Another Chance

Another Chance
Bab 11



Satu minggu sudah Zoya dirawat. Hari ini ia diperbolehkan pulang. Salah satu pelayan tengah membereskan barang-barang di kamar rawat sang nyonya. Sedangkan Nio sibuk berbicara dengan dokter membahas keadaan Zoya. Lalu sang pasien tengah meringis karena perawat tengah melepas jarum infusan.


Setelah selesai membahas keadaan sang istri, Nio mempersilahkan dokter keluar dari ruangan, tak lupa wanita berjas putih itu memberi salam perpisahan dan mengatakan untuk berhati-hati lain kali. Mendengar itu Zoya sedikit malu. Awalnya mau bunuh diri justru selamat. Malah kini lehernya sudah tak mulus lagi gara-gara bekas jahitan.


"Apa semua sudah selesai?" tanya Nio pada pelayannya.


"Sudah, Tuan," jawab wanita muda yang kini menenteng beberapa tas.


"Baiklah, kita pulang sekarang, ya. Langit sudah menunggu di lobby," ujar Nio menyerahkan masker dan kacamata untuk istrinya kenakan.


Zoya memang meminta itu sebab ia tak mau jadi pusat perhatian ketika keluar rumah sakit. Begitu juga Nio. Meski dia bukan artis, tetap saja ia cukup terkenal. Bukan hanya karena dia suami dari seorang Zoya Maharani Lavani, tetapi karena rumah produksinya yang terkenal dengan menyuguhkan film serta series layak tonton bahkan selalu sukses. Arsenio menjadi salah satu produser sukses dan rumah produksinya berada di jajaran teratas. Sehingga ketenarannya sudah menyamai artis ternama.


"Mau pakai kursi roda?" tanya Nio pada istrinya setelah mengenakan masker dan kacamata.


"Mas meledek? Leherku loh yang luka, bukan kaki," kata wanita berambut panjang itu sewot.


"Bukan begitu, aku pikir kamu lemas untuk jalan," sahut Nio pasrah. Istrinya ini benar-benar sensitif.


"Nggak perlu, Mas. Aku bisa jalan. Ayo, kita pulang. Aku kangen Rasya." Dengan riang Zoya meraih tangan suaminya dan ia rangkul, membuat Nio terpaku di tempat. "Loh, kenapa?" tanya Zoya pada suaminya.


Nio menggeleng lalu mengajak sang istri keluar. Tanpa Zoya tahu, dibalik maskernya Nio tersenyum. Ini adalah kali pertama Zoya menggandeng lengannya tanpa paksaan. Jantung lelaki itu berdebar tak karuan. Ia sangat suka perubahan istrinya, tetapi kadang ia juga takut bahwa ini semua adalah ilusi. Namun, ia akan tetap berusaha menjadikan Zoya sebagai prioritas bagaimana pun sikap wanita itu.


Sampailah mereka di lobby. Tubuh Zoya tiba-tiba menegang dengan wajah terkejut dan reflek mundur.


"Ada apa, Zoya?" tanya Nio menatap istrinya yang aneh.


Air mata wanita itu menetes melihat mobil sedan hitam yang kini berhenti di depannya. Itu adalah mobil yang menghantarkan dirinya pada kematian. Bayangan-bayangan kejadian itu kembali berputar di kepalanya. Bagaimana Nio begitu marah dengan mencoba membawanya menuju kematian.


"Apa kamu bisa mengembalikan Rasya? Apa kamu bisa membuatnya hidup kembali? Aku akan memberimu kesempatan jika kamu bisa mengembalikan anak kesayanganku!"


Kata-kata penuh amarah Nio kembali berputar. Wajah sedih, marah, kecewa, patah hati suaminya kembali terngiang.


"Zoya, ada apa?" tanya Nio mendekat pada istrinya yang kini hanya diam mematung dengan tubuh gemetar.


