
"Mas Nio!" teriak Zoya ketika melihat suaminya dihajar oleh seseorang.
"Jauhi Zoya!" maki lelaki yang kini memukuli Nio yang berusaha menghindar.
Melihat siapa yang menghajar suaminya, dengan penuh amarah Zoya menendang pinggang kanan lelaki itu hingga si lelaki terpental. Kini, Zoya lah yang menghajarnya.
"Sialan! Berani kau menghajar suamiku!" Dengan gerakan bela dirinya, Zoya menghajar lelaki yang selama dua tahun menjadi kekasih gelapnya.
Jordan diam saat Zoya memukulnya. Bahkan ia memberikan tubuhnya untuk dihajar oleh wanita yang sangat dia cintai itu. Melihat Jordan diam, Zoya pun menghentikan pukulannya.
"Pukul aku, Zoya! Pukul semaumu," teriak Jordan. "Bahkan jika mau, kamu bisa membunuhku."
Zoya masih menatap menyalang lelaki di depannya. Jordan bangkit dengan menahan rasa sakit. "Aku tidak akan membiarkan ada orang yang membuatmu menangis. Kau tidak boleh menangis lagi, Zoya. Kamu sudah berjanji tidak akan menangis lagi." Ia hendak menyentuh Zoya, tetapi wanita itu mundur.
"Zoya, kenapa kamu menjauhiku? Apa salahku padamu?" tanya Jordan dengan sedihnya.
"Pergi! Aku benci melihatmu!" teriak Zoya dengan emosi.
"Baby, katakan padaku, apa salahku sampai kamu membenciku? Apa yang aku lakukan padamu? Aku selalu ada untukmu, memberimu kebahagiaan. Lalu kenapa kamu menjadi membenciku?" tanya Jordan kembali. Ia sungguh tak tahu kenapa wanitanya tiba-tiba benci padanya.
"Jordan!" teriak seseorang yang berlari menghampiri semuanya. "Astaga, kenapa wajahmu babak belur? Bagaimana ini? Kamu harus tampil sebentar lagi," ujar Romi—manager Jordan panik.
Saat itu memang kebetulan Jordan tengah di Singapura menjadi bintang tamu salah satu acara di sana. Meski tak terlalu terkenal di tanah air, ia cukup terkenal di Negara Singa itu. Karier yang saat itu sudah hampir sukses tiba-tiba hancur karena kasus skandal dirinya bersama Zoya—istri dari laki-laki lain. Jordan jatuh cinta saat pertama kali melihat mantan artis itu tengah di klub malam sendirian. Saat itu Zoya sendiri sedang terpuruk dan datangnya Jordan seperti oase di gurun pasir, menghujaninya dengan kasih sayang.
Jordan memang mencintai Zoya. Di kehidupan sebelumnya ia selingkuh dan mempermainkan Zoya saat bertemu seorang gadis yang merubah dirinya. Itu terjadi setelah tiga tahun Jordan dan Zoya bersama.
Zoya tahu, tapi untuk di kehidupan ini, ia lebih memilih Nio meski sejujurnya rasa benci Zoya pada Jordan itu terbawa di sisa-sisa sakit hatinya di masa lalu.
"Sayang ... aku mohon kembalilah." Jordan masih berusaha untuk mengambil kembali cintanya. Namun, sang cinta justru menjauh.
"Pergilah. Jangan pernah menemuiku lagi. Kita sudah selesai." Zoya berbalik memunggungi Jordan.
"Zoya ....," lirih Jordan. "Apa kamu lupa, di saat dunia menyakitimu, di saat mereka menjauh, hanya aku yang selalu ada bersamamu. Hanya aku yang selalu menggenggam tanganmu. Apa kamu lupa?" tanyanya dengan dada yang terasa sesak. "Aku tahu, aku tidak sekaya dia, tapi cintaku padamu melebihi dunia ini, bahkan aku rela kehilangan karierku hanya untuk menemanimu."
Air mata Zoya terjatuh. Bagaimana ia lupa. Meski semua adalah kesalahan, tetapi bersama Jordan, ia selalu merasa seperti ratu. Meski pada akhirnya lelaki itu juga yang menghancurkan hidupnya.
Zoya menghapus air matanya. Ia berbalik menatap Jordan yang begitu terlihat menyedihkan. "Lupakan aku. Carilah wanita lain. Aku ingin menjalani hidupku bersama suami dan anakku. Terima kasih atas ketulusanmu, tapi hubungan kita berakhir, Jordan."
"Tidak, aku tidak mau, Zoya! Aku tidak bisa hidup tanpamu." Jordan hendak melangkah tetapi tubuhnya ditahan sang manager.
