
Setelah meninggalkan ibu nya di foodcourt hari itu, Arin tidak lagi melihat ibu nya sampai sekarang. Ini adalah hari senin, segera arin bergegas ke sekolah. Arin merasa sudah terlalu kasar pada ibu nya tempo hari, jika sudah bertemu nanti ia akan meminta maaf dan berbicara serius dengan ibu nya.
....
Sesampai nya di sekolah, seperti biasa arin duduk manis di bangku nya menyapa chan yang terlihat baru saja tiba dan tentunya mengabaikan darren yang mengawasi gerak gerik nya yang sudah semakin dekat dengan chan.
Setelah menyusul arin yang juga duduk manis di bangku nya, chan segera menyiapkan peralatan nya untuk belajar mandiri, dan meletakkan ponsel nya di atas meja.
Ting!
Ponsel chan berbunyi membuat layar kunci ponsel nya menyala, bunyi itu menimbulkan gerakan refleks pada tubuh arin untuk segera melihat nya.
Rasanya tak asing melihat wallpaper itu, tunggu!
Apa itu diri nya?
Dilihat lebih jelas lagi sepertinya itu benar-benar diri nya yang berada di Southland 2 hari yang lalu. Berarti di sana ada chan dong? tetapi mengapa...
Ah sudah lah pura-pura tidak lihat saja. Menyebalkan saja seperti penguntit, lagi pula untuk apa ia memasang wajah ku sebagai wallpaper di ponsel nya. Bagaimana jika ada teman sekelas yang melihat nya. Apa si jangkung ini sengaja?
Arin menjadi semakin kesal, ingin berdiskusi pun rasa nya muak. Apa tak bisa ia hanya berteman saja dengan arin tanpa melibatkan perasaan?
Tak tahan dengan rasa penasaran nya Arin langsung saja angkat bicara.
"Apa-apaan gambar ponsel mu itu?!"
Chan tersadar bahwa itu adalah gambar yang di potret nya saat di southland beberapa hari yang lalu.
"Astaga ceroboh nya aku" jerit chaiden dalam hati mengingat bahwa foto itu dia abadi kan secara diam-diam bagai penguntit.
"Kau menguntit ku ya?!" tanya arin lagi dengan nada yang sedikit keras hingga mengundang beberapa mata menuju ke arah mereka.
Chan hanya terdiam, benar dia mengambil foto itu tanpa izin tetapi bukan berarti ia menguntit arin. Dan lagi chan benar-benar tidak tahu akan menjawab dari mana pertanyaan yang bertubi-tubi itu.
...
Seperti nya kali ini semesta memihak pada chan. Suara heels wali kelas terdengar dan membuat penghuni ruangan segera mengambil posisi nya semula, yeay chan terselamatkan.
Yang lebih menarik perhatian lagi, ternyata miss deana tidak sendirian. Ada wajah baru yang mengikuti miss di belakang.
Tampilan nya yang matching serta warna rambut nya yang mencolok sebagai seorang pelajar. Memakai luaran bermerek dari chenille, yang senada dengan warna seragam sekolah membuat nya tampil seperti model yang sedang bersekolah.
Sepertinya ia trainee di bawah umur, sehingga masih perlu bersekolah. Itulah yang di pikir kan beberapa anak kelas.
Mengangkat pandangan nya, arin langsung dengan cepat mengenali gadis blonde itu.
"Cha!" tanpa sadar ia bersuara, membuat chan merasa terpanggil karena hampir terdengar sama.
"Ada apa?" balas chan, yang kemudian hanya di balas gelengan kepala oleh arin.
Waktu yang mereka habis kan di bus hari itu dengan bertukar cerita rupanya cukup berkesan bagi arin. Arin terus-terus saja tersipu malu karena di puji terus-terusan oleh cha. Rasanya berbeda jika di puji oleh gadis yang cantik juga dibanding di puji cantik oleh seorang lelaki.
