BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Belenggu



Sudah seminggu sejak di bentuk nya tim belajar. Sedikit demi sedikit arin mengalami peningkatan dalam pelajaran nya. Tak sia-sia usaha nya satu minggu ini, yang langsung bekerja sepulang sekolah dan melanjutkan belajar singkat di malam hari sebelum tidur. Dan juga tidak terlewatkan bagi arin pada pelajaran mandiri pada satu jam pertama sebelum kelas di mulai.


Chan sangat banyak membantu arin, arin mengakui nya. Catatan-catatan serta materi yang di ringkas oleh chan dari tempat les dapat dengan mudah di pahami oleh arin. Sampai arin berpikir untuk pergi les saja, toh belajar tidak sesulit yang dipikirkan nya kok.


Oh iya setelah gajian kali ini aku benar-benar akan mentraktir chan sesuai yang ku janjikan hari itu. Beberapa hari lagi aku akan menerima gaji, kalau sudah les nanti apakah aku tetap bisa membagi waktu untuk bekerja ya.


....


Chaiden POV


Benar saja sesuai dugaan tim belajar ini membuat ku semakin dekat dengan arin. Bahkan dari pesan ku yang tidak pernah di balas, kini sekarang dia bahkan mengirimi ku pesan terlebih dahulu, meskipun seputar pembelajaran tetapi sudah cukup untuk membuat ku senang.


Tak kusangka arin benar-benar berada di samping ku sekarang. Kini aku bisa menyaksikan nya dari dekat untuk waktu yang lama, tak jarang fokus ku semakin berantakan saat melihat nya. Wajah nya yang terlihat jika tertidur pulas itu benar-benar bagaikan malaikat.


Tak jarang juga aku semakin terbuai dengan aroma tubuh nya yang mengeluarkan aroma lembut seperti strawberry itu. Seperti sekarang ini aku benar-benar tidak fokus karena diri nya. Entah karena diri nya yang sibuk membolak-balik halaman buku itu sehingga menimbulkan suara berisik atau karena aroma buah yang menyeruak dari rambut nya yang setengah basah itu.


"Ah bisa gila aku"


Kulit nya yang lembut jika kami tidak sengaja bersentuhan saat berdiskusi benar-benar merangsang ku. Dan aku menyukai nya. Atau nada bicara nya yang lembut itu saat bertanya tentang kesulitan nya mengatasi soal, benar-benar memuaskan ku. Rasanya seperti aku benar-benar bisa menaklukkan keangkuhan gadis ini.


Cara nya menatap dengan mata nya yang seperti bola permen itu benar-benar menghipnotis ku. Bagaikan belenggu yang mengikat ku untuk terus melekat pada nya. Tak bisa lepas, karena kuakui rasa suka ku pada arin sudah kelewat batas. Benar-benar tidak bisa dihentikan.


Apa ku coba untuk menyatakan perasaan ku sekali lagi?


Ah jangan, itu hanya akan membuat arin merasa tidak nyaman.


Sesekali arin yang berdiri secara tiba-tiba tak sengaja memperlihatkan paha nya yang panjang dan berisi itu, tubuh nya yang bagaikan jam pasir itu benar-benar membuat ku tak tahan ingin mendekap nya di pelukan ku.


Astaga sadar lah chan, tak baik berfanta**si seperti pria mesum begitu.


Arin kau benar-benar sudah membuat belenggu yang kuat rupanya.


Chaiden POV end


......................


Hujan deras yang semakin tenang di tandai dengan perubahannya menjadi gemericik kecil. Hari ini seperti nya arin harus melewatkan jam pelajaran mandiri, karena tidak mungkin menerobos gemericik berjatuhan beramai-ramai ini.


Meskipun jarak gedung tempat arin tinggal dengan sekolah tidak terlalu jauh, seperti teman-teman yang lain nya. Hanya sekitar 3 kilometer saja seperti nya.


