BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Tempat kuliner



Waktu sudah menunjukkan pukul 17.45, dalam waktu 10 menit lagi movie yang di adaptasi dari LOOKSMOOTH akan tayang. Melihat beberapa tayangan iklan sebelum film dimulai membuat cha tergoda untuk menonton nya lagi dan mengajak grup ini lagi untuk menonton tayangan yang masih coming soon itu.


"Ayo kita coba, tanggal 30 september seperti nya seru!" ajak cha yang sudah terbuai oleh godaan iklan itu.


Leo dan alfin sebenarnya senang saja jika akan menonton lagi. Kapan lagi bisa nonton bersama dua gadis cantik.


...


Usai menonton mereka berlima segera keluar dari teater dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.21.


"Masih banyak yang belum terjelaskan huhu aku jadi semakin penasaran setelah menonton nya bukan nya malah merasa puas" ujar cha menunjukkan raut wajah lesu.


Levicha lah orang yang paling banyak bersuara di antara mereka berlima. Semenjak ada cha, mendadak cha seperti juru bicara mereka. Karena cha yang peka terhadap situasi dan juga memiliki pribadi yang lebih terbuka, sehingga seperti menjadi perantara di antara mereka berlima.


Berbeda dengan saat dulu dimana hanya ada arin, semuanya masih terasa kaku. Semenjak ada cha juga sepertinya arin menjadi lebih bersemangat, seperti tertular dengan energi aktif milik cha.


"Kita bahkan belum sempat bermain time zone, tetapi ibu ku sudah memanggil terus. Seperti nya aku benar-benar harus pulang" Ucap leo yang memperhatikan ponsel nya sedari tadi.


Sedikit menyesal leo, karena harus pulang lebih dulu dan meninggal kan cha. Usai mengucap salam perpisahan leo langsung pergi menuju lantai dasar untuk keluar dari gedung dan mencari jemputan nya.


Tertinggal lah 4 orang ini sekarang. Chan, cha, alfin dan arin. Berhubung sudah mengitari mall ini sebelum menonton tadi sore, cha dengan ide cemerlang nya langsung mengajak ketiga teman nya itu keluar dari sana.


Keluar dari gedung mall itu, mereka berjalan sebanyak 2 kilometer ke arah barat dan menemukan banyak streetfood yang lebih murah untuk kantong pelajar. Berbagai macam jajanan terjual di sana, mulai dari yang asin seperti sotong, yang manis seperti gulali hingga minuman segar sekalipun ini sudah malam.


Mereka asik berlarian kesana-kemari melihat-lihat proses pembuatan makanan yang ada di sana. Jika kelihatan lezat mereka langsung membeli nya dalam porsi besar untuk dibagi berempat.


"Cha! Hebat, bagaimana kau tahu ada tempat seperti ini disini?!" tanya arin takjub.


Tentu saja, padahal sudah lama ia berada di kota ini tetapi sungguh tempat ini adalah hal yang baru bagi nya. Benar-benar seru menjelajahi setiap sudut untuk melihat-lihat dan mencoba jajanan yang baru itu.


Arin yang sudah semakin liar ke sana dan ke mari sepertinya benar-benar bahagia berada di sini. Tentu saja! sekarang ini arin merasa seperti berada di surga kuliner.


Chan yang masih asing dengan beberapa kuliner yang ada di sana, begitu juga dengan alfino yang kebingungan membedakan odeng dan otak-otak. Rasanya seperti nugget namun mengapa di beri kuah berbentuk sup dan bukan nya mayones.


Dasar orang kaya!


"Tentu saja! Apasih yang levicha tidak tahu?" jawab cha bangga mengibas kan rambut nya.


"Tempat tinggal ku berada di sekitaran sini" sambung cha lagi mengatasi rasa penasaran mereka.


"ooo pantas saja" pikir chan dan alfin bersamaan.


Ketika masih sedang asyik memilih makanan, mereka dikagetkan dengan suara gemuruh. Gawat seperti nya akan turun hujan.


Melihat situasi itu, tanpa aba-aba chan langsung berlari entah kemana, hingga cha berburuk sangka bahwa chan pergi menyelamatkan diri sendiri.


"Hei cepat pilih dan bungkus dalam satu wadah, kita berteduh di kamar ku saja!" titah cha pada arin yang seperti nya tidak terlalu menggubris aba-aba itu.


...


Tak lama chan muncul membawa payung dengan renda bak payung bangsawan itu, payung itu juga cukup besar untuk berdua atau bahkan bertiga. Tetapi sangat disayang kan chan hanya berhasil mendapat satu payung saja karena kehabisan.


Cha langsung menarik chan mengisyaratkan padanya untuk mengantar nya lebih dulu dan membiarkan arin berburu kuliner hingga puas.