"Singkirkan mobil itu!" sentak Zoya menunjuk mendaraan mewah tersebut.


Mendengar itu Nio terlihat bingung.


"Ada apa dengan mobil itu, Zoya? Itu mobil baru yang aku beli untukmu. Bukankah beberapa bulan lalu kamu memintanya?" tanya Nio menyentuh bahu istrinya.


"Aku bilang singkirkan mobil itu! Aku tidak mau melihatnya!" teriak Zoya dengan tangan gemetar.


"Tenang, Zoya," kata Nio yang mencoba menenangkan istrinya yang histeris dan menjadi pusat perhatian di lobby rumah sakit.


"Singkirkan mobil itu, Mas! Singkirkan!" cecar Zoya hingga tubuhnya ambruk.


Karena tak ingin menjadi bahan tontonan, akhirnya Nio membawa istrinya menuju ruangan milik sahabatnya yang adalah direktur rumah sakit tersebut.


"Loh, Nio. Ada apa?" tanya seorang laki-laki tampan dengan jas putih saat melihat seseorang masuk ruangannya.


"Sorry, Dan, gue numpang sebentar di ruangan lo, ya," ujar Nio mendudukkan istrinya yang masih gemetar.


"Ada apa sama Ratu lo itu?" sindir Zidane menatap tak suka wanita yang dibawa sahabatnya.


"Ck! Diamlah." Nio menatap tajam dokter sekaligus direktur itu.


Nio berjalan menuju kulkas di ruangan Zidane dan meraih air murni di sana.


"Minum dulu." Dengan lembut Nio membantu istrinya minum.


"Ck! Ambil minuman orang gak pakai permisi," sindir Zidane.


"Jangan bawel, Zindane. Aku akan ganti satu truk air minum ini!" omel Nio kesal.


"Sudah baikan?" tanya Nio lembut pada istrinya.


"Mas, buang mobil itu. Aku tidak mau melihatnya," lirih Zoya dengan rersedu-sedu. Ia sungguh trauma melihat mobil tersebut.


"Iya, iya. Sudah, tenang dulu. Kamu tidak akan melihat mobil itu lagi," ujar Nio memeluk istrinya yang masih menangis.


"Heh, apa-apaan ini?" tanya Zidane keheranan. Apa ia tidak salah lihat? Kenapa Zoya menjadi wanita manis begini? Belum lagi Nio yang sangat lembut bahkan memeluk istrinya. Apa Zidane halusinasi? Sejak kapan pasangan absurd itu begitu dekat.


"Ck! Kalian ini benar-benar membuat emosiku seperti naik hysteria. Sudahlah aku akan memeriksa rumah sakitku yang baru kalian bikin huru hara. Kalau sudah puas menggukanan ruanganku harap keluar," ujar Zidane berlalu meninggalkan sepasang suami-istri itu.


Nio dan Zoya sendiri tak mendengarkan perkataan dokter muda itu. Mereka masih fokus dengan perasaan masing-masing. Nio yang terus menenangkan Zoya, sedangkan Zoya berusaha melupakan bayangan-bayangan yang menimpa dirinya di masa depan.


"Kembali di rawat, ya. Sepertinya kamu belum membaik," ujar Nio masih memeluk istrinya.


Zoya hanya menggeleng menoka ide sang suami. "Aku mau pulang bertemu Rasya," lirih Zoya.


"Beneran gak apa-apa?" tanya lelaki berkemeja cokelat muda itu.


"Aku baik-baik saja jika mobil itu tak terlihat oleh mataku lagi."


"Iya, sudah dibawa pergi oleh Langit. Nanti dia bawa mobil lain. Sudah, jangan menangis lagi." Nio mengusap rambut istrinya yang begitu indah. Ia tersenyum merasakan sifat manja Zoya. Selama menikah, wanita muda itu tak pernah menunjukkan sisi menggemaskannya. Hanya ada kebencian juga tatapan penuh amarah yang selalu ia tunjukkan.


