
Memikirkan darren, membuat arin semakin kesal saja. Terutama mengingat perlakuannya saat itu, dan sekarang apalagi ini?!
Mengapa bedebah ini ada disini?
Sumber kekesalan arin, yaitu darren dengan santai nya memposisikan dirinya saat ini untuk duduk tepat di sebelah arin. Entah apa yang direncanakannya sekarang, tetapi sungguh ini benar-benar memuakkan.
Ditambah lagi tatapan satu kelas yang rasanya bagai menusuk dan melubangi kepala, begitu tajam. Begitu juga dengan chan, bukannya menatap tajam tetapi chan malah menatap arin khawatir.
Tidak ada yang bisa dilakukannya, jadi chan hanya menatap sejenak lalu kembali membenahi meja nya untuk belajar mandiri sebelum guru pelajaran berikutnya memasuki ruang kelas.
Meskipun hanya 15 menit, waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin pikir chan. Benar benar anak yang hanya tahu belajar, tetapi bisa-bisa nya memiliki selera seperti narin yang agak serampangan itu.
Orang-orang pasti berpikir bahwa setidaknya, orang seperti chan pasti memiliki tipe ideal seperti kezia si ranking 2 yang juga pintar seperti chan. Dan tentunya akan terlihat seperti couple goals jika melakukan study date.
Atau bisa saja tipe gadis seperti naoki katsumi, gadis keturunan Jepang yang menduduki peringkat 9 di kelas. Karena selain pintar belajar, naoki juga memiliki paras yang cukup menarik dan juga suara yang menyejukkan hati karena kelembutannya. Yah naoki memang dikenal sebagai gadis yang lembut dikelas sangat bertolak belakang dengan arin.
Kembali ke darren, ia langsung merebut tablet milik arin untuk apalagi tentu saja memastikan skor milik arin. Mengingat bahwa pada mata pelajaran ini, arin adalah lagi-lagi orang terbuang, karena siapa lagi yang menerimanya kalau bukan darren.
"Tapi ini?! kenapa gadis gampangan ini bisa mendapat skor 90?!" pikir Darren dalam hati, tercengang melihat skor yang dimiliki 'orang terbuang' itu lebih tinggi darinya, sedangkan seingatnya saja tidak ada yang mau menerima arin sebagai kelompok selain dirinya. Dan lagi arin tidak sepandai itu jika menggunakan usahanya sendiri.
Arin yang merasa miliknya direbut, langsung saja merampas kembali miliknya itu dari bedebah bernama darren itu.
"Menjauh lah" titah arin terang-terangan, muak dengan perlakuan tiba-tiba nya yang menciptakan suasana risih itu.
"Wah teman-teman lihat ini! 90?" ucap darren menaikkan volume bicaranya membuat perhatian yang sudah menuju pada mereka sebelumnya menjadi lebih terpusat lagi.
"Seorang arin mendapat skor 90?" ucap nya takjub namun tersirat maksud tidak terima yang dapat dilihat melalui ekspresinya.
Beberapa teman-teman di kelas terlihat bingung ada apa dengan mereka berdua, darren dan arin. Bukankah biasanya mereka berdua damai saja? Bahkan darren dengan kelapangan hatinya selalu menerima arin untuk bergabung di kelompoknya. Tetapi apa ini sekarang kenapa malah darren terlihat kesal dengan arin hanya karena skor 90 itu.
Yah beberapa teman memang merasa bingung karena tidak semua mengetahui kejadian hari itu yang dimanipulasi darren. Tentu saja hanya beberapa gadis yang mengetahuinya. Karena beberapa gadis itu selalu siap menelan mentah-mentah perkataan dari darren.
"Darren, sekarang ini kau sangat kekanakan" ucap seorang gadis yang tak lain dan tak bukan adalah kezia si ranking 2.
"Sadarlah lebih baik kau belajar saja agar skor mu yang seperti ukuran sepatu itu bisa meningkat" sambungnya lagi membuat beberapa orang menaruh cemooh pada darren karena dipermalukan terang-terangan. Niatnya ingin mempermalukan arin namun dia sendiri lah yang akhirnya harus menahan malu.