Setelah miss deana meninggal kan kelas, levicha langsung saja beralih ke tempat duduk nya. Jumlah orang dalam kelas ini sekarang menjadi ganjil, sehingga cha harus duduk seorang diri dan tidak memiliki partner belajar.
Melihat cha yang langsung sibuk dengan ponsel nya membuat arin mengurung kan niat nya untuk menghampiri cha.
"Chan jangan menyukai ku" ucap arin.
Chan pikir yang tadi sudah selesai dan ia terselamatkan berkat siswi pindahan itu.
"Maksud ku jangan sukai aku sebesar itu" sambung arin.
Tidak bisa rasa suka chan sudah tumbuh terlalu tinggi untuk di tanam kembali. Semesta membiarkan chan mengenal arin, itu berarti semesta masih memberi kesempatan pada chan untuk memiliki arin. Mungkin usaha yang di lakukan chan sekarang masih kurang di mata arin.
Tetapi lihat saja usaha yang tidak akan mengkhianati akan segera menjadi hasil akhir dari semua ini.
"Apa begini saja tidak cukup?" Tanya arin lagi.
"Jangan membuat ku semakin terbebani, ku mohon" pinta arin dengan nada yang semakin dipelankan nya.
Setelah itu mereka berdua hanya terdiam tanpa ada yang membuka kata. Bagai rollercoaster hubungan mereka saat ini, setelah semakin dekat mendadak kembali lagi menjadi jauh.
......................
Waktu makan siang telah tiba, membuat siswa dan siswi berhamburan keluar kelas untuk mengisi tenaga mereka setelah belajar keras setengah hari. Terlihat hanya cha saja yang tidak keluar, memilih mendengar kan musik dari ponsel nya.
Melihat itu, arin langsung saja mendatangi cha. Mengajak nya untuk ke cafetaria bersama, karena masalah tadi pagi juga chan langsung pergi makan siang bersama leo dan alfino. Arin dan cha berjalan bersama memasuki antrian yang mengantri untuk mengambil bagian mereka.
Terlihat beberapa orang berdecak kagum melihat mereka berdua. Arin memang sangat cantik, tetapi yang lebih menakjubkan adalah bertambah lagi gadis cantik yaitu levicha. Berjalan berdua pula, sehingga memberi kesan seperti dua bidadari yang kehilangan selendang nya.
Arin dengan kecantikannya yang alami, begitu juga dengan cha yang memiliki kecantikan seperti model karena penampilan nya yang terkesan show up membuat pandangan orang lain tak bisa lepas dari mereka berdua.
Setelah mengambil makan siang nya, arin langsung saja duduk di sebelah chan. Diikuti oleh cha yang duduk juga di sebelah arin. Chan tentu saja terkejut bukan main, ia pikir arin sangat marah pada nya hingga menyuruh menjauh.
Begitu juga dengan leo dan alfino yang sangat gugup karena satu meja dengan dua gadis cantik seperti arin dan cha. Cha yang memiliki kepribadian extrovert langsung saja memulai basa-basi pada ketiga pemuda itu.
"Halo alfino dan leo, mohon bantuan nya ya kalau aku sedang kesulitan di sekolah hehe" sapa cha terang-terangan membuat pipi leo kemerahan seperti terkena demam 40 derajat celsius.
"Chan, kau juga! Omong-omong panggilan kita mirip" tambah levicha lagi sambil memberi senyum persahabatan.
Dan ini lah situasi meja makan cafetaria sekarang. Ada dua gadis cantik dan 3 pemuda yang sedang salah tingkah habis-habisan. Pipi ketiga pemuda itu memerah bagai kepiting rebus.
Tentu saja kejadian itu membuat beberapa pemuda lain merasa iri, mereka bertiga ditemani makan oleh 2 bidadari. Tak sedikit juga gadis yang menggunjing arin dan cha sebagai pencari perhatian.
Tetapi tidak perlu dipikirkan, lebih baik makan saja. Karena makan malam nanti hanya ditemani oleh biskuit sakura mart, pikir arin.
Masa sekolah yang menyenang kan!