
Haha pikiran konyol arin muncul lagi. Mana mungkin itu terjadi, eh tetapi bisa saja, tak ada yang tak mungkin. Buktinya seperti ia dan chan sekarang.
Padahal dulu ia sangat membenci chan karena kesan pertama nya yang buruk terhadap chan. Tetapi sekarang ia malah sudah berkencan dengan chan dan melalui kisah-kisah yang manis baginya.
Duh mengingat itu bikin arin malu saja, dan tak sadar telah terukir senyuman manis di wajahnya yang jelita itu, yang membuat teman-temannya kebingungan melihat arin yang tiba-tiba tersenyum tanpa sebab.
"Kau kenapa lagi arin? Melamun jorok ya?!" tanya cha terang-terangan tanpa sensor yang membuat chan sedikit terkejut.
Arin yang menerima pertanyaan itu langsung tersadar dan semakin salah tingkah apalagi kini ia sudah bertatapan dengan chan.
"Ah tidak taulah" jawab arin dan segera melarikan diri dari sana dan kembali ke tempat duduknya.
Ah semakin diingat bikin malu saja, pikir arin.
....
Karena sudah masuk tiga jam pelajaran terakhir, kini darren pun akhirnya tiba juga di ruang kelas. Dan itu akhirnya segera menyadarkan arin sepenuhnya.
"Kami berniat untuk mengerjakan tugas kelompok sejarah ini pada hari sabtu, kau bisa ikut kan?" tanya darren membuka percakapan di antara mereka.
Gila?! Hari Sabtu? Padahal ia sudah janji untuk pergi bersama ibu chan. Duh lagi-lagi si darren ini selalu saja membuat keputusan tanpa berdiskusi dulu dengannya.
"Baiklah" ucap arin pada akhirnya.
....
Jam pulang sekolah telah tiba, karena hari ini ingin istirahat saja, sehingga ia berniat ingin langsung pulang saja setelah berpisah dengan chan.
"Jadi begitu chan, bilang pada ibu mu lain kali saja ya. Aku janji!" ucap arin dengan wajah memelas pada chan. Menjelaskan bahwa sabtu atau tepatnya esok hari, ia harus ikut dalam kegiatan kerja kelompok.
Chan yang menerima penjelasan itu langsung saja memahami nya dan mengatakan pada arin untuk berhati-hati dalam perjalanan pulang nanti.
Arin pun segera pulang dan berjalan menuju kediamannya yang masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki di cuaca sedingin ini. Tentu saja chan sudah mengajaknya untuk bersama tetapi arin lah yang menolak ajakan itu.
Di perjalanan menuju rumah lagi-lagi arin bertemu 2 pria yang tak asing baginya. Arin menerka-nerka 2 pria itu, oh iya pria itu adalah orang yang sama yang ditemui nya di wahana southtland hari itu, tetapi kali ini mereka bertiga. Apa tidak kedinginan berkeliaran di tengah cuaca sedingin ini?!
Yah arin tak perduli sih, ia langsung saja meneruskan langkahnya, namun langkahnya itu berhenti dengan paksa saat salah seorang dari mereka, ketiga pria itu menahannya.
"Nak, kau sudah memiliki rancangan karir? Kalau belum bergabunglah dengan kami" ucap pria itu lalu memberikan kartu bertuliskan Berrywest Entertainment itu pada arin. Kartu yang bernuansa ungu muda itu, adalah kartu yang familiar dan bahkan sudah dimiliki oleh arin sebelumnya.
Arin hanya menerimanya lalu mengangguk dan segera pergi dari sana.
"Hubungi kami kapan saja nak, ingat ya!" teriak salah seorang pria itu yang setelah Arin berjalan cukup jauh dari mereka.