Kezia si gadis ranking dua dikenal memiliki kata-kata yang melukai jika ada yang menggangu nya, jenis seseorang yang tidak bisa di bully lebih tepatnya. Sekarang ini memang darren tidak menggangu nya secara langsung, tetapi darren membuat keributan yang menggangu konsentrasinya untuk belajar mandiri.
Kezia yang tenang dan tajam seperti itu mengamati...
Chan dan Arin.
Ada apa dengan si chan cupu itu pikirnya, kenapa diam saja saat gadis yang disukainya setengah mati itu diganggu terang-terangan oleh orang lain. Benar-benar penakut pikirnya lagi. Bagus saja chan memberi penolakan padanya waktu itu.
"kalau tidak apakah saat ini aku akan berkencan dengan pemuda cupu sepertinya," pikir kezia membuatnya bergidik ngeri.
......................
Sepulang sekolah ...
Suasana kelas semakin sepi, dari yang ramai hingga satu persatu meninggalkan kelas untuk menjalani kegiatan selanjutnya. Layaknya seorang pelajar yang mengejar waktu untuk les tambahan atau bersenang-senang bersama teman.
Suasana kelas yang sepi semakin sepi karena tertinggal arin dan chan saja yang berada di kelas. Sedang apa arin?
Tentu saja si cantik itu tertidur, angin sore yang sejuk berusaha menyelinap masuk melalui celah jendela. Belakangan ini udara memang semakin dingin, tetapi udara yang menerobos masuk melalui celah itu terasa nyaman sekali.
Brak!!!
Dentuman cukup keras membangun kan Arin dari tidurnya. Membuatnya tersentak dan segera mencari-cari jam dinding untuk memastikan ....
Pukul berapa sekarang?
Wah gila! Sudah lewat setengah jam dari waktu pulang mengapa aku tertidur selama ini. Pikir arin.
Untung saja dentuman keras itu terjadi sehingga dia bisa terbangun dari lelap nya. Tetapi berbicara soal dentuman, ngomong-ngomong itu dentuman apa ya.
Pikir arin bertanya-tanya dalam isi kepalanya, pasalnya setelah ia terbangun yang tersisa di ruangan hanyalah dirinya dan si jangkung chaiden. Chaiden pun hanya belajar dengan tenang di meja nya yang berada di urutan nomor 2 dari pintu masuk.
Tidak mungkin kan dia stress belajar dan akhirnya menggebrak meja dengan sengaja akibat lampiasan kegundahannya akan belajar. Seperti nya chan bukanlah orang yang demikian.
"Sudahlah tak perlu dikhawatirkan sebaiknya aku bergegas ke Florist" ringkas arin dan langsung membenahi ransel nya.
Arin sengaja keluar lewat pintu dari sisi belakang kelas, agar ia tak bertemu dengan chan karena untuk menuju pintu depan tentunya akan sangat canggung melewati chan tanpa berkata apa-apa.
Pelan-pelan arin bergegas segera keluar kelas menuju pintu di sisi belakang kelas. Berharap langkah kaki nya tidak mengganggu konsentrasi chan, dan juga berharap chan tidak mendatanginya tentu saja. Bisa jadi urusan panjang jika tidak bisa menolak ajakannya seperti waktu makan malam itu.
Arin segera bergegas lagi keluar kelas melewati anak tangga satu persatu untuk turun ke lantai dasar. Entah mengapa hatinya benar-benar tidak nyaman. Setelah mendapat nilai yang bagus berkat chan, bukannya ia harus berterimakasih terlebih dahulu.
Tetapi arin akan sangat malas berurusan dengan dengan chan, tetapi tetap saja jika pergi seperti ini saja benat-benar seperti orang yang tidak tahu diri.
"menyebalkan" desis arin saat dirinya sudah berada di penghujung lapangan sekolah.
...
"Chan, apa kau bersedia mengajari ku?"
Apakah ini langkah awal kedekatan chan dengan arin?