
Setelah mendengar cha yang bercerita itu, arin yang semula merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling menderita perlahan menjadi sedikit berpikiran terbuka. Pasalnya ia tidak sendiri, bahkan ada orang lain yang lebih menderita darinya namun tetap semangat dan tidak putus asa.
Dengan semua yang sudah dilalui cha itu, ia bahkan masih sanggup tersenyum dan menyebar keceriaan nya yang menyenangkan itu pada orang lain.
"Cha, kenapa kau bisa sekuat itu?" tanya arin dengan mata nya sedikit berkaca-kaca.
"Aku tidak sekuat itu kok, aku hanya malu dengan ibu. Bagaimana bisa aku menyerah semudah itu sementara ibu sudah mati-matian berjuang untukku" jawab cha dengan senyuman tipis.
"Dan lagi kenapa aku harus diam dalam keterpurukan, tidak ada untung nya. Yah terimakasih ya udah mendengarkan hal yang gak penting ini, aku jadi sedikit lebih lepas." tambah cha lagi.
Jawaban cha itu membuat arin yang semula menutup jawaban menjadi lebih terbuka. Rasanya arin juga ingin menceritakan keluh kesah nya pada teman-teman nya saat ini. Ia juga ingin menjadi lebih lepas terhadap perasaan rendah diri yang selama ini membelenggunya.
Arin langsung saja menceritakan semuanya, menceritakan tentang perpecahan nya dengan guzel dan angela, menceritakan kejadian tentang jake yang merusak nama baiknya. Bahkan arin juga menceritakan fakta bahwa ibunya adalah seorang wanita malam, dan bagaimana cara ia bisa masuk ke sekolah itu.
Selain itu arin juga berbicara tentang alasannya akan kebiasaan makan siang nya di sekolah. Yang berusaha untuk makan dalam porsi besar agar kenyang untuk waktu yang lama. Karena sekita makan malam ia hanya ditemani oleh biskuit dari sakura mart saja.
Hujan yang semula deras sudah menjadi rintik-rintik kecil. Suara arin yang semula berbicara dengan lirih perlahan menjadi sedikit lebih memperlihatkan perasaan nya. Perasaanya yang campur aduk menjadi satu itu bisa dirasakan dari suara nya yang semakin bergetar.
Mendengar itu membuat cha juga berkaca-kaca, cha menatap arin lebih dalam. Mereka berdua kini bisa merasakan emosi satu sama lain, emosi mereka tentang kesamaan keadaan mereka, kesamaan tentang ketidakadilan yang mereka rasakan. Hingga membuat mereka menangis dan saling memeluk.
Kini ruangan berukuran studio itu dipenuhi dengan isak tangis kedua gadis itu. Mereka menangis dan menangis bagai mengeluarkan semua isak tangis yang berusaha mereka pendam.
Alfin yang juga berada disana langsung saja merasa iba dan terpikir untuk bercerita juga. Jadi ini adalah waktu untuk menyuarakan isi hati kan?
"Aku juga! Aku juga selalu dinomorduakan di rumah, kalian tau sepertinya hanya kakak laki-laki ku saja yang disayangi orang tuaku" Akhirnya alfin bersuara.
Alfin memiliki tubuh yang sedikit berisi bahkan terbilang gemuk untuk tingginya yang hanya 170 sentimeter itu. Kedua orang tuanya selalu lebih mengedepankan kakak laki-laki pertama nya itu dibanding alfin sendiri. Karena kakak nya juga lebih pandai dari nya dan juga memiliki fisik yang bagus dan berkharisma.
Alfin akhirnya menceritakan tentang ketidakadilan yang dirasakannya selama ini. Dan juga cerita tentang bahwa ini pertama kalinya ia memiliki teman seperti teman nya yang sekarang ini.
Sebelum nya ia memiliki teman yang hanya memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas saja atau bahkan memanfaatkan nya sebagai rekening grup. Tetapi kini ia sangat bangga bisa berteman dengan teman-teman keren seperti mereka.
Yah meskipun bagi chan itu tak sebanding dengan kepahitan yang sudah dialami cha dan arin, tetapi biarkan sajalah yang penting si alfin imut itu sudah berusaha keras.
