BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Kecewa



Cha memajukan langkahnya yang dibalas mundur oleh leo dengan maksud menjaga jarak. Yah jika semakin dekat bisa-bisa leo akan segera terbang saat itu juga. Tetapi tentu saja sejauh apapun leo mundur, langkah maju dari cha tetap lebih cepat dari pada leo.


Sehingga sekarang cha sudah semakin dekat dengan leo, cha langsung saja menangkap kedua wajah leo hingga tersisa hanya beberapa senti saja di antara mereka. Cha menatap leo dalam-dalam, wajah pucat leo dan mata sayunya itu kini semakin jelas terlihat.


Dengan kedua tangan mungilnya, cha semakin merasakan dengan jelas suhu leo yang panas itu. Sialnya leo malah mematung sekarang ini dan malah membayangkan ciuman mereka kemarin. Saat cha yang tiba-tiba menangkap wajahnya dan langsung menciumnya tanpa peringatan.


"Mungkinkah cha akan menciumnya lagi kali ini?" batin leo bertanya-tanya.


"Kau suka sekali ya padaku?" tanya cha terang-terangan pada tahun leo yang sekarang sedang berdebar-debar membayangkan apa yang akan dilakukan cha.


Tanpa sadar nafas leo semakin memburu, yang menembus wajah cha yang semakin mendekat.


Leo mengangguk ragu dan memberi senyuman termanis nya. Seolah mengiyakan pertanyaan cha, tentang sesuka itu ia pada cha. Bibir pucatnya itu terus saja melengkung naik untuk tersenyum. Jika leo bisa terbang sekarang, sudah pasti ia akan terbang saat ini karena rasanya kupu-kupu sudah memenuhi perutnya ratusan kali.


Cha benar-benar berhasil membuat leo tak berkutik sedikit pun, cha benar-benar berhasil membuat leo mencintainya sebesar itu. Rasanya leo ingin langsung mencium cha saja untuk saat ini.


"Yasudah, kalau begitu kau pulang saja. Wajah mu panas sekali tuh" ucap pada akhirnya dan melepaskan kedua tangannya dari wajah leo.


"Apa-apaan?" batin leo kecewa.


"Bagaiman dengan ciu..."


Oh tidak leo hampir saja keceplosan.


"Maksudku bagaimana dengan steak?" ralat leo.


Leo bertanya-tanya dan kecewa tentang apa yang terjadi. Bagaimana dengan ciuman seperti kemarin, lalu bagaimana steak nya?. Leo akan sangat menikmati makan malam ini jika ia berhasil menikmatinya bersama cha.


"Lain kali saja, kau sangat pucat aku tak tega membiarkan orang sakit mentraktir ku" ucap cha memberi alasan untuk tidak jadi pergi ke restoran steak.


Itu memang hanya alasan cha saja, sebab sedari awal ia hanya ingin mempermainkan leo saja.


Bukan tak diketahui oleh cha bahwa leo sedari tadi salah tingkah dan tak berhenti untuk tersenyum. Justru karena itulah cha semakin semangat untuk memainkan leo, membuatnya senang sejenak lalu mematahkan ekspetasi leo. Ekspteasi yang dipikir leo akan bercumbu dengan cha walau hanya sesaat. Tentu saja tak semudah itu.


"Tapi aku tak masalah! Justru saat bersama mu aku merasa sangat sehat" ucap leo.


"Jadi ayo, setidaknya kita pulang usai makan steak saja. Aku sehat sekali lihat ini!" ucap leo lagi ditambah sekarang ini ia melompat-lompat dan berlari kecil di tempat untuk membuktikan ia cukup sehat untuk saat ini.


Tetapi tetap saja, cha malah menghela nafas dan meyakinkan leo sekali lagi untuk pulang.


"Lagi pula ternyata ibuku sudah di rumah, aku harus membantunya" ucap cha.


"Sudah dulu ya aku pulang dulu, byee!" tambah cha lagi tanpa mendengar leo yang sudah menampilkan raut wajah kekecewaan.


Yah leo yang cukup naif saat itu hanya memikirkan alur cerita sesuai dengan pikiran polosnya saja. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa cha benar-benar mempermainkannya sekejam itu. Mempermainkannya karena leo adalah seorang putra dari keluarga kaya raya. Karena bagi cha, setidaknya leo harus merasakan sedikit saja atau minimal sekali saja untuk merasakan kesulitan dalam hidupnya yang sempurna itu.


....


Hari senin tiba, hari pertama bersekolah membuat pertemuan cha dan leo lagi. Mereka bertemu tepat di pintu kelas dan tidak menyapa satu sama lain. Leo menyapa cha dan hanya dibalas tatapan kaku oleh cha.


Tetapi saat chan tiba di sana, cha langsung saja memberikan sapaan dan senyuman manisnya kepada chan dan arin. Membuat leo... Cemburu saja!


"Arin! Oh hai chan juga!" ucap cha dengan senyuman manis dan cerianya seperti yang biasa ia tunjukkan pada teman-temannya itu.


Senyuman yang tidak pernah benar-benar ditunjukkannya pada leo saat berdua saja.


"Kalian datang bersamaan ya? Duh pasangan ini" ucap cha sedikit menggoda arin yang masih memeluk tangan kanan arin.


"Hehe begitulah!" ucap arin mengatasi godaan tersebut.


"Kau sendiri? Apa kau juga datang bersama leo?" balas arin yang bermaksud membalas godaan cha.


Tentu saja cha tak kalah semudah itu. Cha langsung mengiyakan pertanyaan arin dan mengalihkan gandengannya ke arah leo. Yang membuat leo sedikit terkejut dengan gandengan dari cha itu.


"Kami tidak datang bersama, tetapi bertemu di depan gerbang, yakan leo?" tanya cha yang langsung mengarahkan pandangannya pada leo.


Leo sangat senang karena kali ini cha benar-benar menatapnya dengan tatapan yang sangat tulus dan ceria. Tak seperti tatapan biasanya yang menatapnya dengan pandangan kaku dan senyuman miring.


Leo hanya mengangguk dan membalas senyuman cha, chan dan arin yang melihat itu juga langsung saja tersenyum dan langsung kembali untuk duduk di bangku mereka. Usai arin dan cha meninggalkan mereka, cha langsung saja berlaku dingin kembali dan duduk di bangkunya bersama chan.


Melihat itu leo lagi-lagi berpikir, memangnya apa yang dilakukannya sehingga membuat cha menjadi sedingin itu padanya. Leo meratap dalam hati, betapa menyedihkannya ia. Karena gadis yang disukainya tak bisa menyukainya kembali.


Apa ia harus bertanya pada kedua kakaknya saja ya, bertanya tentang bagaimana cara menaklukkan hati seorang gadis yang dingin. Karena kakak pertamanya kan sudah berusia 27 tahun dan kakak keduanya 22 tahun, sudah pasti di usia segitu mereka memiliki banyak pengalaman tentang para gadis dan cara menghadapinya.


Benar leo memantapkan isi hatinya sekali lagi untuk konsultasi mengenai hal itu pada kakaknya usai pulang sekolah. Ia benar-benar menjadi serba salah karena sikap cha.


Leo langsung saja memfokuskan diri untuk memulai pelajaran berikutnya, dan mulai membaca satu persatu kata dan kata di buku mata pelajaran pengetahuan dasar bisnis itu.


....


Tak terasa sudah waktunya pulang sekarang, semua murid beranjak meninggalkan kelas.


....


"Hei Luke! berapa mantan mu?" tanya leo pada kakak pertamanya itu.