
Cha langsung saja memutar eyeliner itu untuk melihat siapa yang akan bercerita lebih dulu. Eyeliner itu bergerak cepat dan semakin pelan lama kelamaan, dan ternyata eyeliner itu bergerak ke arah Mali.
Astaga ternyata Mali lah yang mendapat giliran untuk bercerita pertama kali.
Teman-temanya langsung saja menunggu mali untuk mendengarkan kisah yang akan diceritakan oleh mali.
"Baiklah aku akan bercerita" ucap mali membuka awalan ceritanya.
"Tetapi maaf ya bukan cerita senang yang kalian harapkan, tetapi ini tentang cerita... Horor" ucap mali menaikkan kedua tangannya dan berlakon layaknya hantu untuk menakuti keenam temannya itu.
Yah itu membuat cha kecewa, namun tetap disetujui oleh temannya yang lain karena pasti akan sangat seru untuk berbicara mengenai cerita horor sekarang ini.
"Baiklah ku mulai ya" ucap mali.
"Dikisahkan ada seorang gadis yang bernama lizzy, dia punya kemampuan bisa melihat hantu jika softlennya di lepas. Setiap malam ia selalu ketakutan setengah mati karena hantu-hantu itu seolah tak membiarkannya untuk tidur nyenyak, bahkan dalam mimpinya pun ia selalu saja bermimpi akan keberadaan hantu-hantu itu" ucap mali yang kini sudah menarik perhatian keenam temannya itu.
"Sebenarnya softlens yang dipakainya itu bukan sembarang softlens saja karena itu adalah warisan dari neneknya yang merupakan seorang dukun handal"
"Tahun 70-an nenek lizzy adalah seorang dukun yang kuat yang mampu menembus portal ke dimensi lain, lalu..."
Belum sempat mali melanjutkan ceritanya alfin langsung saja nyeletuk tanpa izin.
"Tunggu! Kenapa ceritamu terkesan fiksi!" potong alfin.
Yang membuat teman-temannya menyetujui perkataan alfin itu.
"Ya mali, ceritakan yang nyata dong" ucap asa.
Hal itu membuat mali sedikit kesal, padahal ia ingin menceritakan kisah komik yang sangat disukainya saat sekolah dasar itu. Saat lizzy si gadis lemah itu malah menjadi gadis kuat di dimensi lain. Tapi setelah dipikir-pikir lagi apa mungkin memang itu hanya cerita yang dikagumi siswi SD saja, sehingga sudah tak menarik lagi saat di ceritakan kepada anak yang berusia 17 tahun.
"Huh! Ya sudah kalau begitu aku tak bisa cerita, coret saja wajahku" ucap mali menyerah.
Belum sempat alfin mencoret wajah mali, cha langsung menghentikan semuanya.
"Eh tunggu! Jangan dong di bagian ini tidak ada coret-coretan. Ya sudah mali kalau kau tak punya cerita horor, dari awal kan kita sepakat untuk cerita kisah yang senang" ucap cha mengingatkan kembali teman-temannya itu.
Hal itu akhirnya membuat mali berpikir cerita tentang apa yang akan diceritakannya ya. Hmm sepertinya memang tak ada yang terpikir bagi mali untuk diceritakan di waktu seperti ini.
"Baiklah aku tidak akan bercerita tetapi aku akan membuat pengakuan" ucap mali tiba-tiba.
Hal itu lagi-lagi membuat cha tersenyum paksa. Kenapa sih mali sangat sulit bercerita tentang dirinya, tadi ia bercerita horror dan kini ia malah akan membuat pengakuan.
"Aku suka leo" ucap mali blak-blakan dan membuat keenam temannya itu terkejut bukan main.
Asa bahkan sampai menutup mulutnya yang terbuka lebar itu dengan kedua tangannya.
"Astaga kau?!" ucap asa di tengah keterkejutan nya itu.