Perlahan Nio mulai percaya dengan perubahan Zoya. Beberapa hari mereka dekat, Nio merasa bahwa apa yang dilakukan Zoya itu tulus tak berniat buruk sedikit pun. Karena itu juga ia mulai melunak dan lembut dalam memperlakukan Zoya.


Tak lama seseorang mengetuk pintu. Nio pun melepas pelukannya dan berjalan membuka pintu. Terlihat Langit di sana.


"Mobil sudah saya ganti, Tuan," ujar lelaki berkacamata itu.


"Baiklah, kita pergi sekarang."


Langit pun menunduk hormat.


"Kita pulang, ya." Kembali Nio memasangkan masker juga kacamata untuk istrinya. Setelah itu mereka keluar menuju lobby.


Terlihat sebuah mobil Alphard putih menunggu mereka. Langit pun membukakan pintu mobil, lalu keduanya masuk. Tak lama mobil mewah itu berjalan dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah sakit.


Sepanjang jalan mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing. Zoya yang masih menenangkan diri, sedangkan Nio bertanya-tanya kenapa istrinya histeris melihat mobil sedan baru itu? Bukankah beberapa bulan lalu ia meminta mobil tersebut pada Nio bahkan sampai memaksa. Namun sekarang saat sudah dibelikan justru ia seperti orang ketakutan melihat mobil tersebut.


Tanpa mereka sadari, mobil sudah memasuki halaman rumah mewah milik mereka. Zoya tersenyum melihat sang anak yang menunggu di depan pintu.


"Cepat buka pintunya, Langit," ujar Zoya merasa tak sabar ingin menggendong anak tunggalnya.


Pintu mobil pun terbuka. Dengan antusias Zoya buru-buru keluar.


"Hati-hati, Zoya!" seru Nio khawatir.


"Mmaamaaaa!" Bayi menginjak usia satu tahun itu tampak gembira dengan merentangkan tangan seakan ingin digendong sang mama.


Zoya pun dengan rasa bahagia meraih tubuh gempal bocah itu, membawa dalam pelukannya. "I miss you, Sayang." Dengan gemas Zoya memeluk anak lelakinya.


Tawa bocah itu sungguh menggemaskan saat Zoya menciumi pipi juga lehernya.


"Anak Mama sayang, anak Mama sayang."


"Mama! Mama!" Bocah itu menepuk-nepuk pipi sang mama yang membuat Zoya tertawa.


Melihat keakraban Zoya dan Rasya, perasaan Nio menghangat. Matanya berkaca-kaca melihat momen yang selalu ia dambakan sejak lama. Setetes air mata terjatuh hingga buru-buru ia hapus. Setelah itu ia berjalan menghampiri mereka.


"Ayo, masuk." Nio merangkul bahu Zoya sampai wanita itu menoleh dan tersenyum mengangguk.


Melihat keakraban majikannya, Jessica tampak bahagia. Sejak awal pernikahan keduanya, ia menjadi saksi bagaimana keadaan rumah tangga mereka. Bahkan ia sering melihat tuannya patah hati dengan keberadaan lelaki yang selalu membuat sang nyonya semakin membenci tuannya. Karena itu, melihat keduanya akur, perasaan Jessica begitu bahagia.


Keluarga kecil itu kini tengah duduk di ruang keluarga. Zoya tampak asyik bermain dengan sang anak. Sedangkan Nio seperti biasa sibuk dengan ponselnya. Hingga tak lama, Jessica datang.


"Tuan ...."


Nio menoleh pada kepala pelayannya.


"Ada apa?" tanya Nio.


"Ada Nyonya Besar datang. Beliau menunggu di ruang tamu."


"Baik, saya akan—"


"Oh God! Lepaskan my baby boy!" teriak seseorang yang mengejutkan Zoya.


'Gawat, ibu tiri Cinderella datang!' ujar Zoya dalam hati.