
Kezia POV ...
Ada apa dengan si chan cupu itu?!
Mengapa diam saja saat gadis yang disukainya setengah mati itu diganggu terang-terangan oleh orang lain, seperti pecundang saja, benar-benar penakut. Melihat nya yang berlaku diam saat arin dipermalukan oleh darren, apa tidak ada niatnya sedikit saja yang bergejolak untuk membantu arin?
Bagus saja dulu dia sudah menolak ku, haduh bisa-bisanya aku menaruh rasa suka pada pemuda sepertinya. Tak bisa kubayangkan jika aku berkencan dengan pemuda cupu sepertinya. Chan kau sungguh tak punya tekad dan keberanian rupanya. Keberanian di hadapan orang yang kau sukai, pantas saja kau ditolak.
Sebenarnya apasih yang dulu kusukai dari orang sepertinya. Sudahlah fisik yang tidak mendukung, dan sekarang sifatnya yang benar-benar tidak bisa melindungi. Apa benar dia menyukai arin sebesar itu?
Tapi memang sih chan itu anak yang cukup cekatan dan berani menyampaikan pendapat. Bisa dibilang orang yang ahli berdebat, tetapi skill berdebatnya itu sepertinya hanya berlaku di pelajaran saja. Buktinya saat berhadapan dengan arin langsung, ia malah gugup setengah mati dan memilih tak berdebat dengan darren pick me boy itu.
Ku pikir sifat pemalu dan penakutnya itu hanya bertahan di tahun pertama saja, karena sedikit culture shock dengan kehidupan sekolah menengah ternyata tidak juga. Justru sampai saat ini terkadang ia masih agak malu-malu di depan orang yang dia sukai. Mungkin karena sifatnya yang malu-malu itu dulu aku bisa jatuh hati pada nya. Pipi nya yang memerah bak kepiting rebus saat menerima ucapan terimakasih atau sedikit pujian. Polos sekali pikirku.
Haha membayangkan kejadian itu membuat ku tertawa saja, menyenangkan sih bisa menggoda anak pemalu itu. Jadi aku bisa sedikit terhibur dengan kelakuannya chan di tengah keseriusan bersekolah di Einstein & Robert School ini. Sekolah dengan tingkat persaingan yang tinggi ini, jadi tentunya akan sangat bosan jika hanya bersaing terus menerus tanpa ada hiburan sedikitpun.
Usia chan juga yang 2 tahun lebih muda dari ku membuatnya terlihat seperti bayi jangkung. Menggelikan memang menyebut nya sebagai seorang bayi. Tetapi pada saat penerimaan murid baru, ia memang benar-benar terlihat seperti bocah tahu! Mungkin karena usianya yang masih di bawah ku.
Meskipun 2 tahun lebih muda, chan bisa berada di kelas 2 sekarang ini berkat dirinya yang terlalu pandai itu, yah mirip-mirip dengan anak jenius lah. Sehingga ia hanya membutuhkan waktu 5 tahun saja untuk menempuh sekolah dasar dan membutuhkan waktu 2 tahun untuk menyelesaikan sekolah menengah pertama nya. Dan saat kenaikan kelas 11, ku dengar rumor bahwa chan diberi kesempatan memilih untuk melompat kelas, langsung ke kelas 12.
Tetapi entah apa yang membuat anak itu tetap menjalani kelas 11 nya seperti saat ini. Padahal kalau melompat kelas, bisa saja ia akan menjadi lulusan termuda yang terkenal akan kejeniusan nya. Huh chan, kalau aku jadi seperti kau pasti orang tuaku akan sangat bangga pada ku dan tidak selalu membandingkan aku dengan kakak perempuan ku.
Bagaimana mungkin ia tidak jenius, ayah nya saja seorang profesional di bidang kimia. Bahkan ayah nya chan adalah mantan anggota yang bergabung dalam IUPAC, yaitu badan internasional yang mewadahi dan mewakili para peneliti di bidang kimia serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan bidang tersebut.
Ada yang bilang bahwa tuan givenchen berbanding terbalik dengan chan. Pasalnya chan yang tinggi nya sudah mencapai 183 cm di usia nya yang baru 15 tahun itu ternyata memiliki sosok ayah yang tingginya hanya satu setengah meter saja. Tetapi itu hanya rumor belaka saja.
Karena hingga kini masih belum ada yang memastikan bahwa kabar itu benar adanya atau sekedar omong kosong saja. Pasalnya tak ada yang pernah benar-benar melihat ayah chan secara langsung.
Bagian itu aku tidak terlalu perduli sih karena tidak ada baiknya mencampuri urusan orang lain kecuali yang seperti darren tadi memang lain cerita harus ikut campur bagaimana pun cara nya. Suara nya yang berisik dan hatinya yang dengki itu benar-benar harus di pukul rata. Ada untung nya juga memiliki perawakan yang galak begini, sehingga ada ketakutan tersendiri yang muncul dari orang yang ku bentak itu.
Yah aku memang dikenal memiliki sifat galak sih, karena kata-kata ku yang beberapa kali menusuk teman-teman secara langsung. Sehingga mereka dengan mudahnya memberi label gadis galak pada ku. Tapi aku tak masalah juga, karena jika aku sudah angkat bicara pasti mereka akan langsung menurut. Lebih menurut pada ku dibanding dengan ketua kelas itu sendiri.
Omong-omong sejak kapan ya chan bisa menyukai narin, pasal nya tahun pertama yang kami habiskan di kelas yang sama, sepertinya ia tidak pernah menyinggung atau berbicara sedikit tentang seorang gadis. Ku pikir juga, anak sepertinya tak tahu apa itu cinta, maksud ku bagaimana mungkin anak yang gugup saat berdekatan dengan seorang gadis sepertinya malah memiliki orang yang disuka. Karena anggapan itu juga waktu itu aku memberanikan diri untuk mengajak nya berkencan duluan.
Pemuda yang memiliki sifat baik, pandai dan cekatan, terutama kebiasaannya yang sering malu-malu itu. Sangat menyenangkan untuk ku godai setiap hari jika kami benar-benar berkencan. Yah tetapi keputusan chan berkata lain, tentu saja ia menolak ku karena ada gadis yang disukai nya katanya.
Aku yang terlalu shock mendengar nya waktu itu langsung tidak memperpanjang cerita dan segera pergi meninggalkannya, setelah itu tidak lama lagi liburan sekolah telah tiba dan kami benar-benar berpisah sampai sekarang. Namun tak kusangka kami malah dipertemukan lagi di kelas yang sama. Tetapi sepertinya saat memulai kelas 11 ini, ia berlaku seperti tak terjadi apa-apa, baguslah pikir ku.
Yang ku pikir kan saat itu hanyalah jangan sampai hal itu diketahui oleh teman-teman di kelas yang baru ini. Mau di taruh di mana wajahku yang garang ini jika ketahuan telah di tolak dengan pemuda seperti chan.
Mendengar chan yang ditolak oleh arin entah mengapa ada sedikit perasaan puas di dalam hati ku. Rasanya, rasa malu yang ku tahan hari itu terbalaskan oleh penolakan arin.
Ingin ku keluarkan tawa jahat ku ini tepat di depan chan yang mendapat penolakan dari arin hari itu. Chan sih yang memiliki selera terlalu tinggi, seorang arin bak bidadari itu mana mungkin menerima nya semudah itu.
Huhuhu chan yang malang.