BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Menyambut musim semi



Masih di dalam dekapan chan, arin bertanya tentang kepergian chan ke milan itu. Tetapi chan tak nenjawab, namun terdengar jelas oleh arin bahwa degup jantung chan saat ini semakin tak beraturan dan menjadi laju.


Arin senang, tentu saja!


Akhirnya ia tak menghabiskan malam yang indah ini seorang diri saja. Sehingga malam ini menjadi lebih indah karena ada chan di sisinya. Entah sejak kapan ia menjadi senyaman ini dengan chan.


Tidak tahulah, namun yang pasti sekarang ia pasti sudah jatuh hati yang teramat dalam pada lelaki yang sedang di dekapnya ini.


Berpikir sejenak, arin menjadi memikirkan hal yang aneh, bagaimana jika nantinya chan meninggalkannya seperti yang lain. Atau bahkan menjadikan arin bulan-bulanan lagi seperti yang sudah-sudah.


Entahlah hal itu membuat arin tanpa sadar menjadi menangis. Air matanya yang menetes itu membasahi sedikit mantel chan.


Chan yang menyadari itu langsung saja memastikan kondisi arin.


"Arin?! Kau tak apa-apa?" tanya chan khawatir saat melihat mata arin yang sudah menjadi sembab.


Arin hanya menggeleng dan mencoba membersihkan air matanya itu. Menyapunya dengan buru-buru dengan kedua tangannya.


Chan yang khawatir langsung saja membawa arin ke tempat yang lebih hangat. Di sana ada sebuah restoran yang sudah di dekor indah layaknya suasana natal. Dan di sanalah Chan mencoba menghibur arin.


"Chaiden, kau jangan pernah meninggalkan aku ya, aku nggak tau lagi harus bersama siapa tanpa kau" ucap arin tersedu-sedu.


Chan yang menerima pernyataan itu langsung saja merasa ada yang aneh dengan arin. Bagaimana bisa kalimat seperti itu keluar dari seorang arin?


Tetapi tentu saja! untuk apa chan meninggalkan arin, justru bagi chan, ia adalah orang yang paling beruntung karena bisa berkencan dengan gadis seperti arin setidaknya itulah yang selalu ada di pikiran chan hingga saat ini.


"Pokoknya kalau kau memang mau pergi, setidaknya beri tahu aku alasannya" ucap arin yang masih menangis.


"Sampai sekarang sepertinya hanya kau yang benar-benar peduli dengan ku" tambah arin lagi yang menatap chan dengan tatapan penuh harap.


Chan bahkan tak jadi ke milan dan malah ke mari menemuinya. Bagaimana bisa ia malah kembali dari bandara, ke sini hanya untuk menemui arin. Hal itulah yang membuat arin merasa terharu dengan sikap chan yang peduli itu.


Ibunya saja masih sibuk bekerja dan bahkan tak meluangkan waktu hanya untuk satu malam saja.


Sementara chan....


Padahal mereka akan bertemu lagi saat liburan musim dingin berakhir. Atau bahkan jika keluarganya sudah pulang dari liburan ke luar negeri. Tetapi chan malah mendatangi arin di malam ini, karena tahu bahwa arin lagi-lagi akan sendirian merayakannya.


Yah chan memang benar-benat perhatian sekali! Dan arin akui itu membuat arin sendiri semakin jatuh hati pada chan.


Di sela tangisnya, arin jadi tiba-tiba terpikir hal konyol lagi, apa ia lamar saja chan ya. Tak perlu menunggu chan yang melamarnya.


Benar-benar konyol pikir arin lagi dan itu malah membuatnya tertawa dan membuat chan terheran-heran lagi.


Tetapi syukurlah pikir chan, kini arin sudah tak menangis lagi.


"Ayo kita makan dulu sebelum pulang, kau pasti lapar kan?" ucap chan pada arin.


"Tidak, aku sudah makan kok. kita jalan-jalan saja" ajak arin pada chan.


Tanpa sadar kali ini arin lah yang beraksi, kini arin tanpa peringatan menggandeng tangan chan dengan erat yang membuat chan menoleh langsung ke arahnya.


Usai itu chan malah menjadi kegirangan sendiri, dan ingin mempertahankan momen ini untuk waktu yang lama.


Sehingga chan langsung saja mengubah gandengan itu menjadi genggaman, lalu memasukkan genggaman itu ke dalam saku mantelnya.


Berjalan berdua saja menyusuri setiap sudut keramaian, dan hanya memandangi pemandangan yang ada.


Tak ada kata yang diutarakan, namun mereka satu sama lain bisa merasakan betapa saling menyayanginya mereka sekarang ini.


"Huh rasanya jadi tak ingin kembali" pikir arin.


......................


Tak terasa sudah sebulan sejak hari itu, hari di mana mereka berdua chan dan arin merayakan malam natal berdua dengan suasana hati yang damai.


Kini sekolah kembali dimulai, dan membuka awal baru di semester genap kelas 11.


Karena ini baru hari pertama bersekolah, sehingga tak ada pemandangan siswa dan siswi yang sudah sibuk dengan buku pelajaran. Melainkan semuanya asik untuk membicarakan setiap kegiatan liburan mereka.


Tak terasa sebentar lagi sudah musim semi, rasanya sudah sangat risih memakai mantel tebal saat ini. Menyambut musim semi, biasanya akan diadakan festival penyambutan musim semi yang diadakan oleh sekolah.


Biasanya sih acara ini juga menjadi acara pertunjukan bakat para siswa dan siswi di EnR. Karena tak sedikit siswa dan siswi yang menyodorkan diri untuk tampil memberi hiburan baik melalui vokal solo, menari, hingga musik band.


Yah selain belajar dengan giat, ternyata siswa dan siswi EnR juga punya bakat di bidang lain.


Melihat itu arin menjadi sabar kembali, betapa menyedihkannya dirinya. Baik belajar maupun seni festival, semuanya tak ada yang bisa dikuasainya, sehingga tak ada juga yang bisa ditunjukkannya untuk bergabung di acara itu.


Tapi meskipun begitu akan seru sekali jika menonton setiap orang yang tampil di situ. Tahun lalu juga, ah sial tahun lalu adalah masa kelam arin rupanya.


Yah meskipun begitu tetap saja arin melihat dari jauh acara festival itu. Arin menyukainya, terutama bagian tarian itu, para gadis menari dengan semangat. Lalu saat itu juga arin ingat!


Ada pemuda yang memberinya coklat dan mengucapkan untuk bersemangat padanya. Karena saat itu adalah masa-masa terburuknya, yah arin akui kata semangat dari pemuda itu cukup untuk membuatnya kembali tersenyum sebentar sebelum konfliknya dimulai kembali.


Tapi ya sudahlah itu adalah masa lalu. Masa sekarang adalah yang paling penting, tak ada gunanya mengingat-ingat masa kelam begitu. Yang penting saat ini ia sudah memiliki teman-teman untuk tempatnya bersandar.


"Aku akan tampil di festival itu" ucap cha penuh percaya diri.


Hal itu langsung saja membuat teman-temannya terkejut. Yah seperti biasa mereka berlima berkumpul, tentu saja tanpa mali dan asa karena mereka yang sedang memberikan oleh-oleh dari Thailand pada miss deana.


"Memangnya kau bisa apa?" tanya leo meremehkan.


"Aku akan stand up komedi" ucao cha yang menimbulkan keheranan besar pada keempat temannya.


"Sadarlah Cha!" ucap arin.