
Tak terasa sudah pukul 10 pagi, mereka semua tak akan ada yang bangun jika pak penjaga villa yang kemarin malam tak datang mengantarkan sarapan. Lagi dan lagi sarapan yang diantar pak lori juga adalah menu dari restoran yang mereka kelola.
Chan yang menerima sarapan itu langsung saja mengucapkan terimakasih.
"Yah chello kalau ada yang kurang langsung saja telepon bapak atau kalau lapar bisa langsung ke restoran yang ada di depan pagar itu ya nak" ucap pak lori memberi petunjuk.
"Baik pak" balas chan.
Chan langsung saja membawa makanan itu dan menyiapkannya di atas meja makan, dan di sana ia bertemu dengan arin yang masih memakai piyamanya.
Seketika chan membayangkan apa ini pemandangan yang akan dilihatnya jika nanti sudah berumah tangga bersama arin. Dengan cepat chan langsung menepis bayangan itu dan langsung mendatangi arin.
"Kau sedang apa? Ini sarapan dari pak lori" ucap chan.
Hal itu langsung saja membuat arin membantu chan menyiapkan sarapannya. Untuk menyajikannya di atas meja.
Satu persatu teman-temannya keluar dari kamar dan ikut menyantap sarapan. Hanya mali saja yang masih belum muncul, kata asa untuk membiarkannya sendiri dulu, dan membiarkan mali untuk bergabung jika sudah siap.
Tetapi makanan yang dikirim pak lori adalah makanan yang asin semua sehingga cha menyarankan untuk membuat pancake sebagai makanan penutup yang manis. Langsung saja cha menyiapkan bahan-bahan yang ada di dapur villa yang dibantu dengan arin.
Tak lupa leo juga ikut berbenah untuk membuat pancake ini. Sedangkan alfin dan asa langsung saja menyantap makanan yang diberikan pak lori terlebih dahulu.
Dan mereka berenam tertawa dengan candaan-candaan yang saling dilontarkan. Entah apa ini hanya kesenangan sesaat atau jika arin boleh meminta, apakah boleh jika tahun depan pun ia masih bisa merasakan suasana liburan musim dingin seperti ini?
Arin menjadi termenung dalam lamunannya, dan lamunan itu disadarkan oleh kedatangan mali.
"Mali ayo kita sarapan" ajak alfin yang sudah menghabiskan 2 porsi nasi goreng yang diberi pak lori.
Mali mengangguk mengiyakan dan segera menyantap nasi goreng di salah satu piring itu. Ia menatap leo yang masih bersenda gurau dengan cha, tak lama leo menatapnya kembali dan mereka beradu tatap, leo segera melempar senyum pada mali, dan itu membuat mali senang.
Syukurlah leo bisa bersikap seperti biasa dan tak ada suasana canggung di antara mereka.
....
Tak terasa ini sudah siang, usai menyantap sarapan dan pancake kini mereka memutuskan untuk bermain salju di luar sana. Karena ini sudah siang, sehingga cahaya matahari bisa membantu menghangatkan saat bermain di antara salju yang dingin ini.
Arin langsung saja memakai mantelnya dan juga syal begitu pun teman-temannya juga melakukan hal yang sama. Pepohonan di halaman belakang villa tampak gugur semua, menambah kesan estetik untuk berfoto di sana.
Cha dengan sigap mengeluarkan ponselnya untuk merekam kegiatannya saat ini dan menguploadnya di Instastory nya.
Lalu, alfin di sana sibuk memotret momen-momen bahagia itu. Tetapi tentu saja foto mali lah yang paling banyak di ambil oleh alfin. Tak lupa alfin memotret arin dan chan, yang sedang membangun manusia salju.
Karena fotonya tampak bagus, langsung saja arin dengan cepat meminta agar foto itu segera dikirimkan alfin padanya.
....
Tak terasa liburan mereka sudah berakhir, ini sudah tanggal 23 Desember, sudah saatnya pulang dan berlibur dengan keluarga masing-masing.
Banyak yang mereka lakukan selama 4 hari ini, mulai dari bermain tentunya, menonton, memasak, berbenah sedikit hingga merawat wajah bersama. Cha membawa banyak masker untuk dipakai bersama, sehingga mereka memakai masker yang dibawa oleh cha yang tentu saja itu semua adalah hasil sponsor yang diterimanya.
....
Hari ini adalah malam natal, sepertinya semua orang merayakan dengan senang bersama keluarganya pikir arin. Hal itu arin ucapkan pasalnya kini, bahkan di malam natal pun ibunya tak bisa menyisihkan waktu untuk dihabiskan bersamanya.
Ada sedikit rasa kesepian bagi arin yang menghabiskan malam bahagia ini seorang diri.
Apalagi saat arin melihat video yang dikirim oleh cha ke grup odeng, yang mana di situ cha terlihat bahagia menghabiskan malam natal bersama ibunya berdua saja.
Arin menjadi iri... bohong jika arin bilang ia tak iri.
Asa pun sama, ia bahkan membawa anjing peliharaannya ke thailand. Ada banyak keluarga besar asa di foto itu. Sepertinya memang semua orang memiliki keluarga, hanya ia sendiri saja yang selalu menghabiskan waktu seorang diri bahkan di malam natal sekalipun.
Ah sial arin jadi ingin menangis saja, akhirnya arin memilih untuk tertidur saja dengan pulas. Tetapi tetap saja, arin menjadi tak bisa tidur karenanya, karena bunyi dentuman musik yang keras dari luar sana.
Ah sepertinya memang arin harus keluar, meskipun sendiri tak ada salahnya kan untuk berjalan keluar menikmati suasana malam natal.
Akhirnya setelah berkutat cukup lama dengan pikirannya, arin pun segera berdandan sedikit dan memakai pakaian bagus miliknya serta mantel coklat mudanya. Langsung saja arin keluar, dan benar saja sekalipun ini malam yang dingin tetap saja ada banyak orang di luar sana yang menikmati suasana itu.
Dengan keluarga, teman bahkan kekasihnya. Semuanya seolah punya dunianya sendiri untuk mengisi waktu di malam ini. Lagi dan lagi itu membuat arin iri dan tanpa sadar arin malah termenung lagi.
Jauh di dalam hatinya berharap akan ada sosok yang menemaninya saat ini agar ia tak terlalu kelihatan menyedihkan sekarang.
Arin berjalan perlahan menyusuri setiap sudut jalan menyaksikan kehangatan orang lain dengan hati yang mencoba untuk sabar.
"Ah seandainya saja chan ada di sini" ucap arin tanpa sadar.
Tapi itu mustahil karena chan pasti sudah menyusul ke milan sekarang, ponsel nya yang tak aktif sedari tadi pun pasti karena sekarang masih ada di pesawat.
....
Alangkah terkejutnya arin, saat memastikan sekali lagi pemuda bermantel coklat tua itu ada chan?
Tunggu?! Bukannya chan sudah pergi ke milan? kenapa ia bisa ada di sini?
Pikir arin bertubi-tubi, arin bahkan sampai berpikir sekali lagi bahwa ini hanyalah halusinasinya saja. Tetapi kenapa halusinasi ini tak kunjung hilang dan malah....
Kini chan datang mendekat ke arahnya, dan segera menggenggam tangan arin.
"Kenapa di luar sediri? Kau bisa flu" tanya chan pada arin yang masih mematung itu.
Arin memperhatikan chan lagi, dan benar ini adalah chan. Hal itu langsung saja membuat arin memeluk chan dengan erat.
"Kau tak jadi pergi?" tanya arin pada chan yang masih setia dipeluknya itu.