BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Suatu hari di rumah chan (2)



Usai menyelesaikan makan, mereka berlima naik keatas, berkumpul di tempat semula tadi saat leo menuntun mereka. Sepertinya mereka benar-benar kekenyangan terlihat alfin yang langsung berbaring di atas sofa berwarna ungu muda itu.


"Perut ku rasanya hampir meledak" ucap cha yang tak lagi sanggup bergerak.


Rasanya ia ingin ikut berbaring bersama alfino, tetapi tidak boleh ya karena sekarang ini cha mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai seorang model brand lokal. Apa jadi nya jika nanti perut nya membesar saat di pemotretan nanti.


Tetapi tetap saja keinginan daging benat-benar tak bisa di lawan. Alhasil saat ini mereka berlima berbaring tak berdaya.


"Apa yang akan kita lakukan chan?" tanya cha pada chan. Karena mau bagaimana pun chan lah yang memberi ide untuk menghabiskan waktu di sini, di rumah nya.


"Jujur, aku tak tahu" ucap chan singkat.


Chan sendiri juga bingung akan hal apa yang bisa mereka lakukan sekarang ini. Chan memang berniat mengundang mereka dan bahkan menyiapkan hidangan besar untuk mereka tetapi hanya sampai disitu saja persiapan chan. Ia benar-benar tak tahu, hal apa yang harus dilakukan jika bersama teman.


Akhirnya mereka hanya berbaring saja sambil menatap langit-langit ruangan itu.


"Sudah lah, kita tidur saja aku mengantuk" ucap leo.


Akhirnya mereka memutuskan untuk tertidur saja sejenak. Tetapi belum sempat merasa nyenyak, mereka segera dibangun kan lagi oleh suara pintu yang terbuka. Ternyata itu adalah ibu nya chan yang lagi-lagi membawa makanan untuk mereka.


Tetapi kali ini makanan yang dihidangkan adalah kue-kue manis dan juga teh hangat. Oh ada baiknya juga setelah makan makanan yang asin barusan, waktu yang tepat untuk mengunyah kue manis yang lembut itu.


Segera lagi-lagi mereka terbangun dari posisi nya yang sedang berbaring. Menyantap habis kue itu lagi bagai tak bersisa. Sebenarnya bagi ketiga tuan muda itu, chan, leo dan alfin, hal remeh seperti makanan barusan adalah hal yang bahkan bisa mereka beli hingga ke toko-toko nya dan tidak harus berebut seperti sekarang ini.


Tetapi entah mengapa saat menyantap beramai-ramai seperti ini, rasanya terasa lebih lezat dan lebih menantang karena siapa cepat dia lah yang akan mendapat kesempatan makan lebih banyak.


Usai selesai makan mereka malah mengeluh lagi karena merasa kekenyangan. Haha benar-benar hidup seperti tanpa beban saja.


Usai makan, mengeluh, makan, kekenyangan dan begitu terus kini mereka benar-benar terdiam sambil berbaring menatap langit-langit. Mereka yang salah merencanakan tanpa melihat musim. Di musim dingin seperti ini tak banyak yang bisa di lakukan.


Mau keluar saja rasanya sudah tidak selera duluan melihat bongkahan es yang memenuhi jalanan itu. Bahkan dari jendela ruangan terlihat taman yang berada di sekitar rumah chan itu tertutupi oleh es.


Setelah terdiam cukup lama akhirnya chan membuka suara untuk memberikan ide tentang kegiatan mereka.


"Mau menonton tidak? Di lantai bawah ada teater kecil-kecilan" ucap chan akhirnya dan tentu saja ucapan chan itu di sambut dengan penuh semangat oleh keempat teman nya.


"Ayo! Ayo kita menonton saja aku setuju sangat setuju" balas cha yang langsung bangkit dari posisi nya yang berbaring berdekatan dengan arin.


"Aku akan mencari film horor untuk kita tonton" sambung cha lagi.


Tunggu!


