BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Belajar di kamar arin



Aku ingat dengan jelas saat itu, saat dimana aku juga tak berdaya menghadapi bedebah jake. Dia yang cukup kuat saat itu, sementara aku yang ringkih dan hanya tahu akan belajar, mustahil bisa menang dari nya.


Asal kau tahu saja arin, aku bisa menjadi kuat seperti sekarang ini itu semua kulakukan untuk melindungi mu. Untuk melindungi mu dari bedebah dan lalat-lalat seperti jake. Tetapi sepertinya hingga kini aku seolah tak diberi kesempatan untuk melakukan itu.


Entah karena demikian atau justru karena aku yang tak memiliki keberanian besar untuk maju lebih dahulu.


Sejak kejadian hari itu kulihat kau menjadi semakin murung, kau yang biasanya kulihat bersama dua gadis lain yang juga familiar itu. Kini kau hanya seorang diri, sudah seperti itu pun aku masih tak memiliki keberanian untuk menghampiri mu. Tatapan mu yang kosong itu membuat hati ku terasa pedih.


Tak ada yang bisa kulakukan, dan itu membuat ku lebih sakit. Sakit dan pedih saat kutahu tak ada yang bisa ku lakukan untuk melindungi gadis yang ku sukai.


Hal itu membuat ku seolah ingin menyakiti diri ku sendiri, agar aku bisa merasakan hal yang sama dengan mu. Tetapi tentu saja itu mustahil, sehingga kekesalan yang menguak dari dalam diri ku itu ku lampiaskan untuk memukuli batang pohon.


Tangan ku terluka, rasa nyeri itu menyesap masuk melalui setiap kulit jari-jari tangan ku yang terluka. Tetapi tak masalah, dengan begitu aku bisa melampiaskan amarah ku.


Selang beberapa minggu kemudian aku ingin bersungguh-sungguh untuk menekuni seni bela diri kick boxing. Selain untuk melindungi mu, aku merasa ... aku hanya merasa lebih hidup.


Seperti ada yang ku perjuangkan dalam hidup. Itu juga seperti memberi gebrakan besar bagiku. Aku yang hanya tahu belajar ini, mendadak memiliki keinginan lain dalam hati ku yang terdalam.


Arin tak bisakah kau melihat ke padaku sekali saja?


Bagas pov end


......................


Suasana sekolah hari ini terasa seperti membekukan. Hamparan salju yang sudah turun selama satu malam itu sudah cukup banyak dan memenuhi kawasan lapangan sekolah. Sehingga murid yang melewati hamparan itu berusaha berhati-hati agar tidak terpeleset.


UTS diadakan dengan sangat lancar, dan tak terasa lagi bahwa esok adalah hari terakhir UTS dilaksanakan.


Saat ini karena UTS sudah dilaksanakan, maka siswa dan siswi bisa keluar kelas. Satu persatu meninggalkan ruangan kelas, untuk menuju perpustakaan, pusat belajar atau bahkan kembali ke rumah.


Arin yang masih membenahi isi tas nya, ditunggui oleh chan yang sudah selesai dari tadi di tempat duduk nya.


"Chan untuk belajar matematika hari ini, mau melakukan nya di rumah ku?" tanya arin sedikit gugup, takut jika chan menolak ajakannya itu.


Chan tentu saja akan sangat senang, belajar bersama dan kali ini mereka melakukan nya di kediaman arin. Rasanya chan ingin segera terbang sekarang.


"Boleh! Ayo. Di mana saja yang penting kau nyaman" akhirnya jawab chan dan sedikit menutupi dirinya yang sedang berbunga-bunga saat ini.


Karena ini adalah waktu UTS, alfin dan leo menjadi sibuk untuk belajar. Sehingga sangat damai rasanya bisa berdua dengan arin tanpa diganggu dua mahkluk itu. Cha pun sama, ia juga menjadi sibuk bekerja paruh waktu dan belajar. Sesekali ia meminta arin untuk mengirim catatan nya untuk di pelajari di sela-sela bekerja.


