
Sesuai janji chan kemarin, di akhir pekan ini mereka akan menghabiskan nya dengan belajar bersama di rumah arin. Sehingga sekarang ini chan sudah berada di depan pintu rumah arin.
Suara ketukan pintu itu membuat ibu arin yang baru saja tiba usai pulang bekerja langsung mengecek lagi ada gerangan apa hingga pintu itu berbunyi.
Ibu arin tak langsung membuka pintu dengan lebar, melainkan melihat bagaimana kondisi di luar terlebih dahulu. Syukurlah ternyata itu bukan wanita-wanita yang ingin memakinya seperti yang sudah-sudah.
Tetapi wajah anak laki-laki ini terlihat asing bagi ibu arin. Sehingga ia hanya membuka pintu sedikit.
"Ada apa?" tanya ibu arin akhirnya yang hanya menampakkan separuh wajah nya saja.
Chan yang melihat itu langsung saja memperkenalkan diri nya.
"Saya Chaiden, tante, temannya arin, kami sepakat untuk belajar bersama hari ini" jelas chan yang membuat nyonya karin mempersilahkan chan masuk pada akhirnya.
"Oh tante tak tahu kalau arin punya teman laki-laki, apa ibu mu sudah mengizinkan mu untuk kemari?" tanya ibu arin sedikit basa-basi.
"Sebenarnya saya dan arin lebih dari teman tante, lebih tepatnya kami sudah berkencan selama sepekan" jelas chan dengan sangat jelas menimbulkan reaksi tak terduga dari nyonya karin.
"APA!!!"
Tanpa berlama-lama lagi ibu arin langsung menuju ke kemar arin, dan segera membangun kan arin secara paksa.
"Narin! sejak kapan kau seperti ini? Kau sudah dewasa ternyata" ujar ibu arin pada putrinya yang masih mengumpulkan nyawa itu.
Arin hanya terdiam di atas tempat tidur nya yang bermotif buah bit itu. Sementara ibu nya sepertinya sudah memberikan pertanyaan bertubi-tubi yang tidak terlalu jelas di dengarnya.
"Ibu setidaknya ganti pakaian dulu dong" ujar arin akhirnya membuka suara, setelah sadar bahwa ibu nya masih menggunakan pakaian bekerja nya.
Yah pakaian untuk menggoda para pria berdompet tebal. Ibu arin yang masih berada di usia 37 tahun itu, berprofesi sebagai wanita malam.
Arin segera keluar dari kamar, dan hendak menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Tetapi baru saja ia melangkah keluar dari kamar nya, ia malah mendapati chan yang sudah duduk manis di ruang tamu.
Arin terpaku lagi, memastikan apakah itu benar chan atau tidak. Akhirnya ia tersadar setelah ibunya mendorongnya sedikit karena menghalangi jalan.
Dan arin benar-benar tersadar sekarang. Kekasih nya datang tiba-tiba saat ia bahkan belum membasuh wajahnya, dan ibu nya yang masih berpakaian minim itu malah tampil dengan tidak tahu malu nya di depan kekasih nya sekarang ini.
Oke arin sudah mencerna dengan baik.
Sehingga arin langsung bagaikan secepat kilat mengambil selimut dari kamarnya dan langsung membungkus tubuh ibunya dengan selimut itu. Membawa ibunya untuk cepat masuk ke dalam kamarnya.
"Ibu sudah ku bilang ganti baju dulu, kenapa dengan tidak tahu malunya tampil begitu" ujar arin yang sedikit kesal.
Kesal sekali, memang arin sudah menberitahu chan bahwa ibunya adalah seorang wanita malam di bar, tetapi jika langsung memperlihatkan kelakuan ibunya saat ini di depan chan, entah mengapa rasanya benar-benar memalukan.
