BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Bagaspati Agastya Nakastra



"Melihat salju katanya? Baru saja aku mati beku di luar sana karena berkeliling cukup lama" Pikir arin.


"Baiklah sepertinya kau menolak" Ucap pemuda yang seperti beruang itu melihat raut wajah arin.


"Hei, aku bukan nya menolak, tetapi kita tak sedekat itu untuk sekedar melihat salju bersama" tambah arin untuk membuat pemuda itu berhenti menduga-duga sembarangan.


"Kalau begitu haruskah kita menjadi dekat terlebih dahulu? Seperti nyaa kau tak mengenali ku"


"Tapi aku sudah sangat mengenal mu"


Dua kalimat itu benar-benar membuat arin semakin tak nyaman. ia bukannya tak ingin berkenalan, tetapi mengenal seperti apa yang dimaksud lelaki itu barusan. Yah arin tak terlalu perduli sih, sehingga arin berpikir untuk mengikuti mau nya beruang ini saja sebentar lalu segera pulang.


"Kalau memang begitu harusnya perkenalkan dirimu dulu dong!" akhirnya arin angkat suara lagi.


"Aku bagaspati, sehingga kau bisa memanggil ku dengan nama bagas dan bukan sebutan beruang" ucap nya memperkenalkan diri.


Beberapa kata dari nya membuat arin tertawa, jadi ia tak suka dipanggil beruang rupanya. Yah bukan tanpa alasan arin memanggilnya demikian, hanya saja ukuran tubuh nya yang cukup besar sebagai anak sekolahan membuat terlintas dipikiran arin untuk memanggil nya begitu.


Bagaimana tidak, tingginya yang mencapai 190 sentimeter itu dengan kedua otot yang terlihat meronta ingin menunjukkan diri dari balik seragamnya. Menambah kesan untuk membuatnya terlihat sebagai beruang kekar.


"Begini bagas, aku baru saja kembali setelah berkeliling barusan karena itu aku hampir mati karena beku saat ini" jelas arin pada bagas beruang, maksudnya bagas dari kelas sains itu.


"Dan sekarang aku sedang menghangatkan tubuh sebentar dan akan segera pulang, mengingat besok adalah UTS" tambah arin lagi.


"Kalau tidak percaya kau bisa memegang tangan ku, ini benar-benar dingin kan?" Ucap arin lagi tetapi kini kedua tangan nya sudah ditunjukkan nya kepada bagas untuk pembuktian.


Tetapi melihat itu bagas sepertinya sedikit kecewa dan memutuskan untuk tidak memegang arin saat itu.


"Baiklah aku percaya kok, kalau begitu segera lah pulang, tak baik berada di luar terlalu lama di cuaca sedingin ini. Aku pamit dulu, jaga dirimu" ucap bagas akhirnya yang menyerah untuk mengajak arin melihat salju.


Tak lama setelah itu arin beranjak dari sana dan segera memesan taxi untuk segera pulang kerumahnya. Di dalam taxi ia terpikir cukup lama tentang pemuda bernama bagas itu. Mengapa rasanya, ia seperti pernah bertemu dengan nya tetapi setelah diingat-ingat kembali rasanya ia tak pernah bahkan sekalipun berinteraksi dengan bagas.


Lelah berpikir terlalu banyak, sehingga arin memutuskan untuk memandangi jalan saja tanpa berpikir terlalu memaksa. Tak lama setelah itu ia pun tiba di tempat tujuannya.


Dalam belajar nya, ia mendadak jadi sedikit tidak fokus karena terpikir tentang bagas lagi, sebenarnya siapa dia?


Bagaspati pov


Kau yang selalu muncul di sekitar ku tanpa kusadari telah merusak pertahanan ku untuk tak membiarkan siapa pun masuk melalui celah manapun di hati ku. Kau yang selalu bersama kedua sahabat mu itu, selalu saja mengitari ku yang juga tanpa kau ketahui. Dan tanpa ku sadari juga kini aku telah menaruh hati pada mu.


