
Karena ini adalah semester baru, arin kira orang-orang sudah lupa dengan kejadian itu. Tetapi baru hari pertama, sudah ada saja lagi lelaki yang mencoba mendekati nya, bahkan merangkul nya tiba-tiba.
Dan itu sungguh memuakkan.
Di semester ini arin seperti tak punya harapan lagi untuk kembali seperti dulu bersama guzel dan angela. Pasalnya kini angela terlihat terang-terangan membencinya. Berbeda dengan guzel yang hanya mengabaikan nya jika bertemu pandang.
Tak lama setelah itu tersebar lagi berita, tentang pekerjaan ibu arin. Hal itu sangat menghebohkan, hingga arin terancam untuk dikeluarkan dari sekolah. Tetapi entah apa yang dilakukan ibu nya hingga membuatnya bisa tetap bertahan di sekolah ini.
Tetap saja hal itu membuat arin semakin digunjing sebagai kopian ibunya, yaitu sama-sama wanita murahan. Tak jarang anak lelaki menawarnya terang-terangan, yang membuat arin bagaikan bulan-bulanan di sekolah.
Karena itu arin jadi semakin putus asa, dan tak ingin bersekolah di sana lagi. Namun ibunya tetap melarangnya untuk berhenti dari sana. Karena sudah banyak yang ibunya lakukan untuk memasukkannya ke sekolah itu.
Entah perjuangan bagaimana yang dimaksud oleh ibunya, arin pun tak mengetahuinya. Hingga ia benar-benar tak bisa lagi menahan cemoohan dari orang-orang itu, dan membuatnya ingin berhenti saja.
...
Hari itu hujan deras menyapu bersih polusi di jalan raya. Hari itu juga arin sepulang bekerja, dan kebetulan ibunya belum pergi untuk bekerja.
Arin langsung membuka pintu dan mendapati ibunya yang masih bersiap. Wajah nya yang kini bagaikan mayat hidup, lesu dan tak berekspresi, langsung berlutut di depan ibunya.
"Ibu, tak bisakah aku berhenti saja dari sana?" ucap arin pada ibunya itu, yang kini terukir jelas rasa sesak dan perasaan yang menyakitkan di wajahnya.
"Aku tak masalah bersekolah di mana pun, asalkan aku bisa keluar dari sana" tambah arin lagi yang kini suaranya sudah semakin gemetar, dan isak tangisnya yang semula ia tahan semakin menjadi-jadi.
Melihat putrinya itu, ibunya langsung menghentikan aktivitasnya dan menghampiri putrinya yang sedang dalam posisi berlutut itu.
"Apa aku memang tak ada harganya di dunia ini? Kenapa semua orang merendahkan ku?"
"Lagi pula kenapa sih aku harus punya ibu seperti ibu" tambah arin yang kali ini sedikit mengiris hati ibunya, tetapi itu tak bertahan lama.
"Kenapa pula ibu melakukan pekerjaan hina begini? Tolong berhentilah"
Usai mengucapkan separuh dari isi hatinya, arin tak melanjutkan lagi. Kini ia hanya menangis, mengeluarkan semua yang sudah ditahannya selama ini.
Ibu arin hanya memandang arin, benar kata orang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ibu arin yang dikatakan sebagai wanita murahan, kini putrinya juga ikut dikatakan demikian. Hal itu membuat hatinya sangat iba dengan kondisi putrinya itu.
Tetapi setidaknya ia menyekolahkan putrinya di sekolah elit itu agar setidaknya lagi putrinya bisa menjadi lulusan dari sekolah terbaik di kota ini. Agar, walau sedikit saja putrinya itu memiliki peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak untuk menghidupi mereka berdua. Dan tidak berakhir sepertinya, yang hanya lulusan SMP itu. Berakhir sebagai wanita malam, akan sangat menyakitkan bagi ibu arin, jika melihat putrinya kelas menjadi sama sepertinya.
