
"Aku selalu bertanya-tanya, kau ingin melanjut ke mana usai lulus nanti?" tanya chan.
Pertanyaan itu menjadi pembukaan percakapan di antara mereka yang sibuk membolak-balik halaman bukunya.
Di tengah suasana ruangan yang nyaman itu, tak terasa warna di luar sudah semakin gelap yang menandakan hari sudah semakin larut. Tetapi sepertinya dua manusia dalam ruangan ini tak menyadarinya karena sibuk belajar sedari tadi.
Ruangan dengan nuansa cream itu dengan aroma wewangian yang soft seperti vanila, oh dan juga dentingan jarum jam yang berbunyi konsisten untuk menghiasi suara ruangan yang cukup sunyi itu. Sesekali terdengar suara langkah kaki dari luar ruangan, yang tak lain adalah langkah kaki para pelayan.
"Tidak perlu menjawab untuk sekarang, tak perlu terbebani pikirkanlah pelan-pelan" tambah chan lagi.
Melihat arin yang langsung menunjukkan raut wajah bingungnya. Karena sungguh arin pun tak memikirkan itu dan bahkan tak pernah terbesit dalam pikirannya untuk lanjut ke mana usai lulus nanti.
Karena dalam pikirannya arin hanya ingin sukses tanpa menjadi seperti ibunya.
"Entahlah chan, aku juga masih memikirkannya" jawab arin akhirnya.
"Nomor 2 halaman 57 ini di mana kau menemukan jawabannya, aku tak bisa menemukannya sedari tadi" sambung arin lagi, usai menyudahi percakapan tentang cita-cita itu.
Yah meskipun arin menyudahi percakapan itu, tetapi dalam hatinya masih merasa terganjal dan tak selesai begitu saja. Karena perasaan kalut yang dihindarinya terus saja menghantuinya.
Lagi-lagi arin merasa bahwa dirinya sudah terlalu santai karena membiarkan dirinya menerima kehangatan serta perhatian dari chan. Ketakutan arin yang akan dibuang tiba-tiba jika terlalu bersandar pada orang lain, seolah sirna jika bersama chan.
Chan seolah memberinya perhatian yang tulus, dan membuat arin merasa tidak akan ditinggalkan jika bersama chan.
"Apa aku menikah dengan chan saja ya" pikir arin tiba-tiba.
Setelah berpikir seperti itu arin semakin tidak fokus pada penjelasan yang diberi oleh chan karena kali ini pandangannya tertuju pada chan yang sedang menjelaskan jawaban itu.
Jika menikah dengan chan, setidaknya ia tidak perlu terlalu berusaha keras lagi. Dan pekerjaannya hanya fokus untuk mengurus chan saja. Dan lagi setelah dilihat-lihat, chan tak seburuk itu kok, wajahnya juga lama-lama terlihat semakin menggemaskan.
Mungkin orang yang baru pertama kali melihatnya berpikir bahwa chan itu aneh, tetapi saat sudah lama bersama chan, ada sisi lain yang baru arin ketahui tentang chan yang bisa membuat arin nyaman berada di dekatnya.
Apalagi chan itu pintar dalam segala hal, pasti masa depannya akan sangat terjamin sekalipun ia tak berasal dari keluarga kaya atau bahkan jika keluarganya bangkrut sekalipun. Karena chan bukan hanya sekedar pandai, tetapi ia justru memahami cukup luas tentang banyak hal.
Memikirkan tentang chan entah mengapa arin menjadi semakin rendah diri dan iri tentunya. Membayangkan seandainya jika ia lah yang memiliki kepandaian itu. Membayangkan seandainya dirinya juga pandai di segala mata pelajaran, apakah ia pun tak kebingungan seperti sekarang saat ditanyai persoalan cita-citanya.
"Ah irinya" ucap arin tanpa sadar.
Ucapan arin itu diakhiri dengan helaan nafas, membuat chan menengok ke arah arin disertai kebingungan.
"Apa ada yang sulit?" tanya chan memastikan.