Aku yang semula hanya sadar akan keberadaan mu yang beberapa kali saja ada disekitar ku, kini aku mencari-cari keberadaan mu untuk berkeliaran di sekeliling ku. Kau dengan kepolosan mu itu seperti menyebarkan energi mu untuk membuat siapapun yang memperhatikan mu menjadi bahagia akan kehadiran mu.


Sehingga membuat ku semakin terdorong untuk segera berbicara dengan mu. Mungkin sekedar basa-basi untuk menjalin keakraban kita. Tetapi semesta seolah tak membiarkan ku untuk lebih dekat dengan mu. Atau memang dari awal aku tak punya kesempatan itu, karena hanya diizinkan untuk melihat mu dari kejauhan saja.


Tanpa sadar, itu membuat ku merasa tertantang dan semakin ingin melindungi mu. Tak bisakah sekali saja aku memiliki kesempatan untuk dekat dengan mu?


Hingga ku dengar senior sains mengadakan pesta kecil perayaan musim dingin. Mendengar kabar bahwa kau yang dari kelas sosial itu tetapi juga akan hadir di pesta itu, membuat ku berpikir apa ini adalah takdir. Takdir untuk akhirnya mempertemukan kita.


Aku akan tampil se-menawan mungkin di pesta itu untuk memikat mu itulah yang awal nya ku pikirkan. Tetapi kau yang tak kunjung hadir disana membuat ku merasa gelisah dan patah semangat. Namun itu tak bertahan lama, karena kemudian ku lihat kau dari sudut sana tampil mempesona dengan gaun coklat yang yang senada dengan mantel mu.


Ketika saat yang tepat tiba pikir ku, namun mengapa aku malah mengurungkan niat ku dan menjadi ragu-ragu untuk menyapamu. Aku yang selalu memperhatikan mu dari sudut ruangan waktu itu terkejut dengan kondisi mu yang tiba-tiba menjadi tidak stabil.


Kulihat kau juga dibawa masuk oleh teman mu yang bergaun merah muda itu. Aku pun hendak masuk ke ruangan itu mungkin untuk bertanya tentang kondisi mu. Tetapi aku tak memiliki keberanian kuat, sehingga aku terdahului oleh senior sains itu.


Kupikir karena senior itu yang menyelenggarakan pesta itu, sehingga ia akan mengecek kondisi mu karena merasa bertanggung jawab dengan kondisi mu yang tiba-tiba terlihat lemah itu. Tetapi justru aku malah mendengar teriakan mu yang mengejutkan.


Teriakan mu yang terdengar lemah dan lirih itu semakin teredam oleh dentuman suara musik. Aku ingin segera masuk ke sana untuk memastikan tetapi aku tak memiliki keberanian. Sehingga suara teriakan mu itu tak lagi terdengar, hati ku menjadi semakin was-was.


Tetapi samar-samar lagi aku mendengar teriakan mu itu berganti dengan isak tangis mu. Ku beranikan diri lagi untuk segera menerobos masuk kedalam pintu itu, tetapi sungguhan aku tak memiliki keberanian sebesar itu. Entah karena aku yang masih berada di kelas junior itu atau aku yang merasa lemah dan tidak kuat seperti sekarang ini.


Ku intip dari lobang kunci pintu itu, membuat amarah ku bangkit seketika, saat melihat mu dari celah kecil itu bahwa kau sedang berjuang sendirian melawan bajingan jake itu. Kau yang sudah semakin lemah dan tak berdaya kehilangan kesadaran mu.


Kini keberanian ku muncul seketika, saat aku melihat jelas perlakuan keji yang kau dapat dari jake itu. Langsung saja aku memanggil polisi hari itu dan segera mendobrak pintu sembari menunggu mereka menemukan tempat ini. Jake si bajingan itu, dengan tidak tahu dirinya masih ingin terus menyentuh mu sekalipun aku sudah berhasil mendobrak pintu itu.