BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Mengingat kembali (2)



"Jela, ayo minta maaf pada arin" ajak guzel sambil menarik tangan angela.


Tetapi ajakan itu ditolak mentah-mentah oleh angela, yang bahkan langsung menepis pegangan guzel.


"Tidak mau!"


"Ayolah, arin pasti memaafkan kita. Setidaknya ayo beri penjelasan padanya, saat ini ia benar-benar sendiri" ucap guzel yang mencoba menjelaskan kondisi arin.


"Kau tak kasihan padanya? Arin itu teman kita" tambah guzel lagi.


Angela hanya terpaku diam memasang tampang tidak suka bahkan ekspresi benci terpancar jelas di wajahnya. Jangan kan meminta maaf, sepertinya berbicara dengan arin saja ia tidak akan sudi untuk saat ini. Karena bagi angela, arin lah yang salah karena sudah merebut jake darinya.


"Kalau begitu kau sendiri saja, aku tak ada niat berbicara dengannya" jawab angela akhirnya yang memberi penolakan pada guzel.


Guzel yang mendengar itu langsung saja sedikit syok, benar-benar tak menyangka bahwa angela ...


Sejak kapan angela menjadi sebenci itu dengan arin, seingat guzel, sebelum ini semuanya baik-baik saja. Justru arin lah yang harusnya marah pada mereka berdua. Bukannya malah angela.


"Dia yang salah, sudah mengambil jake dari ku" ujar angela lagi.


Kali ini guzel yang sudah syok dibuat semakin syok dengan pernyataan angela. Oh jadi ini adalah semata-mata karena kecemburuan. Tetapi tetap saja, di sini arin adalah korban, kenapa si angela budak cinta ini malah membela si jake berengsek itu.


"Jela kau sudah gila ternyata, ya sudah ambil sana jake mu itu. Pastikan ia menjauh dari arin, sudah cukup arin menanggung semua ini karena kebodohan mu" ucap guzel akhirnya yang sudah lelah mengajak angela untuk meminta maaf pada arin.


Karena tetap saja jika angela tetap berpikiran seperti itu, maka yang salah tetaplah arin. Entah apa yang diberikan jake padanya sehingga angela benar-benar menjadi seperti ini.


"Tidak bisa" ujar angela lirih, yang tidak terdengar terlalu jelas bagi guzel.


"Kau ngomong apasih jel...." belum sempat guzel melanjutkan kata-katanya, angela langsung berteriak di depan guzel.


"KARENA JAKE SUKA ARIN!"


"Dan kau tahu guzel? Aku tak bisa membenci nya, justru aku malah lebih benci pada arin karena disukai oleh jake" ucap angela lirih yang kini matanya sudah berkaca-kaca.


Sudahlah pikir guzel, tak ada gunanya berbicara dengan orang yang sudah dibutakan seperti angela.


"Kau jangan menyesal ya, dasar sampah" ucap guzel akhirnya dan berjalan meninggalkan angela yang kini sudah berderai air mata.


"Sekarang pun kau lebih memilih arin dari pada aku kan? Kenapa semua orang lebih menyukai arin dibanding aku?!" tanya angela, dan itu membuat guzel mengehentikan langkahnya.


"Saat datang ke pesta itu pun kau tiba bersama arin"


"Saat les tambahan kau juga akan duduk di sebelah arin dan meninggalkan ku duduk sendirian terpisah dari kalian"


"Saat membeli dango pun, kau hanya akan mencoba punya arin saja tanpa mencicipi sedikit pun makanan yang ku beli"


"Dan lagi kau tak pernah ada saat ku ajak pergi berdua saja, tetapi saat ku katakan ada arin, kau langsung dengan cepat bergegas lebih dulu"


Isi hati angela, bertubi-tubi ia keluarkan bagai tak bisa dibendung nya lagi, hingga membuat ledakan kesedihan.


Guzel pikir justru karena ia sudah lebih lama berteman dengan angela, sehingga angela bisa lebih mengerti dirinya. Sedangkan arin, mereka baru bertemu di sekolah ini saat penerimaan murid baru.