"Semua sudah selesai. Hiduplah dengan baik dan raih kembali kariermu." Zoya kembali berbalik, melangkahkan kakinya menghampiri sang suami lalu memeluknya. "Aku sudah bahagia bersama suami dan anakku. Jika kamu mencintaiku, maka lepaskan aku. Selamat tinggal, Jordan."
Kamu akan bertemu dengannya, Jordan. Dialah yang kamu cintai, bukan aku. Daripada nanti kita saling menyakiti, lebih baik kita berpisah dari sekarang sehingga kebahagiaan bisa kita dapatkan. Terima kasih, karena sudah menjadi orang yang sangat mencintaiku. Setetes air mata terjatuh di pipi Zoya.
Melihat istrinya yang tak baik-baik saja, Nio menghentikan langkah lalu memeluk Zoya dengan sangat erat.
"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku ...."
"Aku bangga padamu, Cheriè. Hubunganmu dengannya aku tahu sangatlah dalam. Terima kasih karena sudah memilihku. Aku janji akan memberikan cinta yang lebih besar darinya. Akan aku berikan semua kebahagiaan di dunia ini untukmu. Aku janji ...."
Zoya tak mengatakan apa pun. Ia hanya bisa memeluk suaminya dengan sangat erat. Menumpahkan perasaan yang ia rasakan. Nio pun hanya memeluknya dengan mengusap punggung sang istri. Ia paham keadaan Zoya saat ini. Melepas lelaki yang selalu bersamanya pasti tak mudah, itulah yang dipikiran Nio. Padahal, Zoya menangis karena rasa takutnya kehilangan kesempatan yang sudah Tuhan berikan.
Dirasa perasaan Zoya membaik, Nio melepaskan pelukannya. Ia usap sisa air mata sang istri. "Kita kembali, ya. Kasihan Rasya sendirian. Aku takut dia bangun dan mencari kita," ucapannya dengan tatapan lembut. Zoya pun setuju dan mereka berjalan menuju hotel.
...**...
Hari telah berganti. Perasaan Zoya pun mulai membaik apalagi dengan kehadiran Rasya juga Nio yang selalu menemaninya. Keluarga kecil itu selalu pergi bersama ke mana pun mereka melangkahkan kaki. Zoya selalu menemani Nio melihat jalannya syuting. Ia sedikit terhibur melihat bagaimana riuhnya di lokasi syuting. Ia juga sempat berbincang dengan beberapa artis yang ia kenal juga dengan sutradaranya.
"Kapan nih Pak Nio ngeluarin artis emasnya?" tanya Rafael—artis yang kini menjadi pasangan Aurora di film.
"Loh, itu Aurora sudah saya keluarin," kekeh Nio.
"Ituloh wanita yang di samping Pak CEO," kata lelaki berusia dua puluh lima tahun itu kembali dengan tawa kecilnya.
"Wah, kalau ini sih diamond saya. Gak akan saya izinkan disentuh laki-laki lain." Nio tertawa dengan tangan yang memeluk bahu istrinya.
"Ampun deh kalau sudah lihat manisnya Pak Nio. Saya sampai jejeritan waktu Pak Nio posting foto Zoya. Aduh, kenapa Vino gak seromantis Pak Nio ya." Raina menyantuh kedua pipinya yang membuat yang lain tertawa.
"Wah, ada Ibu CEO nih. Nyusul akhirnya." Aurora datang. Red alert di kepala Zoya pun menyala. Ia peluk pinggang Nio yang membuat Aurora mencibir. "Dulu disia-siakan, sekarang galak sekali melihat suaminya ditatap perempuan lain."
"Rora ...." Nio menatap tajam sahabatnya yang tersenyum sinis.
"Weh ngeri ya dua artis besar memperebutkan CEO ganteng," sahut Rafael.
"Jadi ingat drama Korea 'kan," kekeh Raina.
"Zoya juga tiba-tiba posesif sama Pak Nio," sahut Sinta salah satu artis juga.
"Ya bagaimana tidak posesif kalau suaminya modelan Pak Nio. Untung saja si Zoya sadar dari khilafnya."
Samua orang akhirnya tertawa melihat tingkah Zoya yang begitu dendam pada Aurora. Sedangkan wanita itu justru terhibur dengan tingkah perempuan yang dia anggap bocah itu. Ia terus meledek Zoya dengan memeluk dan bahkan mencium pipi Nio. Lelaki itu sendiri dibuat pusing oleh istri dan sahabatnya yang menganggap dirinya seperti tanah perbatasan yang diperebutkan.