Sebenarnya alfin ingin segera pulang saja, karena ibu nya pasti khawatir apalagi ia bolos les demi menghabiskan waktu bersama hari ini. Tetapi ia masih ingin lebih lama bermain bersama teman-teman nya, sehingga terpaku cukup lama memikirkan nya.


Alfin yang menerima ajakan itu langsung saja masuk ke dalam naungan payung yang dipimpin oleh chan itu.


"Arin kami akan pergi dahulu, kau tunggu sebentar yaa!" perintah cha pada arin yang lagi-lagi masih asik menyemil dango.


"Ya pergilah, aku tunggu" jawab arin dengan mulut yang penuh oleh dango, gumpalan dango yang belum terkunyah dengan baik itu membuat kedua pipi arin menjadi lebih besar dan itu ....


"menggemaskan!"


Chan lagi-lagi terpesona, karena lagi dan lagi arin menunjukkan sisi baru nya yang imut itu.


Segera mereka bertiga pergi dari sana meninggalkan arin yang masih berburu kuliner itu. Hujan yang awal nya hanya rintik kecil-kecilan saja mendadak menjadi hantaman tajam yang menyakiti kulit. Buru-buru mereka bertiga dibawah payung berenda itu untuk segera berlari.


Setelah berjalan 20 menit akhirnya mereka tiba di gedung tempat tinggal levicha.


"Chan kau lihat tirai orange di lantai tiga itu? Itu adalah kamar ku. Sudah tahu kan? sekarang cepat jemput arin sana" jelas cha.


Chan langsung dengan cepat berlari, menutup payung nya. Karena payung yang terbuka itu membuat nya menjadi lambat berlari. Tetapi minus nya chan jadi kebasahan, tetapi tidak apa-apa pikir nya. Asalkan tuan putri arin tidak menunggu terlalu lama.


Sementara itu alfin gugup setengah mati berada berduaan saja bersama levicha. Baru kali ini alfin berada di kamar perempuan selain ibu nya. Pasal nya alfin hanya memiliki kakak laki-laki saja.


......................


Tak jauh dari posisi arin saat ini, terlihat seorang lelaki yang tak asing. Bagai memantau arin yang kali ini sedang menikmati takoyaki. Tak sabar, ia langsung menghampiri arin yang ia rasa arin benar-benar sendirian.


"Lama tak bertemu sayang ku" ucap lelaki berbadan kekar itu tersenyum penuh maksud.


Gawat!


Arin segera melangkah menjauh, dan berusaha mencari jejak teman-teman nya yang sudah lebih dahulu pergi ke tempat tinggal levicha.


"Kau tidak berniat untuk menghindari ku kan?" ucap lelaki itu lagi, membuat langkah arin terhenti.


Arin yang dalam posisi terhenti itu langsung didekati lagi oleh ketiga lelaki lain. Yang tak lain dan tak bukan sepertinya adalah gerombolan yang sama. Arin mundur sekali lagi dan brak diri nya menabrak tubuh salah satu dari mereka. Dirinya benar-benar di kepung, oleh 4 lelaki berbadan besar itu.


"Kau tak rindu dengan ku? Aku kembali untuk melanjutkan hal yang tak sempat kita lakukan waktu itu" ucap nya lagi, menyentuh bibir arin membersihkan sisa kuah takoyaki yang baru saja di coba arin. Kuah yang menempel di jari nya itu dijilat nya lagi hingga bersih, membuat arin semakin merinding ketakutan.


Arin yang menerima perlakukan itu hanya mampu terdiam membeku dan mematung. Rasanya lebih mengagetkan dari pada gemuruh menyerbu tadi. Mendadak kenangan buruk tahun lalu memenuhi ingatan nya dan membuat nya muak seketika.


Flashback on...


"Jake seperti nya dia sudah masuk, cepat lah kau cicipi dia" ujar salah seorang pemuda yang ada di pesta itu.


Jake segera memasuki ruangan itu dan menemukan arin yang sudah terlunglai lemah usai dicekoki obat tidur itu. Jake yang semakin terangsang dengan penampakan arin saat ini langsung saja menyerbu nya tanpa ampun.


Menciumi tubuh arin dengan buas. Arin yang berada di bawah nya hanya bisa pasrah menerima perlakuan itu saking tidak bertenaga nya ia saat ini.


"Apa yang barusan ku minum, kenapa aku merasa tak punya tenaga" pikir arin dengan keras sebelum ia kehilangan kesadaran nya.


Tak lama arin benar-benar kehilangan kesadaran nya, entah apa yang terjadi pada tubuh nya setelah itu hingga kini ia pun tidak mengetahuinya.