Akan sangat kasihan bagi arin, jika mereka berdua guzel dan angela duduk bersama, sementara arin sendirian. Lagi pula guzel juga berpikir bahwa angela yang ceria itu jika berpisah dari mereka pasti akan bisa menemukan orang lain untuk duduk bersenda gurau bersamanya di tempat les.


Sedangkan arin, yang sedikit pemalu jika dibiarkan duduk sendirian tentunya pasti akan sangat kesulitan. Tetapi justru hal itu, hal sekecil itu malah membuat angela memendam perasannya selama ini.


Sungguh, tak terbesit sedikitpun bagi guzel untuk membedakan mereka berdua. Tetapi guzel juga tak menyangka bahwa hal itu lah yang membuat mereka bertiga saat ini saling menyakiti.


"Dari awal kaulah penjahatnya, coba saja kau berbicara dengan arin, kalau kau masih punya malu kau tidak akan bisa melakukan itu" ujar angela lagi yang sudah meluapkan perasannya itu dan kali ini ia yang pergi meninggalkan guzel.


Guzel yang ditinggalkan di sana masih termenung, dan mencoba mencerna baik-baik perkataan angela. Tunggu! Kenapa malah ia yang menjadi penjahatnya?


"erghh jela sialan" jerit guzel dalam hati yang kali ini mengacak-acak rambutnya itu.


...


Baru saja guzel hendak kembali ke kelas, tak disangka ia malah menemukan arin di sekitaran tempat nya bersama angela barusan. Ia hendak menemui arin, tetapi perkataan angela tadi terbayang-bayang dalam ingatannya. Sehingga membuatnya mundur kembali untuk menemui arin.


Dalam pikiran guzel, akan sangat tak tahu malu jika ia menampakkan diri di depan arin saat ini, seperti yang guzel katakan. Lalu tanpa sepatah kata pun guzel beranjak dari sana dan kembali ke kelas. Guzel pikir seperti nya ini bukan waktu yang pas untuk berbicara dengan arin.


Hari-hari berikutnya pun guzel belum juga menemui arin untuk sekedar memberi penjelasan. Karena kali ini keberaniannya benar-benar sudah hilang, dan lagi arin yang sudah tak berekspresi belakangan ini, sudah sangat asing baginya.


Guzel tak tahu harus memulai dari mana untuk mengakhiri semua ini. Dan jika tatapan mereka bertemu, arin hanya akan mengalihkannya seperti bertatapan dengan orang asing, dan itu sungguh menyiksa guzel.


Guzel bertanya-tanya, apakah angela juga merasakan hal yang sama dengannya.


...


Seminggu sejak kejadian itu, arin tak lagi pergi ke SS. Sehingga membuat guzel tak lagi memiliki banyak waktu bersama arin, dan juga angela. Bagai tak memiliki kesempatan lagi bagi guzel untuk menyelesaikan masalah mereka bertiga itu.


Karena tak lama arin berhenti pergi ke SS, angela pun menyusul, tersisa guzel seorang diri.


Begitulah pertemanan mereka berakhir.


......................


Sementara itu untuk mengisi kekosongan dan pikiran-pikiran buruk yang memenuhi arin, kini ia memutuskan untuk bekerja di the florist. Karena ia yang juga tak betah menghabiskan waktu berlama-lama untuk belajar setelah keluar dari SS. Terlebih lagi ia sekarang sudah tak punya teman untuk sekedar menghilangkan stres bersama.


Syukurlah tak lama setelah itu ujian akhir semester diadakan dan liburan sekolah pun tiba, sehingga bisa membuatnya bisa terbebas sebentar dari tatapan dan cemooh yang menggunjing nya sebagai gadis murahan.


Arin pikir karena sudah libur dan waktu berlalu cukup lama, ternyata tak semudah itu untuk mereka melupakan nya. Karena setelah masuk ke semester baru pun, beberapa orang masih juga menganggu nya dan menawarnya untuk tidur bersama mereka seperti yang dilakukan oleh jake.


Sialan!