Baru 200 meter saja ia berjalan melangkah keluar gedung, rintik hujan yang tipis dan kecil tadi berubah menjadi hantaman gaduh yang menyakiti kulit. Sial jas hujan yang dikenakan arin hanya sampai batas lutut saja dan membuat sepatu nya semakin basah karena hujan.


Ia segera berlari untuk mencari tempat berteduh, namun usaha nya terhenti saat mobil mewah yang berwarna silver itu berhenti disebelah nya. Pintu terbuka dan muncul lah chan dari balik situ.


"Hei masuk lah kau bisa basah kuyub" ajak chan kepada arin yang tak mempunyai pilihan lain untuk menolak.


Arin yang sudah mulai kebasahan segera saja masuk tanpa pikir panjang, dan segera menutup pintu. Helaan nafas arin terdengar jelas saat ia berhasil menghindari hujan dengan menumpang di mobil chan.


"Terimakasih" ucap arin.


Chan hanya tersenyum dan tercipta suasana canggung, namun kali ini suasana itu hanya berlaku untuk chan, pasalnya arin yang sibuk untuk melepaskan jas hujan miliknya dan berusaha tidak bergerak agar air yang menempel pada nya tidak membasahi ruang mobil.


Sial lagi-lagi arin tak sadar sudah menarik jas hujan nya hingga rok nya menjadi semakin naik dan memperlihat kan paha nya lagi. Chan berusaha melihat ke arah lain, berusaha untuk tidak memikirkan hal yang aneh-aneh.


Rasanya sia-sia sudah mengganti pewangi ruangan untuk mobil lusa yang lalu, karena saat ini tidak tercium sedikit pun aroma itu. Ruangan ini sudah di penuhi oleh aroma stroberi khas arin.


Arin tak berbicara sepatah kata pun, ia hanya fokus untuk menjaga yang dijaga nya sedari tadi. Menjaga jas hujan juga menjaga sepatu nya basah itu agar tidak menciptakan lumpur pada lantai mobil. Akhirnya chan mendapat kan fokus baru.


Melihat sepatu milik arin yang kebasahan karena hujan, dengan sigap chan mengambil flat shoes milik ibunya dari bangku belakang. Memberi nya pada arin berharap muat di kaki nya. Arin yang awal nya sungkan, tetapi akhirnya menerima nya juga karena tidak ada pilihan lain dari pada memakai sepatu yang basah pikir nya.


Tepat sekali, sepatu itu sangat pas di kaki arin. Dan tepat sekali juga, chan jadi tahu ukuran arin. Double kill, pikirnya.


......................


Jam pulang sekolah pun tiba, arin segera pergi ke ruang penatu sekolah untuk mengambil sepatu nya yang di jemur nya tadi pagi.


Besok adalah hari gajian nya, waktu yang pas untuk mengajak chan pikirnya. Chan si jangkung itu sudah berbuat banyak padanya akhir-akhir ini, dan itu teramat sangat membantu nya. Hanya traktiran besok yang bisa di berikan arin pada chan untuk membalasnya.


Arin segera kembali ke kelas membenahi ransel nya. Namun ternyata ransel nya sudah di benahi lebih dulu oleh chan saat dirinya hendak mengambil sepatu itu. Chan yang sudah berdiri di depan pintu kelas sembari menenteng ransel milik arin.


"Hei, besok aku traktir janji, sisihkan waktu mu ya" jelas arin.


"Tetapi tolong jangan pamer kekayaan lagi ya, apapun yang aku traktir besok nikmati saja" ucap arin lagi sedikit rendah diri, takut jika apa yang di beri nya terlalu rendah untuk si kaya raya chan. Sudah terlalu banyak yang diterima nya dari chan, tetapi ia hanya traktiran besok kesempatan nya untuk membalas chan.


Sudahlah lebih baik aku bekerja saja, seperti nya memecahkan soal matematika yang tadi perlu waktu lama, pikir arin dan langsung bergegas ke tempat kerja nya, sehingga berpisah dengan chan tepat di depan gerbang sekolah.


"Sampai jumpa besok"