Another Chance

Another Chance
Bab 9



Zoya menatap Nio yang kini sibuk berbincang dengan Langit mengenai pekerjaan yang harus dihandel sang asisten. Sejak istrinya dirawat, ia tak pernah pergi meninggalkan Zoya. Hanya sesekali ia pulang untuk mengecek keadaan Rasya di rumah. Setelah itu ia kembali ke rumah sakit.


"Hanya itu saja. Untuk rapat yang tak bisa diwakilkan, suruh Arnetta menghubungi client dan meminta dijadwalkan ulang pertemuannya," ujar Nio pada Langit.


"Baik, Tuan. Untuk drama yang sedang proses syuting di Puncak katanya sutradara meminta untuk mengganti lokasi. Ia akan menghubungi Tuan untuk lebih lanjutnya," kata Langit pada atasannya.


"Baiklah, untuk sekarang itu saja. Selebihnya kamu urus. Saya akan mengerjakan pekerjaan lain dari sini."


Setelah perbincangan itu, Langit pamit untuk kembali ke kantor. Tak lupa juga berpamitan pada sang nyonya.


Setelah Langit pergi, Nio beranjak melangkahkan kakinya mendekati brankar sang istri.


"Maaf agak lama." Lelaki berjanggut tipis itu membantu Zoya untuk duduk. Setelah dirasa nyaman, Nio meraih nampan berisi makanan milik sang istri. Dengan telaten, ayah satu anak tersebut menyuapi Zoya.


"Kapan aku bisa pulang?" tanya Zoya sembari mengunyah makanannya.


"Jangan bicara saat banyak makanan di mulutmu, Zoya." Kembali Nio menyuapkan satu sendok penuh makanan ke mulut sang istri.


Zoya pun hanya mencebik dan diam selama makan.


"Sudah, aku kenyang," ujar wanita cantik itu mendorong pelan sendok di depannya.


"Dua suap lagi, Zoya. Ayolah." Nio pun terus membujuk istrinya agar menghabiskan makanannya.


"Nggak, nanti aku gemuk," tolak Zoya membuang muka.


"Astaga, lagi sakit gini masih saja memikirkan diet. Lupakan dietmu itu. Kamu tidak lihat seberapa kurus tubuhmu? Bahkan hampir mirip dengan sehelai tissue."


"Apa! Kamu bilang aku serious tissue? Rata dong? Body goals gini dibilang kurus. Tidak terima aku! Lihat nih baik-baik, tubuhku seksi begini!" Zoya membusungkan dadanya yang memang cukup berisi. Nio sendiri bahkan sampai susah menelan salivanya apalagi dua kancing atas piyama sang istri terbuka.


Melihat suaminya yang diam dengan wajah memerah, Zoya pun menunduk dan sedikit tersentak melihat kondisi piyamanya. Buru-buru wanita muda itu menutup tubuhnya dengan selimut.


Keduanya membuang muka dengan wajah salah tingkah. Bisa-bisanya Nio fokus ke sana dan bisa-bisanya juga Zoya menunjukkan aset pribadi yang membuat suaminya gagal fokus.


"Kkhhmmm. Habiskan dulu sisa makanannya. Tidak baik membuang makanan," ujar Nio dibalik rasa gugupnya.


"A-aku sudah kenyang. Makan saja sisanya olehmu." Zoya buru-buru berbaring dan menutup seluruh tubuhnya sampai kepala dengan selimut.


'Dasar munaroh. Kasih sedikit hal indah untuk suami malunya seperti ditelanjangi. Tapi untuk si brengsek itu tanpa malu kamu tunjukkan semuanya.'


Mendengar itu, Zoya membuka sedikit selimutnya. Kembali ia melihat wanita menyebalkan yang sialnya adalah dirinya sendiri.


'Berisik! Kau juga menikmati lelaki bajingan itu, bahkan lebih lama dariku,' rutuk Zoya menatap kesal pada bayangan cantik tetapi mulutnya seperti sampah.


"Dasar mesum!" cibir Zoya.


"Apa kamu bilang?"


Zoya membuka sedikit selimutnya, menatap Nio yang menatapnya dengan aneh.


"Kamu bilang aku mesum?" tanya Nio tak percaya.


Bisa-bisanya Zoya mengatakan hal yang paling ia jaga selama ini, padahal Zoya adalah istrinya. Ia bahkan bisa melihat apa yang terbungkus oleh pakaian istrinya itu tanpa dicap mesum.


"Bu-bukan Mas," lirih Zoya merasa tak enak. Ia melirik tajam tersangka yang justru sekarang tengah mengejeknya.


"Bukankah hanya kita berdua yang berada di ruangan ini? Jika bukan saya lalu siapa?" tanya Nio dengan wajah datarnya. Ah, Zoya sungguh benci reaksi wajah tanpa ekspresi milik suaminya itu.


'Gara-gara kamu nih!' rutuk Zoya menatap tajam wanita bergaun putih yang kini menjulurkan lidahnya mengejek. "Kurang ajar! Pergi, Setan!"


"Loh, kok kamu ngusir saya? Bahkan sampai ngatain saya setan segala," omel Nio tak terima.


"Aduh, maaf, Mas. Bukan Mas kok," sahut Zoya panik.


"Kamu gak suka saya di sini?" tanya Nio dengan kesal.


"Ng-nggak gitu. Aku su—"


Brakkkkk! Terdengar suara pintu terbuka dengan kencang.


"Sayang!"


Sepasang suami-istri itu menoleh ke arah pintu. Zoya terlonjak kaget melihat siapa yang datang.


Jordan. Siapa lagi kalau bukan laki-laki sialan itu.


"Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya lelaki berjaket jeans itu menghampiri kekasihnya. "Aku sangat khawatir padamu."


Melihat lelaki itu datang, dada Nio sedikit nyeri. Dengan hati yang potek, ia beranjak dari duduknya.


"Ngapain di sini?" omel Zoya pada lelaki sialan itu.


"Saya keluar dulu. Jika ada apa-apa bisa panggil saya." Nio berbalik melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Mas! Jangan tinggalin aku sama jelmaan Sangkuni, Mas!" teriak Zoya panik ditinggal Nio hanya dengan lelaki menyebalkan itu.