BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Ibu dan seorang putra



Bagas segera pergi meninggalkan pemuda yang tak memiliki pemantik itu di tengah kegelapan gang kecil itu. Memasuki gedung kembali untuk segera membersihkan tubuh dan kembali ke ruang belajar. Ibu nya pasti akan segera menjemputnya di sana. Jadi setidaknya bagas harus segera tiba sebelum ibu nya tiba.


Dengan sedikit cepat ia berkemas, waktu yang tersisa tinggal 30 menit lagi sampai waktu sebelum ibu nya menjemput. Padahal hari ini bagas ingin berlari saja ke ruang belajar, tetapi melihat waktu yang semakin sedikit membuat bagas mengurungkan niatnya kembali.


"Sudahlah naik taksi saja"


Usai tiba di ruang belajar southdy for student, benar saja ibunya langsung tiba di sana. Untung saja bagas masih bisa lebih cepat di banding ibu nya. Melihat mobil ibunya telah tiba, bagas langsung masuk ke dalam dan membaca buku catatan seolah baru saja belajar.


Yah tanpa belajar pun bagas sebenarnya cukup pandai, buktinya meskipun membagi waktu belajar nya dengan berbagai latihan tubuh, bagas tetap mendapatkan setidaknya peringkat 10 besar di kelas nya.


"Sudah ibu bilang untuk di dalam saja, kenapa keluar? Kau bisa terkena flu" ucap ibu bagas membuka percakapan di dalam mobil itu.


Bagas yang ditanyai hanya terdiam saja, karena sudah pasti setelah ini ibunya akan menasihatinya lagi dan mencurigainya tentang waktu belajarnya.


"Ibu lihat semakin hari kau bertambah besar saja, kau tidak melakukan hal yang tak berguna kan di luar sana dan meninggalkan pelajaran mu?" tanya ibu bagas yang menaruh curiga pada putranya itu.


"Tentu saja bu, aku kan berolahraga sejak lama" jawab bagas.


"Tidak berguna apanya" batin bagas.


"Baguslah berolahraga memang sangat bagus untuk kesehatan mu, itu menjadi poin tambahan jika kau akan masuk ke fakultas kedokteran nanti" jelas ibu bagas yang membuat bagas sedikit kesal.


Lagi dan lagi ibunya hanya berbicara tentang belajar dan menjadi dokter terus-terusan. Rasanya sangat lelah menjadi boneka yang digerakkan oleh ibunya, tanpa diberi kebebasan dan kesempatan untuk memilih.


Padahal bukan ini yang benar-benar diinginkan oleh bagas, bukan menjadi dokter seperti ayahnya atau pun unggul di berbagai bidang pelajaran. Bagas sendiri pun tak mengetahui apa yang ia inginkan sebenarnya, saking sudah terlalu jauh dikendalikan oleh ibunya.


"Ibu hanya terfokus pada otot lengan mu itu, sepertinya kau berlatih dengan serius untuk membangun itu" ucap ibu bagas lagi.


"Kau jadi semakin mirip dengan ayah mu saat muda" ucap ibunya, yang entah sudah berapa kali ia mengatakan itu pada bagas setiap tak sengaja memperhatikan otot bagas.


"Mulai besok kau harus lebih banyak mengonsumsi protein ya, ibu akan mengatur makanan mu dengan teliti lagi"


"Kau tidak perlu makan siang di cafetaria sekolah untuk beberapa waktu ini, ibu akan mengantar makan siang mu"


"Jadi kau hanya perlu fokus belajar saja dan menjadi dokter seperti ayah mu".


Beberapa kata dan kalimat yang dilontarkan oleh ibu bagas, membuat bagas bagai tak berkutik, dan hanya mengiyakan semua petunjuk itu. Entahlah apa itu petunjuk atau penjara, bagas pun tak mengetahuinya.


"Baiklah" ucap bagas pada akhirnya.


......................