Mereka menuju tempat tinggal arin dengan berjalan kaki. Di jalan mereka membeli beberapa cemilan hangat yang terjaja di pinggir jalan untuk di nikmati sambil belajar. Oh lagi-lagi ada odeng dengan kuah rempah nya yang hangat. Usai membeli makanan yang diinginkan mereka pun sampai di kediaman milik arin.


Arin yang juga merasa bahwa kondisi rumah nya itu kini seperti tak ada kehidupan langsung saja menyalakan lampu. Nah, jika sudah dinyalakan lampu itu ruangan nya menjadi terasa nyaman. Usai perkara lampu, kini perkara penghangat pun muncul.


Kondisi ruang tamu arin saat ini sangat dingin karena angin luar yang bertiup masuk melalui ventilasi. Penghangat di rumah ini hanya ada dua, di kamar arin dan kamar ibu arin, begitu juga dengan AC.


Karena memang arin dan ibu nya tak pernah berada di ruang tamu jika tidak benar-benar di perlukan. Dan lagi tak ada tamu juga yang berkunjung ke rumah mereka, sehingga tak perlu repot-repot menyiapkan penghangat dan pendingin di ruang tamu.


Gawat, kalau begitu harus kah mereka belajar di dalam kamar saja?


Berdua saja?


"Chan, kalau belajar di kamar ku saja tak masalah kan? Di sini tak ada penghangat" jelas arin akhirnya. Arin berusaha menjelaskan pada chan, agar chan tak salah paham.


Mendengar permintaan arin itu, chan hanya mengangguk iya saja, mengikuti alur yang disiapkan oleh arin.


Arin mengisyaratkan pada chan untuk segera masuk terlebih dahulu. Sedangkan ia akan menyiapkan piring dan minuman untuk wadah cemilan yang sudah mereka beli tadi. Oh iya tak lupa arin juga mengambil satu kursi dari meja makan, karena hanya ada satu kursi belajar di kamarnya.


"Chan kalau merasa tak nyaman katakan saja ya" ucap arin yang baru saja tiba sambil membawa peralatan makan itu.


Mana mungkin chan tak nyaman, mustahil!


Justru ini adalah surga baginya saat ini. Masuk di kamar arin, chan memandangi setiap sudut di ruangan itu. Tak banyak yang istimewa, sama seperti kamar seorang gadis pada umunya. Tetapi karena ini adalah kamar seorang arin, debu ruangan pun terasa menjadi istimewa bagi chan.


Aroma kamar ini benar-benar seperti aroma Arin. Aroma stroberi. Chan mencari-cari lagi sumber aroma itu, ternyata benar lotion yang digunakan arin beraroma stroberi.


Chan tersenyum senyum lagi karena mengingat bahwa dirinya saat ini benar-benar berada di kamar arin.


Di suasana kamar arin yang cukup tenang dan dingin itu, kini mulai menghangat. Mereka benar-benar belajar matematika dengan serius tak lupa sesekali mencicipi odeng yang mulai sedikit dingin itu.


Menyadari bahwa makanan mereka yang sudah tidak hangat lagi, mereka langsung dengan cepat menghabiskan makanan nya. Mereka berdua bagai berlomba siapa cepat ia dapat terhadap makanan ini. Saat makanan itu sudah habis mereka saling memandangi dan tertawa lalu belajar lagi.


Momen saat itu benar-benar teringat jelas oleh mereka berdua. Arin yang pertama kali mengundang seseorang ke rumah nya. Dan juga chan yang pertama kali mengonsumsi makanan sebanyak itu. Ternyata makanan micin yang kata ibu tak sehat itu terasa sangat lezat batin chan.


Tak terasa waktu sudah menuju petang mereka yang ternyata sudah belajar selama 5 jam. Tentu saja tak selama lima jam itu dipakai untuk belajar semua tetapi juga sambil bersenda gurau dan makan makanan micin.


Karena belajar cukup keras rasanya seperti lapar kembali.


"Haruskah kita berburu makanan lagi?"