
Sesampai nya di kediaman chan, cha dan arin yang datang bersamaan sedikit terkejut dengan pemandangan yang menyambut mereka. Dari awal saja mereka sudah terkejut sih, saat pertama kali masuk ke dalam komplek perumahan itu.
Pasalnya, mereka memang tahu bahwa chan adalah anak orang kaya, tetapi benar-benar tak menyangka bahwa chan benar-benar sekaya itu. Baru saja pagar terbuka mereka di sambut dengan taman luas yang menutupi rumah chan.
Pagar terbuka, bukannya langsung mendapati rumah chan tetapi malah di suguhkan taman yang sangat luas. Sehingga harus membuat mereka berjalan sedikit lebih lama lagi untuk benar-benar sampai ke 'rumah'.
Alfin dan leo yang sudah tiba sedari tadi langsung menyambut arin dan cha yang hampir beku karena berada terlalu lama di luar. Leo hanya menertawakan celotehan cha yang cukup panjang itu.
"Salah sendiri, menolak untuk ku jemput" ucap leo dengan sedikit meledek cha.
Kediaman leo dan cha ternyata berada di arah yang sama. Mereka pun baru tahu itu sebulan yang lalu saat hendak belajar bersama. Yang ternyata mereka malah belajar di kawasan rumah leo berada.
"Bagaimana dengan arin, tak mungkin aku tega meninggalkan si cantik ini sendirian" jawab cha menunjukkan wajah iba nya sambil memeluk arin, seolah benar-benar tak tega meninggalkan arin.
"Suruh saja chan untuk menjemput nya, pasti chan akan siap kapan saja" ucap leo yang sudah sangat mengenali sifat chan bagian itu, terutama jika menyangkut tentang arin.
Leo yang sudah lumayan sering mendatangi kediaman chan itu, sehingga sudah tahu seluk beluk kediaman chan itu. Langsung saja menuntun arin, cha dan juga alfin untuk menuju ruangan tempat mereka akan bermain.
Sebenarnya sampai sekarang mereka tidak tahu akan menghabiskan waktu dengan bagaimana hari ini. Tetapi karena cha yang sudah sangat bersemangat untuk keluar hari ini juga, bagaimana pun caranya, sehingga kediaman chan lah yang menjadi pilihan.
Baru saja mereka sampai di ruangan yang di tuntun oleh leo, chan langsung menghampiri mereka.
"Hidangan nya sudah siap, ayo turun dulu ke ruang makan" ucap chan mengajak teman-teman nya itu untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh koki khusus yang bekerja di rumah chan.
Biasanya memang untuk bagian makanan hanya di siapkan oleh asisten pekerja dapur saja. Tetapi karena ini adalah hari yang spesial bagi chan, jadi ia langsung memberitahukan nya pada ibu nya dan segera memanggil koki khusus untuk membantu memasak hidangan khusus hari ini.
Tak hanya bagi chan saja ini adalah hari istimewa, tetapi juga bagi nyonya eugene, ibu nya chan. Pasalnya kini arin sudah menjadi kekasih putranya. Dan ia sangat menyukai kekasih putra nya itu, bermula dari pertemuan mereka di pusat perbelanjaan hari itu. Tak menyangka gadis secantik arin telah menjalin hubungan dengan putranya itu.
Sama-sama mereka berlima duduk di meja makan yang sudah disajikan dengan hidangan besar dan tentunya sesuai dengan gizi yang seimbang. Kelengkapan menu sajian itu membuat cha berdecak kagum. Wah! Benar-benar hidangan yang penuh perjuangan.
Sebelum mereka sempat menyantap makanan yang sudah tersaji itu, ibu chan langsung menemui mereka. Seperti biasa, saat memasak pun nyonya eugene tetap tampil modis dan harum semerbak.
"Anak-anak jika ada yang kurang, katakan saja ya, hanya ini yang bisa tante siapkan untuk kalian!" ucap ibu chan pada mereka berempat.
