BE MY GIRLFRIEND PLEASE

BE MY GIRLFRIEND PLEASE
Berkencan?



Satu bulan kemudian...


Tak terasa sudah memasuki masa ujian tengah semester, arin dan chaiden juga sudah semakin dekat sejak 'partner belajar' dan ya sedikit demi sedikit nilai arin semakin meningkat.


Jujur, sejauh ini arin merasa sangat berterimakasih pada chan yang selalu tulus padanya dan ada saat di perlukan. Arin pikir karena sudah menolaknya dengan sangat kasar waktu itu, chan akan membencinya padahal tidak demikian.


"Apa aku coba buka hati sekali saja ya" pikir arin dalam hati.


Arin benar-benar berpikir apakah ini merupakan keputusan yang tepat baginya.


Apa benar chan sesuka itu padanya?


Bagaimana kalau pada akhirnya chan juga sama seperti pemuda kaya lainnya. Ada banyak pertanyaan dan keraguan dalam diri arin. Yang tentunya tak bisa ia tanyakan pada chan.


Saat ini mereka berdua, arin dan chan sedang berada di study cafe, belajar bersama untuk persiapan UTS besok. Besok adalah ujian mata pelajaran sosiologi dan bahasa mandarin. Mereka belajar ditemani dengan suasana hening cafe saat ini. Karena penghuni lain juga berkunjung untuk belajar.


Mantel berwarna biru muda yang di beli arin hari itu ia pakai untuk melindunginya dari cuaca dingin. Tak lupa syal itu, syal pemberian chan tadi pagi karena leher arin terasa begitu dingin.


Hari sudah semakin gelap, matahari tak menampakkan diri lagi. Cha yang sekarang sudah bekerja paruh waktu sebagai model busana brand lokal terlihat sangat sibuk membagi waktu.


Leo dan alfin pun juga begitu, bedanya mereka berdua sibuk karena harus les tambahan hingga tengah malam agar bisa mendapatkan skor yang bagus pada UTS nanti.


Narin pov


Sudah 3 bulan aku berada di tahun kedua di sekolah ini, rasanya seperti sudah banyak sekali yang ku lalui sampai pertengahan semester ini. Dan lagi, senang sekali rasanya bisa berteman baik dengan orang-orang tak terduga ini.


Chan juga!


Belakangan ini ia selalu menyiapkan sarapan lengkap untukku, terkadang ibunya juga menitip salam hangat untukku. Sampai-sampai aku berpikir, apa boleh aku merasa sesenang ini?


Tetapi chan sepertinya tak lagi mengharapkan perasaan ku padanya. Apa dia sudah benar-benar nyaman berteman saja dengan ku.


Sudahlah!


Fokus saja pada pelajaran ini, karena besok benar-benar UTS, setidaknya aku harus meningkat 5 rangking dari ranking ku yang sekarang. Oh tidak, bahkan meningkat 1 ranking saja aku sudah cukup bangga.


Melihat ku yang kesulitan mengerjakan soal membuat chan angkat suara.


"Ini, hafalkan saja ini lagi pasti untuk soal berikutnya kau bisa menjawab hanya dengan membaca awalan katanya saja" ucap chan padaku.


Soal seni ini benar-benar menjebak.


"Chan apa kau tak merasa terbebani? Atau bahkan merasa seperti dimanfaatkan" ujar ku penasaran dengan respon nya.


Tetapi jawaban chan justru membuat ku terkejut, dan sedikit blushing. Tunggu aku blush? Di depan chan? Sejak kapan?!.


"Jika itu memang bisa membuatku selalu dekat dengan mu, tak masalah"


Kata-kata nya itu....


Kata-kata nya di malam yang senyap itu, disusul oleh salju pertama yang datang hari itu. Benar-benar membuat ku gugup.


Tetapi aku masih bingung dengan perasaanku, apa ini benar-benar rasa suka ku terhadap chan?


Apa ku manfaat kan saja si chan ini agar ia segera sadar?!


Dan lagi aku mendapati chan yang diam-diam memandangi ku. Dan kenapa aku menjadi salah tingkah begini?!


Sudah sering ku dapati ia melirik ku diam-diam, tetapi aku hanya akan cuek saja dan bertingkah seolah tak terjadi apa-apa. Tetapi mengapa sekarang bagai ada kupu-kupu di dalam perut ku.


Ah sudahlah aku tak bisa begini terus.


Sehingga ku putus kan untuk...


"Chan, ayo berpacaran denganku, aku jadi suka padamu sekarang..." ungkap ku dengan lantang.


Pengakuan pada salju pertama, terdengar indah bukan.


Tetapi seketika aku tersadar lagi, mengajaknya berkencan...


Memang benar, aku pasti benar- benar sudah gila.


"Ayo" jawab chan dengan mata yang berbinar dan senyuman lembut miliknya.


Satu kata darinya membuatku sedikit berdebar.


Apa ini berarti hari pertama kami?


Narin pov end


Usai belajar Mereka berdua berjalan menikmati salju yang dingin itu. Dengan erat chan menggandeng tangan arin, rasanya chan sangat bahagia sekarang. Berkencan dengan arin, ini seperti mimpi. Apalagi arin lah yang terlebih dahulu mengajaknya, ia pikir selama ini arin yang cuek saja terhadap perasaan nya. Ternyata sepertinya arin tak benar-benar secuek itu.


Setelah berjalan sambil bergandengan tangan cukup lama, sepertinya udara dingin ini benar-benar membuat mereka membeku. Sehingga chan menyarankan untuk segera pulang saja. Tak lama setelah itu, chan dijemput oleh supir pribadinya, meninggalkan arin yang masih sungkan jika ikut bersama dengan chan.


Chan menyapa lewat kaca yang sudah terbuka.


"Kau benar-benar tak apa pulang sendirian? Udara sangat dingin, kau bisa terkena flu" ujar chan yang kini sudah masuk ke dalam mobil.


"Tak apa pergilah, sampai jumpa esok" jawab arin yang sudah kedinginan, tetapi berusaha menutupinya di depan chan.


"Sarapan besok, kau ingin apa? Kau harus sarapan agar fokus untuk ujian" tanya chan.


"Apa saja yang kau berikan pasti akan aku terima kok, makasih ya" ucap arin memberikan senyuman nya pada chan.


Mereka berdua benar-benar berada dalam posisi hati yang sedang berbunga-bunga.


Tak lama setelah chan pergi, arin langsung masuk kembali ke dalam study cafe. Sial sepertinya tangan nya benar-benar sudah membeku sekarang.


Teringat hal tadi membuat arin senyum-senyum sendiri, ternyata si Chan jangkung itu tak seburuk orang kaya lainnya. Tetapi apa benar chan menyukai nya sebesar itu?


Lagi-lagi hati nya kalut, bimbang akan hubungan mereka saat ini. Arin memandangi salju itu lagi dari dalam cafe, sepertinya ia tak bisa pulang berjalan kaki hari ini, lebih baik memesan taxi saja.


Baru saja arin hendak keluar dari cafe itu, seorang pemuda kekar mendatanginya. Oh iya dia itu, ia itu si beruang! Beruang dari kelas sains. Sial apa yang dilakukan nya disini, dan lagi mengapa menghampiri arin.


Pemuda yang disebut beruang oleh arin itu, menghampiri arin tanpa ragu-ragu dan duduk di kursi yang semeja dengan arin.


"Mau melihat salju bersama" ucap nya tiba-tiba memulai basa-basi sok akrab.