BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Rumah cha



Seperti saat ini, saat hendak memilih jepitan rambut yang ada di sana. Ada beberapa jepitan lucu di sana. Leo memilihkan nya untuk cha, tetapi cha justru memilih jepitan yang tak dipilih leo.


Usai selesai berbelanja dan melakukan pembayaran di kasir, leo langsung saja mengangkat kedua plastik besar yang berisi belanjaan itu.


"Berat ya?" tanya cha memastikan pada leo, karena cha bisa membantu untuk membawa yang satunya, tetapi leo malah melarangnya.


"Tidak kok ini biasa untuk seorang lelaki" jawab leo bangga menunjukkan kemampuannya itu pada cha.


Akhirnya mereka berjalan, leo mengikuti cha tanpa tahu kemana arah tujuan mereka sekarang.


"Ayo kita mampir di toko itu, ada banyak kue yang cantik sepertinya terlihat lezat" ajak leo.


"Tidak mau, besok aku akan bekerja" tolak cha cepat.


Selang beberapa lama setelah mereka berdua berjalan ke arah halte bus, akhirnya cha membuka suara.


"Mau ke rumah ku?"


Beberapa kata itu membuat leo mati beku. Tumben sekali cha mengajaknya lebih dulu, terlebih lagi ke rumah nya pula.


Ini pertama kalinya leo akan ke rumah cha, karena terakhir kali saat mereka menonton film LOOKSMOOTH, leo tak bisa ikut karena harus pulang usai di telepon ibunya. Leo jadi bertanya-tanya, ada apa ya dengan cha sampai mengajak nya ke sana.


....


Bus tiba dan mereka berdua segera masuk ke dalam, dan mengambil kursi untuk duduk bersama di pojokan itu.


Selama perjalanan menuju halte pemberhentian berikutnya cha hanya menghabiskan waktunya menatap ponsel, dan tentu saja leo ikut menatap ponsel itu.


Leo melihat betapa sibuknya cha akan pekerjaannya itu. Bagaimana mungkin cha bisa bekerja dengan jadwal sepadat itu usai pulang sekolah setiap harinya.


Leo jadi sedikit iba....


"Kau tak lelah?" tanya leo dengan mata yang sendu yang menyiratkan kepedulian yang mendalam.


Cha yang menerima pertanyaan itu hanya menatap leo sejenak dan melebarkan mata dan senyumannya, yang memberi isyarat bahwa ia tak lelah sama sekali.


Bohong....


Leo tau cha berbohong tentang itu, karena sudah pasti dari tatapan cha saat ini sekalipun ia berusaha menutupinya tetap saja terlihat bahwa cha memang kelelahan.


Tak selang berapa lama tibalah bus itu di halte yang di tuju mereka untuk berjalan ke rumah cha. Yah perjalanan dari halte menuju rumah cha berjarak sekitar 800 meter.


Turun dari bus cha langsung berjalan duluan mendahului leo yang masih setia mengangkat 2 kantong besar belanjaan itu.


.....


Usai sampai di rumah cha, mereka berdua langsung masuk. Dan betapa kagetnya leo bahwa cha hanya tinggal di apartemen studio yang berukuran kecil ini. Terlebih lagi setelah leo mengingat bahwa cha tinggal bersama ibunya.


Leo menerka-nerka lagi, bahkan ruang santai keluarganya saja 3 kali lebih besar dibanding kamar studio ini.


"Kau bisa duduk di sana, dan letakkan di sini belanjaannya" ucap cha menunjuk sofa kecil di tengah ruangan itu.


Cha membereskan belanjaan itu lalu memberikan leo segelas coklat hangat dan beberapa cookies yang barusan di belinya.


"Terimakasih Cha" ucap leo setelah sajian coklat hangat itu.


Lagi dan lagi meskipun mereka berhadapan saat ini, tetap saja cha masih sibuk dengan ponselnya yang berdering sedari tadi. Sementara itu leo hanya melanjutkan untuk menikmati coklat panas buatan cha.


"Cha ini lezat sekali" ucap leo memuji coklat panas itu.


"Tidak usah berlebihan itu hanya coklat sachet yang diskon di supermarket" jawab cha singkat dan datar.


Yah coklat itu juga ada coklat yang disajikan hari itu di saat alfin, leo dan arin pertama kali datang ke sana.


Leo jadi sedikit malu mendengar jawaban cha, padahal ia memuji itu hanya ingin agar mereka tak diam saja di dalam ruangan ini saat ini.


Astaga lagi-lagi pikiran leo berlari entah kemana-mana.


Tiba-tiba cha beranjak dari situ dan mengambil air putih di dalam cangkir yang lumayan besar sekitar berukuran 1,5 liter.


Cha kembali ke tempat duduknya semula dan langsung menelan habis air itu.


"Aku sedang diet, abaikan saja aku" ucap cha untuk mengatasi rasa penasaran leo yang menatapnya dengan tatapan sendu itu.


....


Setelah terdiam cukup lama, akhirnya cha membuka suara lagi.


"Kau sudah lihat kan bagaimana aku" ucap cha yang tentu saja membuat leo merasa kebingungan.


"Beginilah aku, yang harus bersempit-sempitan di bus setiap harinya. Hanya meminum coklat diskonan, dan tinggal di kamar kecil ini" tambah cha.


"Kau tahu, ayah ku pergi saat aku berusia 5 tahun dan menikah lagi dengan wanita yang lebih muda"


Cha terus saja meneruskan kata-katanya seolah ingin meluapkan setiap hal yang mengganjal di hatinya pada leo. Agar leo sadar seperti apa kehidupannya sekarang ini, dan seberapa tak pantasnya cha jika bersanding dengannya yang memiliki kehidupan lebih dari cukup itu.


Cha hanya ingin leo tahu, tentang bagaimana kehidupannya agar leo tak hanya menilai cha dari luar saja sebagai gadis yang ceria. Agar leo membuka matanya, bahwa gadis sepertinya bukanlah sosok yang cocok untuk menjalin hubungan bersamanya.


Apalagi tujuan cha membiarkan leo dekat dengannya terkadang hanya untuk bermain sedikit sebagai penghiburan di tengah kegundahannya. Yah cha akui mempermainkan pangeran leo sangat menyenangkan dan cha suka itu.


Jadi cha ingin setelah ini, setelah cha membeberkan semuanya, leo segera sadar dan membuat keputusan untuk berhenti mengejar cha.


"Saat kecil aku tinggal cukup lama di kamar kost yang banyak kecoa nya bersama ibu"


"Dan sekarang untuk menyewa tempat ini saja aku dan ibu harus bekerja keras"


"Kau lihatkan perbedaannya? Kamar kecil seperti ini pasti hanya dianggap gudang oleh mu dan keluargamu yang kaya itu. Oh tidak bahkan pastinya gudang di rumah mu lebih besar dari pada kamar ini." tambah cha panjang lebar.


"Jadi leo, pikirkanlah lagi, tak ada untungnya menjalin hubungan dengan gadis miskin seperti ku. Yah seperti yang kau lihat, untuk bisa hidup seperti ini saja butuh usaha keras yang harus ku jalani setiap harinya"


"Sementara kau...."


Cha menghentikan ucapannya, dan langsung menunduk lirih. Seolah ia tak membiarkan leo mengintip matanya yang sudah berlinang air mata itu.


"Aku ingin menghancurkan keluarga ayah ku, karena itu ku mohon jangan buat aku goyah dengan setiap sikap mu yang penuh perhatian itu" ucap cha lagi yang kini menatap leo dengan tatapan sendu.