"Tante! Ini sudah sangat berlebihan tahu, dan tante bilang 'hanya' ? 'hanya'?" Ucap cha sedikit menekankan pada kalimat 'hanya' itu, membuat ibu chan tertawa kecil karena ucapan cha.
"Intinya kalau ada yang kurang, jangan segan-segan untuk bilang pada tante ya" tambah ibu chan lagi dan segera duduk di sebelah arin.
Nyonya eugene memandangi arin cukup lama sebelum benar-benar meninggalkan mereka. ia memegang rambut arin yang terurai panjang itu. Arin yang merasa diperhatikan lantas merasa sedikit tidak nyaman dan melihat ke arah ibu chan.
Ibu chan yang merasa di perhatikan itu langsung saja segera meninggalkan mereka agar bisa lebih leluasa untuk menikmati hidangan nya sambil bersenda gurau. Ibu chan memandangi arin bukan dengan sengaja untuk membuat arin tak nyaman, melainkan karena melihat wajah arin benar-benar membuatnya merasa nyaman.
Ibu chan memang sudah lama mendambakan anak perempuan di keluarga givenchen, tetapi sepertinya semesta bahkan tak diizinkan untuk merawat anak perempuan. Sehingga kehadiran arin membuat nya sedikit bahagia.
Sudah tak sabar ia untuk segera mengajak arin menemani nya berbelanja atau seperti menghabiskan waktu layaknya ibu dan anak perempuan pada umum nya. Tetapi putra nya chan itu terus saja menghalangi nya untuk bertindak semaunya karena hal itu bisa saja membuat arin tak nyaman lagi.
Mereka berlima benar-benar menikmati hidangan itu, di musim dingin memang paling enak menyeruput kuah sup hangat. Tak lupa ada menu gorengan yang menemaniku mereka yaitu berbagai macam menu fried seafood. Oh disana juga ada salad dan buah untuk mereka nikmati sebagai makanan penutup.
"Ini sangat lezat, lebih lezat di banding odeng dan takoyaki yang selalu kita habiskan di pinggir jalan itu" ucap cha dengan mulut penuh.
"Tentu saja, di buat dengan chef khusus kok" balas leo dan alfin.
"Tidak juga kok, bagi ku odeng itu juga sama lezat nya dengan ini" balas chan yang membuat cha sedikit tidak suka dan mulai memandangi nya dengan sangat tajam.
"Hey tuan muda! Kalau begitu apa kau sanggup jika hanya memakan odeng selama hidup mu?" tanya cha sedikit sinis namun tidak benar-benar benci, hanya sedikit kesal saja dengan kerendahan chan itu.
"Haha sudahlah cha, aku akan memperhatikan kata-kata ku selanjutnya" balas chan yang mengerti maksud dari pertanyaan cha.
"Yasudah setidaknya jangan merendah dong tuan muda, bikin kesal saja" balas cha lagi tetapi kali ini mulut nya yang penuh ia kerucutkan seolah sedang merajuk.
Hal itu membuat leo dan alfin diam-diam berpikir lagi bahwa cha...
...benar-benar sangat menggemaskan.
Mereka menikmati hidangan itu hingga sisa terakhir, chan yang biasanya hanya makan seadanya saja kali ini ia juga berlomba dengan teman-teman nya itu untuk mendapatkan makanan lebih banyak.
Berbeda rasanya jika makan sendiri, tidak ada sensasi rebutan seperti saat makan beramai-ramai. Belakangan ini ibu chan juga memperhatikan kebiasaan makan putra nya itu. Sepertinya memang putra nya makan lebih banyak akhir-akhir ini. Dan itu membuat ibu nya kesenangan, karena sejak berada dekat arin ia menjadi lebih ekspresif.
Seperti nya arin benar-benar membawa kebahagiaan bagi chan. Itulah yang nyonya eugene pikirkan.