Arin yang sadar sudah mengeluarkan suara dari pikirannya langsung saja tersadar dan segera menepis fakta untuk menghindari kekhawatiran chan.
"Baiklah kalau begitu kita sudahi saja pelajaran hari ini, lagipun sekarang sudah pukul 11 lewat" ucap chan yang melihat jam.
Arin mengiyakan dan langsung membereskan buku-buku di atas meja dan bergegas untuk pulang. Karena ini sudah terlalu larut, jadi kali ini arin menyetujui saran chan untuk mengantarnya pulang.
....
Sepanjang perjalanan tadi arin hanya termangun tetapi sesekali ia membalas pertanyaan-pertanyaan kecil dari chan. Lagi-lagi arin memikirkan cita-citanya, tentang hal apa yang akan dilakukannya usai lulus sekolah.
Pertanyaan chan tadi seolah menyadarkannya akan sesuatu yang tak pernah terbesit dalam pikirannya selama ini.
Huh memikirkan itu membuat rambut arin terasa akan rontok. Sehingga arin menepis lagi pikirannya dan segera membenahi diri untuk segera tidur. Ini sudah hampir pukul 12 malam, terlebih lagi ini musim dingin akan bahaya jika mandi di waktu ini. Sehingga arin hanya akan membasuh wajah saja lalu pergi tidur.
...****************...
Narin pov
Lusa sudah akan ujian semester ganjil, ah bukan ini sudah pukul 00.12, jadi besok sudah ujian semester ganjil.
Kami berencana untuk merayakan pesta kecil-kecilan di villa milik keluarga chan. Kata cha sih untuk merayakan telah selesainya ujian nanti.
Apa asa dan mali akan ikut kali ini?
Karena akhir-akhir ini dua gadis itu dan alfin semakin akrab saja terutama jika berbicara tentang anjing. Dan lagi alfin berencana membawa sali saat berlibur nanti.
Sebenarnya aku agak nggak menyangka bisa sampai di keadaan yang sekarang ini. Karena bagaimana kisah ku yang dulu, yang selalu direndahkan dan hanya dinilai dari wajah saja. Tak menyangka bahwa memang ada yang tulus padaku.
Chaiden...
Ku pikir pernyataannya hari itu hanya berdasarkan wajah ku saja, yang mana jika ia sudah bosan denganku maka ia akan mencampakkan ku atau memperlakukan ku seperti gadis murahan.
Aku beruntung memiliki chan, dan juga teman-teman ku yang lain.
Aku selalu berpikir bahwa rangking terakhir itu adalah hal buruk, tetapi untuk kali ini aku bersyukur berada di posisi itu. Karena itu yang membuatku bisa merasakan kebaikan chan dan juga rasa sayangnya yang tulus.
Itu juga yang membuatku memiliki teman lain seperti alfin dan leo, oh bahkan sekarang ada asa, Mali dan juga cha.
Kalau saja hari itu aku tak pergi bersama ibu ke wahana Southtland, pasti aku takkan bertemu cha di sana.
Ah! berpikir tentang Southland, aku baru ingat tentang kartu dari agensi hiburan itu. Matthew pun juga berada di sana, menjadi trainee untuk dilatih sebagai seorang selebriti.
Apa aku mencobanya saja ya...
Tak ada salahnya mencoba, apalagi kata orang aku punya wajah yang bisa dibanggakan.
Ah sial kepala ku hampir terbang karena memuji diri sendiri. Rasanya aneh saat memuji diriku sendiri, saat memuji wajah yang selalu ku lihat setiap harinya selama 17 tahun ini.
Kuakui sekarang ini jika aku dipuji 'cantik' dan sebagainya aku akan merasa sangat senang dan menanggapinya dengan riang, apalagi jika chan yang mengatakannya. Hehe.
Haruskah aku mencoba menjadi selebriti atau menikah dengan chan saja?
Haha percaya diri sekali aku, seperti chan akan setuju saja untuk menikah dengan ku.
Narin pov end