Another Chance

Another Chance
Bab 17



Mata Zoya membulat. Apa yang dikatan Nio? Ingin tidur di kamarnya? Ini sungguh mustahil.


"Zoya." Nio melambaikan tangan di depan wajah sang istri. Zoya pun kembali tersadar dan mengerjap.


"M-Mas mau tidur di sini? Kenapa dengan kamar Mas Nio?" tanya Zoya menaikkan satu alis.


Nio sendiri terlihat salah tingkah dengan mengusap tengkuk lehernya. "Sebenarnya aku merindukan Rasya. Kamu tahu sendiri sejak ia lahir kami selalu tidur bersama. Jadi, setelah dia pindah ke kamarmu, aku jadi susah tidur," ujar Nio tersenyum kikuk.


"Kenapa gak bilang daritadi, Mas, sebelum Rasya tidur. Apa mau dibawa saja ke kamar Mas?" tanya Zoya.


"Apa aku tidak boleh tidur di sini?" tanya Nio dengan wajah sedihnya.


"Bu-bukan begitu, cuma takutnya kasurnya tidak muat," jawab Zoya salah tingkah.


Bagaimana bisa mereka tidur satu ranjang. Seumur menikah, mereka tak pernah tidur di ranjang yang sama.


Nio pun menghela napas pelan dengan wajah lesunya. "Ya sudah, tidak apa-apa. Aku tahu kamu pasti tidak nyaman dengan keberadaanku. Aku akan kembali ke kamarku." Nio pun berbalik hendak melangkahkan kakinya, tetapi tiba-tiba tangannya ditahan oleh Zoya hingga lelaki itu menatapnya.


"Kalau mau tidur di sini tidak apa-apa, Mas. Lagian ini rumah Mas. Semoga saja ranjangnya muat. Ayo masuk," ujar Zoya menatap suaminya dengan salah tingkah.


"Kamu serius? Aku boleh tidur di sini?" tanya Nio berbinar. "Kkmmmm." Lelaki itu berdeham setelah sadar ia melakukan tindakan bodoh. Ia takut Zoya berpikir dia ingin tidur di sana untuk melakukan hal aneh-aneh.


"Masuk, Mas." Zoya melebarkan pintu dan Nio pun masuk, melangkah ke ranjang. Terlihat sang anak tidur terlentang dengan kedua tangan di atas kepala begitu nyenyaknya. "Mas tidur di sebelah kanan Rasya, ya. Aku terbiasa tidur menyamping ke kanan soalnya," ujar wanita cantik itu naik ke pembaringan.


"Makasih ya, sudah mengizinkanku tidur di sini," kata Nio yang ikut naik ke ranjang.


Kini, keduanya berada di satu pembaringan dengan Rasya di antara mereka. Meski terbatas oleh sang anak, tetap saja jantung keduanya berdebar tak karuan.


'Tenang, Zoya. Dia suamimu. Bahkan kamu sering tidur dengan si bedebah itu. Tenang, lagian Mas Nio gak akan macam-macam,' batin Zoya.


"Apa lampunya tidak dimatikan?" tanya Nio.


"Ah, itu. Maaf, Mas. Aku fobia gelap. Jadi, aku tidak bisa mematikan lampunya. Apa Mas terganggu?" tanya Zoya menatap suaminya.


"Kamu fobia gelap?" tanya Nio tak percaya.


"Iya, Mas," jawab Zoya yang kini mulai menguap Dan perlahan menutup matanya.


"Sejak kapan?" lirih Nio masih dengan rasa terkejutnya.


"Sejak kecil, Mas. Dulu aku sering dikurung di tempat yang gelap, jadi ... aku ... punya fobia gelap ...." Tanpa Zoya sadari, ia bicara rahasia terbesarnya. Setelah itu ia terlelap dengan begitu damainya, meninggalkan Nio yang bertanya-tanya dalam hati.


Nio yang sejak tadi menatap Zoya pun merasa miris dengan apa yang baru ia ketahui. Dikurung di tempat gelap? Siapa yang melakukannya? Bukankah Zoya adalah anak kesayangan keluarga Lavani? Tidak mungkin mereka memperlakukan buruk Putri Mahkotanya, 'kan?


Zoya memang bukanlah wanita sembarangan. Ia adalah anak tunggal dari keluarga pengusaha real estate. Ayahnya — Samudera Lavani adalah pemilik perusahaan terbaik real estate dan ibunya— Ken Ayu Maharani adalah seorang desainer ternama. Meski kini kedua orang tuanya telah tiada, ia tetap menjadi Putri Mahkota dari keluarga Lavani. Jadi, bagaimana bisa dia dikurung di tempat gelap hingga memiliki trauma?


Nio tersenyum menatap istrinya yang tidur dengan damainya. Wajah cantik tanpa polesan make up itu terlalu membuat Nio terpesona. Zoya memang memiliki paras yang cantik dan tak bosan jika dilihat seberapa lama pun, membuat Nio tak henti menatapnya, apalagi ini adalah kali pertama ia melihat secara dekat.


"Dia tidak berubah sama sekali," ujarnya dengan wajah berbinar.


Nio menatap tangan halus istrinya yang kini memeluk tubuh kecil anak mereka. Perlahan, tangan kekar itu bergerak menyentuhnya. Jantung Nio berdebar hebat merasakan betapa halus kulit putih itu. Ia genggam dengan erat sesekali jempolnya mengayun memberi usapan.


"Ini adalah impian yang selalu aku bayangkan, Zoya. Kita bertiga tidur di ranjang yang sama dengan perasaan cinta satu sama lain. Meski kamu melakukannya demi Rasya, aku sungguh bahagia. Terima kasih, Zoya, karena sudah memberiku kesempatan emas ini. Aku janji, selama hidup, aku akan menjadi pelindungmu, menjadi orang yang selalu berada di sampingmu dan menjadi satu-satunya orang yang percaya padamu meski seluruh dunia mengatakan hal buruk padamu, karena aku tahu, kamu adalah wanita yang sangat baik. Selamat tidur istriku. Aku ... mencintaimu."


Setelah mengatakan itu, Nio pun menutup mata untuk tidur dengan merasakan perasaan yang begitu hangat. Siapa yang tak bahagia jika perlahan impian yang ia anggap mustahil justru terwujud. Ah, semoga saja Zoya tahu bahwa Nio sangat mencintainya sejak dulu.