
Jam istirahat ketiga telah tiba, karena ini adalah karena ini adalah musim dingin sehingga akan menjadi olaf jika pergi ke taman seperti saat musim panas. Ngomong-ngomong tentang olaf, sepertinya akhir bulan ini ada film 'olaf and the princess' akan tayang.
Wah arin jadi semakin tak sabar untuk menonton film itu, bersama chan dan teman-temannya. Sebelumnya film genre aksi LOOKSMOOTH yang mereka tonton memberikan ending yang kurang memuaskan karena membuat nya merasa seperti digantung. Tetapi jika menonton film olaf pasti akan sangat menyenangkan.
"Chan olaf akan tayang akhir bulan ini, mau menonton bersama?" tanya arin pada chan yang sedang memilih cemilan nya.
Yah sekarang mereka ini sedang berada di minimarket kecil yang dikelola oleh sekolah, karena sudah melewati jam makan siang, jadi jam istirahat ketiga ini paling pas untuk mengunyah cemilan kecil-kecilan saja.
"Kau suka genre seperti itu ternyata! Ayo saja" ucap chan, tak lupa memberikan senyumnya pada kekasihnya itu.
Akhirnya usai membeli cemilan, mereka duduk di kursi kosong yang tersedia di minimarket. Karena ini adalah musim dingin pastinya kursi di dalam minimarket akan diincar oleh siswa lain, karena tak bisa duduk di luar tentunya.
Sehingga dengan sigap dan cepat mereka berdua mengambil kursi kosong yang ada di sana, dan memposisikan kursi mereka tepat di kaca transparan mini market. Chan dan arin menikmati cemilan yang mereka beli, dan juga minuman hangat yang mereka pilih.
Kali ini mereka hanya berdiam saja menikmati pemandangan luar yang mengarah pada lapangan sekolah. Terlihat beberapa orang yang kedinginan karena tersiram oleh hujan es, sambil memeluk tubuhnya.
Arin memandangi itu, pemandangan yang terlihat seperti fenomena putih yang tercipta di lapangan sekolah itu. Sedangkan chan, ia malah memandangi arin yang terlihat berkali lipat lebih cantik pada pencahayaan ini. Lagi-lagi chan jatuh cinta entah untuk yang ke berapa kali nya pada arin.
Arin yang menyadari itu langsung saja bersikap canggung, dan mencoba mencairkan suasana. Mata mereka bertemu, dan semakin menyebabkan kecanggungan di antara mereka. Padahal sudah berapa lama sejak pertama mereka berkencan, tetapi masih saja tercipta suasana canggung jika tak sengaja bertatapan.
Tetapi itu tak berlangsung lama saat arin langsung membuka percakapan di antara mereka.
"Ada apa? Kenapa menatap ku begitu?" ucap arin yang masih memperlihatkan ekspresi malu-malu di wajahnya.
"Aku hanya tak menyangka bisa berkencan dengan gadis secantik diri mu" ucap chan dengan jujur mengutarakan isi hatinya.
"Apa sih!" jawab arin cepat.
Tentu saja jawaban chan itu membuat arin semakin salah tingkah dan malu-malu, kini kedua pipinya sudah memerah layaknya kepiting rebus. Entah sejak kapan ia merasa seperti ini jika ada yang mengatakan nya cantik. Padahal dulu saja jika ada yang berkata demikian terutama laki-laki, sudah pasti arin langsung kesal dan menganggap bahwa orang itu hanya menilai berdasarkan wajah saja.
Tetapi kini saat chan yang mengatakan itu padanya rasanya sangat mendebarkan dan juga ... Menyenangkan. Dan arin suka itu.
"Arin sebenarnya sudah lama aku ingin menanyakan ini" tanya chan lagi yang membuat arin sedikit penasaran.
"Ibu ku sudah lama ingin mengajak mu untuk menemani nya berbelanja, apa kau bersedia?" tanya chan yang tak langsung di jawab oleh arin.
Melihat ekspresi arin yang penuh keraguan, akhirnya chan bermaksud untuk menarik kembali kata-katanya itu.
"Bukan apa-apa, lupakan saja" ucap chan akhirnya.
Dan lagi karena tak pernah diperlakukan sebaik ini, arin terkadang merasa tak enak hati dan sedikit terbebani dengan ini semua. Entah apa karena ia sudah terbiasa diperlakukan seperti sampah seperti yang sebelumnya oleh sekitarnya. Sehingga jika malaikat seperti chan mendatanginya, ia malah akan langsung menolak karena merasa tak cukup pantas untuk menerima kebaikan itu.
"Apasih ngomong yang jelas dong!" ucap arin yang ingin sekali lagi mendengar chan mengutarakan permintaan itu.
"Begini arin, dari dulu ibu sangat menginginkan anak perempuan. Jadi saat melihat mu ia langsung ingin mengajak mu menghabiskan waktu bersama tahu" jelas chan.
"Sudah lama ibu ingin melakukan itu, salah satunya berbelanja dengan mu. Tetapi aku yang selalu melarang ibu karena takut kau tidak nyaman karena itu" tambah chan.
Mendengar penjelasan dari chan, akhirnya arin memberi persetujuan untuk menemani ibu chan menghabiskan waktu dengan berbelanja di weekend ini.
"Ya sudah, kau tak keberatan kan jika harus menjemput ku hari sabtu ini?" tanya arin.
Pertanyaan itu sudah pasti memiliki jawaban yang jelas, mana mungkin chan keberatan untuk menjemput arin.
...
Tak terasa waktu istirahat ketiga sudah berakhir, kali ini mereka kembali ke kelas setelah menyisakan sedikit cemilan yang mereka beli karena tak sanggup jika menghabiskan semuanya. Saat kembali ke kelas mereka, arin dan chan menjelaskan tentang rencana mereka yang ingin menonton film olaf akhir bulan nanti.
Tentu saja rencana itu disambut senang dengan cha dan alfin. Leo? Tentu saja leo juga senang. Tetapi setelah dilihat-lihat, sepertinya leo akhir-akhir ini menjadi semakin tertutup dan bahkan tak banyak bicara. Padahal sebelumnya ia selalu menggoda chan jika ada kesempatan.
Tetapi sudahlah, entah karena musim yang dingin ini yang juga membuatnya menjadi semakin dingin atau ia hanya sedang tidak berada dalam mood yang baik.
"Leo!" panggil arin, yang menyadari perubahan leo itu.
"Kau ikut kan untuk melihat film olaf?" tanya arin yang membuat ketiga temannya memandang leo bersamaan dan membuat leo tersadar dari lamunannya.
Tersadar dari lamunannya dan mendapati cha juga memandang nya menunggu jawaban, leo langsung saja mengiyakan pertanyaan arin. Dan langsung berbalik arah ke depan lalu menyibukkan diri dengan beberapa buku bacaan.
Mereka berempat langsung saja tersenyum lega akan jawaban leo. Tetapi entah mengapa rasanya masih seperti ada yang mengganjal, mengapa leo, bersikap demikian? Sangat asing rasanya jika leo yang sedikit konyol dan usil itu mendadak menjadi pendiam dan bersikap layaknya pemuda cool di novel-novel.
Oh tunggu!
Apakah leo memang ingin bersikap begitu? Ia ingin meniru pemeran utama pria di novel-novel untuk menarik pemeran utama wanita?
Haha pikiran konyol arin muncul lagi. Mana mungkin itu terjadi, eh tetapi bisa saja, tak ada yang tak mungkin.