakak mu sama-sama menyebalkan tahu" ucap cha dan melepaskan kembali mantel itu.


"Aku tidak butuh!" tambah cha lagi dan langsung melemparkan mantel itu kembali kepada sang pemilik mantel.


"Awas kalau kau kabur lagi ya" tambah cha sekali lagi yang diselingi dengan gestur ancaman nya untuk leo.


Leo yang menerima ancaman itu, bukannya merasa takut, justru malah semakin gemas dengan tingkah levicha. Dan timbul niat leo untuk mengisengi cha yang sedang kesal itu.


Cha yang sudah berjalan lebih dulu, dapat dengan mudah disusul oleh langkah besar milik leo.


"Cha! Chayang, maksudku cha" panggil leo di sela-sela langkahnya.


"Chayang kau bisa terpeleset" tambah leo lagi bersamaan dengan senyuman isengnya yang tentu saja tak digubris oleh cha.


Cha yang sedang marah seperti ini dapat dengan mudah di usili oleh leo. Berbeda dengan cha yang jika tiba-tiba berlaku aneh hingga menyentuhnya lebih dulu, hal itu justru akan membuat leo mati beku.


"Chayang pelan-pelan" tambah leo lagi yang kini sudah berada di samping cha.


Padahal leo tak bermaksud untuk memegang tangan cha terlebih dahulu, tetapi tak sengaja leo malah memegang tangan cha erat-erat saat melihat cha hampir terpeleset.


Usai membeku sedikit dalam posisi penyelamatan itu, tersadar cha langsung saja mendorong leo ke arah belakang hingga membuat leo bersandar pada tembok gang sempit itu dan mengecup pipi leo singkat.