"Jadi bagaimana? Kau bergabung ya!" ujar darren pada arin yang kini sedang dimintai persetujuan dari darren.


Tetapi sepertinya tanpa persetujuan dari arin pun si darren sialan ini akan langsung memasukkan nama arin ke dalam kelompok yang sama sekali tak diinginkan arin itu.


Ya, ini adalah pemilihan kelompok mata pelajaran sejarah yang diajarkan oleh ibu rasining. Karena ada lima topik yang harus di bahas sampai ujian semester ganjil tiba, jadi ibu rasining memerintahkan siswanya untuk membentuk lima kelompok saja.


Karena berjumlah 31, pastinya akan ada kelompok yang berjumlah 6 orang. Tetapi itu tak penting bagi arin, karena arin awalnya berpikir bahwa ia sudah pasti akan berada di kelompok yang sama dengan tiga serangkai dan cha.


Tetapi si darren sialan ini malah langsung memasukkan namanya dan arin untuk berada di kelompok yang sama, bersama kezia dan hana. Oh satu lagi adalah teman satu meja hana si ranking 20, Matthew Sayersz.


Dan ternyata sekarang satu-satunya kelompok yang beranggotakan 6 orang itu ternyata adalah keempat temannya dan dua gadis thailand itu. Padahal kan harusnya ia yang berada di kelompok itu, satu kelompok bersama chan.


Arin memandangi teman-temannya itu dari tempat duduk nya yang berada di posisi belakang dengan wajah memelas. Lagi-lagi ia berpisah dari keempat temannya itu. Dan lagi-lagi ia malah terjebak dengan darren sialan, dan salah satu gadis yang sangat tak disukainya di kelas ini, hana.


Chan melihat ke belakang, memastikan bagaimana keadaan kekasihnya itu kini karena harus berpisah lagi darinya. Memang sih di sekolah setiap murid harus bisa bergaul jika ditempatkan di mana saja, tetapi chan hanya khawatir jika tak bersamanya, arin pasti akan kesulitan.


Karena hanya kepada chan lah arin bisa belajar dengan santai dan menunjukkan kebodohan nya tanpa ragu-ragu. Jika arin menunjukkan dengan jelas ketidaktahuan nya akan pelajaran itu kepada orang lain, sudah pasti arin akan direndahkan lagi seperti yang sudah-sudah.


Karena arin sudah berada di kelompok bersama kezia, sehingga mau tak mau chan mengajak mali dan asa untuk bergabung di kelompoknya. Dan kini mereka sudah genap 6 orang untuk membentuk kelompok yang baru.


"Gila! Arin lagi-lagi berpisah dengan kita" ucap cha yang memulai obrolan.


"Kau mau menggantikan arin?" tanya chan mengetes cha dengan maksud bergurau.


Cha yang mendengar pertanyaan itu langsung bergidik ngeri, membayangkan ia berada di kelompok yang sama dengan darren dan juga si hana itu, oh dan lagi ada si mulut pedang kezia.


"Kalau begitu kau saja chan yang menggantikan arin" ucap cha memberi susulan dengan maksud bercanda juga.


Mendengar itu terbesit di pikiran chan untuk melakukannya, agar arin bisa nyaman berada di kelompok bersama cha. Tetapi bagaimana ya, sudah pasti darren akan menolak kehadirannya, dan lagi kezia pun akan melakukan hal yang sama. Lagi pula akan sangat egois jika juara pertama dan kedua di kelas berada dalam satu kelompok yang sama.


Usai membagikan kelompok, pelajaran sejarah akhirnya berakhir juga. Dan ini adalah waktu istirahat pergantian jam pelajaran. Arin langsung menuju tempat sahabat berada.


"Aku berpisah lagi, chan pokok nya kau harus bantu aku ya kapan pun aku tanyai nanti" ucap arin dengan raut wajah memelas.


"Baik tuan putri" ujar chan yang membuat arin sedikit blushing.