Ibu arin memang sudah lama ingin berhenti melakukan pekerjaan ini. Tetapi tuntutan hidup yang semakin besar membuatnya mengurungkan niatnya lagi untuk berhenti. Sehingga ia memutuskan untuk benar-benar berhenti jika putrinya sudah lulus dari sekolah itu.
"Sudahlah arin, jangan terlalu dipikirkan, kabar seperti itu lambat laun akan semakin memudar. Fokus saja pada tujuan mu ya nak" ucap ibu arin akhirnya mencoba menenangkan putrinya yang tak kunjung tenang itu.
"Tetapi ingatlah sayang, ini yang akan terjadi pada kita sebagai orang miskin yang tak mempunyai kuasa"
"Orang-orang hanya akan memandang mu rendah dan berpikir bahkan bisa membeli mu. Karena itu setidaknya jadilah sukses agar kau juga memiliki kuasa seperti mereka, setidaknya kau punya kuasa untuk melindungi dirimu sendiri"
"Maaf karena ibu kau jadi harus menanggung ini semua" ujar ibu arin yang kini memeluk putrinya itu.
Kini suara tangisan arin sudah semakin reda, dan digantikan dengan sesenggukan. Jawaban ibunya tak ada gunanya baginya, karena itu tak merubah apapun pada dirinya. Tetap saja pada akhirnya keesokan harinya ia harus kembali ke sekolah neraka itu.
......................
Sudah seminggu sejak hari itu, kini benar saja kabar itu semakin mereda, meskipun masih ada satu persatu yang mencoba merayunya. Tetapi sudah tak separah yang lalu.
Saat makan siang jake masih sering menghampiri nya untuk menghabiskan makan siang bersama. Tentu saja setelah bedebah itu datang arin langsung menyudahi makan siang nya.
Merasa selalu diabaikan oleh arin, jake seperti kehilangan harga dirinya dan mencoba menarik kembali perhatian arin bagaimanapun caranya.
......................
"Arin ada anak laki-laki dari sekolah mu yang menolong ibu hari itu, saat tumit sepatu ibu terlepas" ujar ibu arin yang sedang menyiapkan sarapan.
"Setelah bercerita sedikit dengan-nya, sepertinya ia anak yang baik. Dan lagi ternyata dia itu putra nya tuan partridge, orang yang membantu mu untuk bersekolah di sana."
"Karena sepertinya ia mengenalmu, jadi kau berteman baiklah dengannya." ujar ibu arin yang tidak terlalu di dengarkan oleh arin yang masih tak memiliki fokus dengan kegiatannya memasang tali sepatu.
"Karena itu, bisa kau kembalikan sapu tangan ini padanya nanti sepulang sekolah?" ujar ibu arin lagi memberikan paperbag yang berisi sapu tangan itu.
"Oh iya ibu lupa menanyakan namanya, tetapi ia sudah memberikan alamat nya kok, jadi tolong kau antar ya sayang, ibu tidak sempat karena akan bekerja saat malam" tambah ibu arin lagi tanpa menerima persetujuan putrinya.
...
Usai waktu pulang sekolah tiba, ia pergi ke sana, ke alamat yang sudah diberikan ibunya. Karena itu berlawanan dengan rute the florist, sehingga membuat nya mempercepat langkahnya untuk segera ke sana. Tak lama ia pun tiba di bangunan yang sangat megah tentunya.
Dalam hati arin bertanya-tanya memangnya siapa putra dari tuan partridge ini, yang kata ibu adalah anak baik.
Arin segera menekan bel, dan dijawab pelayan yang ada di sana. Segera setelah itu arin dipersilahkan masuk. Sebenarnya arin ingin segera pergi saja usai menitipkan sapu tangan itu pada pelayan di rumah itu. Tetapi pelayan itu malah mengatakan bahwa sang pemilik benda itu ingin arin langsung yang memberikan padanya.
.....
"Sudah sampai sayang?" ujar seorang sang pemilik sapu tangan yang tak lain adalah Jake.