"Jadi aku ingin menangis bersama kalian" ucap alfin lagi.
Sehingga tidak hanya dua gadis saja yang menangis, tetapi juga ditambah dengan 1 pemuda. Jadi sekarang ini mereka bertiga menangis.
Mata arin yang sudah sembab sebelumnya mendadak menjadi lebih sembab dan bahkan bengkak yang lebih besar membuat matanya terkesan sipit.
Chan lagi-lagi memandangi arin, dan berpikir bahwa gadis yang disukainya itu sudah berusaha cukup keras. Chan sangat berterimakasih untuk arin yang tidak menyerah semudah itu, sehingga sampai sekarang ia masih bisa dipertemukan dengan arin.
......................
Cuaca pagi ini terasa sangat dingin, beberapa penghuni sekolah bahkan sudah mulai mengenakan mantel yang tidak terlalu tebal. Beberapa orang juga terlihat seakan memeluk tubuhnya agar tidak kedinginan.
Arin dan cha yang masuk ke ruang kelas bersamaan dan juga dengan mata sembab yang bersamaan. Oh iya ada satu lagi yang bermata sembab di depan sama. Alfino!
Arin yang baru saja tiba, langsung mempersiapkan diri untuk belajar mandiri. Setelah menceritakan keluh kesahnya kemarin malam, rasanya lebih ringan sekarang.
Chan yang melihat arin baru datang itu, langsung saja mengeluarkan kotak bekal yang dibawa nya dari rumah tadi. Memberikan nya pada arin, dan membuat arin sedikit merasa terbebani.
Setelah kemarin chan baru benar-benar menyadari bahwa sepertinya arin tak pernah sarapan dengan baik sebelum ke sekolah. Pantas saja ia sering tertidur untuk menahan rasa lapar itu. Arin yang semula merasa terbebani itu, langsung berpikir lagi, apa salah nya menerima kebaikan?
"Sarapan lah dahulu, sarapan bisa membantu untuk tetap fokus di pelajaran" Ucap chan lembut pada arin.
Chan memberi sarapan itu pada arin agar ia tak perlu mengambil porsi besar saat makan siang nanti, karena itu sangat tidak baik untuk pencernaan.
Arin yang menerima kotak bekal itu langsung mengucapkan terimakasih dengan senyuman terindah miliknya yang lagi-lagi membuat chan semakin jatuh hati.
"ALFINO! AYO KITA HABISKAN INI BERSAMA!" tiba-tiba arin berteriak memanggil alfino.
Setelah kemarin malam juga sepertinya mereka menjadi lebih dekat. Alfino saja yang dipanggil tetapi dua mahkluk lainnya ikut muncul. Siapa lagi kalau bukan cha dan leo.
Karena pulang lebih awal kemarin, leo malah menyia-nyiakan kesempatan kemarin. Sehingga leo merasa sedikit bingung dengan perubahan kedekatan mereka berempat dalam semalam saja.
Membuka kotak bekal milik chan, arin berdecak kagum.
"Wah!" ucap arin, melihat sarapan dengan kelengkapan gizi itu. Rasanya terlalu berlebihan jika disajikan sebagai sarapan.
Dua potong tonkatsu berukuran yang cukup besar, di sajikan diatas irisan kubis dan timun. Oh di situ bahkan ada saus kari kentang sebagai penambah rasa. Tak lupa chan juga membawakan buah segar anggur hijau dan juga bluberi yang bagus untuk konsentrasi otak.
Mereka menikmatinya, bukan hanya arin tetapi juga cha, alfino dan leo. Sesekali alfino menyuapi cha, melihat itu leo juga berusaha melakukan hal yang sama kepada cha. Dengan sifat cha yang antusias itu tentu saja ia menerima perlakuan leo padanya, dan membuat leo menjadi salah tingkah.
Kebersamaan mereka hari itu sangat menghangatkan satu sama lain di cuaca yang semakin dingin ini.
.....
Satu bulan kemudian ...
"Chan ayo berkencan denganku" ucap arin tiba-tiba yang membuat chan meleleh seketika.