Siapa sangka ternyata selama ini mali malah suka dengan leonardo, seorang pemuda yang ditunjuk sebagai teman semeja nya itu. Padahal ia dan mali selalu bersama, tetapi kenapa asa tak peka hingga melewatkan fakta sebesar ini.
Di sisi lain, cha yang mendengar itu langsung saja menatap leo dan leo yang ditatap oleh cha langsung saja menunjukkan gestur tubuh panik seolah memang ada hubungan dengan mali di belakang cha, padahal tidak.
Cha tersenyum mendengar itu tak lupa ia terus saja memberi senyuman iseng pada leo. Yang membuat leo merasa harus segera menuntaskan ini.
"Astaga mali! Tiba-tiba sekali selamat ya!" ucap arin bertepuk tangan terharu dengan sikap dan keberanian mali.
Eh tunggu! Kenapa memberi selamat? kan itu hanya pengakuan bukan peresmian berkencan.
"Bukan begitu, kita kan tetap harus apresiasi keberanian mali, tidak mudah membuat pengakuan seperti itu tahu. Pasti mali sudah mempertimbangkan nya dalam-dalam" ucap arin meluruskan kesalahpahaman.
"Nah sekarang tuan leo bagaimana pendapatmu" ucap asa yang kini membuat perhatian teman-temannya itu menjadi tertuju ke arah leo.
Leo bimbang, kalut dan tak tahu harus berkata apa karena takut menyakiti perasaan mali. Apalagi saat ini mereka semua berkumpul, dan leo tak tega menyampaikan penolakan itu di depan teman-temannya.
"Kalau kalian memberi aku kesempatan untuk berbicara berdua saja dengan mali, apakah boleh?" tanya leo gugup.
Baru kali ini ada gadis yang menyatakan perasaan padanya. Rasanya seperti...
Ah sudahlah leo hanya merasa entah apa yang disukai gadis ini darinya.
"Ya tentu saja! Berbicaralah berdua" ucap cha dengan senyuman manisnya.
Cha merasa aneh tiba-tiba, seperti ada yang hilang dari dirinya. Saat mengetahui fakta bahwa pangeran yang dimainkannya itu ternyata disukai juga oleh orang lain. Yah entah mengapa juga saat ini ada rasa sesak yang cukup besar bagi cha.
Arin yang menyadari itu langsung saja membawa cha ke tempat lain yang hanya ada mereka berdua. Kini tersisa lah alfin, chan dan juga ada di sini.
"Jadi mau bermain kartu lagi?" ucap alfin mengatasi suasana kaku di antara mereka.
"Ayo yang kalah wajahnya di coret" ucap asa semangat.
Yah asa tak perduli sih karena memang ia juga tak cukup menaruh minat pada percintaan yang tak jelas itu, terutama di usia mereka saat ini. Karena bagi asa kesembilan member 'golden berry' sudah cukup untuk menemani masa-masa remajanya ini.
Yah golden berry' adalah idola yang sangat di sukai oleh asa, karena salah satu membernya yang begitu keren dan merupakan tipe asa.
"Tidak usah mencoret wajah, tetapi bagaimana kalau yang kalah harus membuat pengakuan seperti yang dilakukan Mali" saran chan yang langsung disetujui oleh kedua temannya itu.
"Ayo!!" ucap alvin dan asa bersamaan.
Chan terus melihat-lihat ke arah utara berharap arin segera keluar dari kamar dengan cha dan ikut bermain kali ini. Karena sudah pasti arin akan kalah, dan chan ingin mendengar pengakuan dari arin. Entah pengakuan apapun itu yang membuatnya mendengar sekali lagi bahwa arin menyikainya.
Tapi sepertinya hal itu tak akan terjadi saat mali dan leo malah menangis bersamaan setelah kembali masuk ke dalam villa. Leo segera masuk ke dalam kamar, begitu juga dengan mali yang langsung mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi melewati cha dan arin.
"Astaga apa yang terjadi?"