Lagi-lagi rasa rendah diri arin muncul kembali, entah mengapa rasanya ia tak cukup pantas untuk bersanding bersama chan. Chan yang dibesarkan bagai pangeran itu, justru harus berkencan dengan gadis yang merupakan putri seorang wanita bar.
"Kenapa datang cepat sekali? Tanpa mengabari pula, aku kan jadi..." ujar arin dan tiba-tiba tak melanjutkan kata-katanya.
"Aku ingin segera bertemu dengan mu, ini sarapan ayo kita makan bersama" ujar chan dengan senyuman khas nya yang juga mengangkat kotak makan itu di tangannya.
Melihat itu arin menjadi tersenyum, tetapi tetap saja perasaan rendah diri yang ada padanya tidak mau meninggalkan nya semudah itu.
Usai membasuh wajahnya dan memakai pelembab wajah dan bibir, serta mengganti piyamanya dengan sweater yang lebih hangat, arin langsung menghampiri chan. Mereka berdua menikmati bekal yang dibawa oleh chan itu sambil membicarakan hubungan cha dan leo.
Kata chan sih, leo bercerita dengannya bahwa cha melarang leo untuk suka padanya. Mendengar itu chan dan arin teringat masa lalu mereka. Saat di mana arin juga berkata hal yang sama pada chan.
Sampai-sampai chan berpikir, kenapa para gadis harus melarang seseorang untuk menyukai. Padahal rasa suka itu tak bisa dipilih dan timbul tanpa alasan.
Mengingat itu, arin dan chan menjadi tertawa bersamaan. Chan juga membongkar sedikit memorinya tentang sikap arin yang sangat ketus padanya. Dan itu membuat arin meminta chan untuk berhenti mengingat-ingat lagi.
Di sela-sela tawa mereka, tiba-tiba ibu arin yang sudah berganti pakaian langsung duduk di depan mereka berdua.
Apa mereka akan diinterogasi lagi?
......................
Seorang gadis yang mencoba tidak kedinginan di tengah-tengah salju itu mencoba memejamkan mata menikmati nya. Padahal ia sudah kedinginan setengah mati karena badai es.
Tetapi mau bagaimana lagi, sebentar lagi ia akan ditransfer ke turki oleh kedua orang tuanya. Ini adalah kesempatan baginya untuk merasakan terakhir kali hujan salju di kota ini. Ada penyesalan besar pada dirinya karena tak ada yang bisa ia pertahankan dalam hidupnya.
Terutama teman-temannya, ia benar-benar tak bisa mengembalikan pertemanan nya seperti dulu lagi.
"Guzel! Sedang apa? Kau bisa membeku jika mematung di sana" teriak seorang wanita paruh baya yang mencoba memanggil nya yang sedang mematung di tengah badai salju itu.
Tanpa sadar guzel menangis, dari yang berkaca-kaca kini air matanya mengalir deras dan membasahi pipinya. Ia memeluk ibu nya erat-erat, hingga air mata yang semula membasahi pipinya berpindah membasahi mantel ibunya.
"Ibu, tak bisakah aku tetap di sini saja? Aku benar-benar tak ingin jika harus dipindahkan ke turki" ujar guzel yang sudah terlanjur menangis.
"Aku berjanji akan belajar lebih giat, untuk membuat ayah bangga padaku. Tetapi jangan ke turki, masih ada yang harus ku selesaikan di sini" tambah nya lagi, yang membuat wanita paruh baya yang dipanggil nya ibu itu menjadi kasihan.
Guzel benar-benar tak ingin ditransfer ke sana, pasalnya masih banyak penyesalan yang belum ia selesaikan. Dan rasanya itu benar-benar menusuknya perlahan-lahan setiap ia mengingat kejadian itu.
Hingga kini ia bahkan tak berani memulai bicara dengan arin, dan sekarang ia malah bertengkar besar-besaran dengan angela.
Guzel sungguh....
Guzel sungguh tak tahu harus memulai dari mana untuk menyelesaikan ini.