Cha kan tidak tahu di mana lokasi teater di rumah ini, tentu saja leo lah yang berhasil sampai di sana lebih dulu. Akhirnya cha pun hanya berlari mengikuti leo saja, di susul oleh alfin tentunya.


"Hei tunggu aku!" ucap alfin sembari menyusul leo dan cha.


Tersisa hanya arin dan chan saja di ruangan ini sekarang. Lagi-lagi rasa canggung mendatangi mereka. Tak berniat untuk langsung menyusul 3 serangkai yang heboh itu. Mereka berdua, chan dan arin memilih untuk tinggal sebentar sebelum pergi ke teater. Bukan teater sih lebih tepat nya ruang nonton keluarga.


"Kau cantik sekali hari ini" ucap chan pada arin yang membuat arin tersipu malu.


"Kau juga!" balas arin tak mau kalah.


"Juga cantik maksud mu? Aku?" tanya chan sedikit heran tetapi itu dipakai nya untuk menjahili arin.


Mereka berdua akhirnya tertawa, dan tanpa chan sadari, sisa coklat yang sedari tadi ada di sudut bibir nya belum ia bersihkan. Melihat itu arin langsung tanpa pikir panjang membersihkan itu dengan jari nya yang lembut.


Perlakuan arin itu membuat mereka berdua terpaku cukup lama dengan mata yang saling memandang satu sama lain. Chan yang menatap arin sangat dalam, begitu juga arin yang kini menatap chan.


Tiba-tiba keberanian chan yang entah muncul dari mana itu langsung memegang wajah arin dengan tangan kanan nya. Begitu lembut membuat chan benar-benat ingin segera melakukan apa yang ada di pikiran nya.


Arin yang menerima perlakuan itu sedikit terkejut namun entah kenapa arin pun merasa nyaman dan membiarkan perlakuan chan yang kini lebih terang-terangan itu padanya.


Perlahan tangan chan yang semula menyentuh wajah arin berpindah menjalar ke bagian rambut belakang dan kini berada di tengkuk arin. Arin yang merasakan sentuhan-sentuhan itu merasa nyaman, tidak seperti sentuhan-sentuhan lain yang pernah diterimanya.


Tangan kanan chan yang berada di leher belakang arin dan kini tangan kiri nya juga menyentuh wajah arin. Menarik wajah arin untuk semakin dekat dengan nya. Dan bibir mereka bersentuhan, ya itu adalah first kiss chan.


Ciuman pertama yang begitu manis, seolah tak ingin di lepaskan. Andai waktu boleh berhenti sebentar saja, ingin rasanya chan terus berada di saat sekarang ini. Usai mengecup bibir arin singkat, chan pun melepas kan tangan nya dari wajah arin.


Mereka yang semula tak bergerak akhirnya menjadi berjarak sedikit, tetapi tetap saja jarak itu hanya beberapa senti saja. Mereka bertatapan lagi, tatapan arin itu seolah memberi isyarat pada chan untuk melakukan nya sekali lagi.


Sementara tatapan chan itu seolah menjelaskan bahwa ia benar-benar tak menyangka sudah sampai di tahap ini tentang kedekatan nya dengan arin. Arin yang melihat sepertinya chan tak bermaksud untuk melanjutkan ciuman itu, langsung saja arin memegangi wajah chan dan mencium nya lagi lebih lama.


Tangan arin yang terlihat lebih kecil jika berada di wajah chan, membuat arin sedikit meleset saat memegangi wajah chan. Chan yang peka seketika langsung mengikat kan tangan arin di lehernya dan ia menahan wajah arin agar tak terlepas.


Lalu mereka pun berciuman sekali lagi, ciuman yang lebih lama dari yang awal tadi. Chan tahu ini! Chan sudah mempelajari nya sebelum nya. Saat berciuman, membuka mulut sedikit lalu membiarkan gigi bersentuhan. Membiarkan lidah pasangan mengabsen setiap gigi yang ada satu persatu lalu mempertemukan lidah. Haha jadi begini rasanya jika dipraktekkan langsung.


Begitulah ciuman pertama chan terjadi.