Yah kartu itu adalah kartu yang ditawarkan agensi untuk orang-orang yang ingin menjadi selebriti. Tetapi untuk saat ini maupun esok arin tak memiliki sedikit pun keinginan untuk menjadi selebriti tentunya. Karena itu ia hanya mengangguk dan langsung meninggalkan pria-pria itu, karena tak berniat mendengarkan penjelasan dari mereka juga. Dan lagi di cuaca sedingin ini.
"Kalau cha, apakah ia langsung menerima tawaran ini ya" pikir arin dalam hati.
......................
Sementara itu di ruang kelas....
Leo masih belajar di sana, dan tak ada sedikit pun pergerakan darinya yang menandakan ia akan segera beranjak. Entahlah apa ia benar-benar belajar atau tidak, tetapi yang pasti saat ini dari gerak-geriknya ia terlihat sangat serius membaca buku.
Di sana ternyata juga ada cha, yang masih memantau leo yang tak kunjung keluar dari kelas.
"Kau tak pulang? Besok kau bekerja penuh waktu, istirahat lah yang cukup" ucap leo tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tersebut.
Cha yang merasa perkataan itu ditujukan padanya, langsung saja membalas perkataan itu.
"Kenapa? Kau khawatir?" tanya cha yang berniat menguji leo.
"ini demi kebaikan mu" jawab leo singkat yang lagi-lagi tak mengalihkan pandangannya dari buku bacaannya.
"Kalau begitu apakah hanya karena baik buat ku, jadi aku harus menurutinya?" ucap cha lagi yang benar-benar menghabiskan kesabaran leo.
"Hei! Apa ini hobi mu? Mempermainkan perasaan orang lain, kau ahli sekali ternyata" ucap leo akhirnya yang berusaha menahan ganjalan yang selama ini memenuhinya.
Leo berkata demikian bukan tanpa sebab, tetapi ia hanya kesal kepada cha yang terlihat acuh tak acuh terhadap perasaannya. Sedangkan leo malah seperti orang bodoh yang sudah memberikan seluruh hatinya pada cha namun dibuang sia-sia.
Ia kesal terhadap cha yang bisa bersikap biasa saja padahal sudah tahu perasaan nya yang sebenarnya. Dan lagi Leo juga kesal karena cha terdengar seperti mencobainya terus menerus. Padahal saat bersama teman-teman, cha akan selalu bersikap ceria dan manis. Tetapi saat berdua saja bersama leo, cha malah menunjukkan sisi lain dirinya yang sangat jauh berbeda dari cha yang biasanya.
Cha yang sekarang tak terlihat menunjukkan sisi manis nya sedikit pun. Tetapi seperti orang yang terlihat meremehkan dan memainkan orang lain, dengan pertanyaan-pertanyaan konyolnya itu.
"Apa aku hanya dianggap seperti manusia konyol oleh cha?" batin leo bertanya.
...
Sebenarnya cha bersikap demikian bukan tanpa alasan juga, ia hanya ingin mempermainkan sedikit, para pangeran-pangeran kaya raya seperti leo. Cha tak mau langsung jatuh dan bergantung saja, hanya karena ada seorang pangeran yang tertarik padanya. Baginya itu seperti menyerahkan diri pada kehancuran.
Dan lagi tak ada alasan untuknya agar mengikuti perkataan leo, karena baginya leo bukanlah siapa-siapa. Leo hanya salah seorang pangeran yang menyukainya tak lebih dari itu.
Teman? Entahlah, sejak pengakuannya hari itu, cha jadi tidak bisa berteman baik dengan leo. Karena perasaan kalut dalam hatinya terus memenuhinya.
Dan jika cha mengikuti perasaan itu dan terbuai dengan rasa suka leo terhadap dirinya yang tak tahu sampai kapan itu, sudah pasti hanya akan menyia-nyiakan apa yang sudah dicapai nya selama ini.
Karena cha punya tujuan.
Tujuan yang harus dicapainya, mau bagaimana pun caranya.
Menghancurkan keluarga baru ayahnya.
Itu adalah tujuan cha.