
Zoya menatap puas sushi yang ia buat. Tiga kotak sudah siap untuk dibawa. Para chef juga Jessica memuji hasil kerja keras sang nyonya. Mereka sungguh suka dengan perubahan Zoya yang semakin memperhatikan Nio juga Rasya.
Kini mereka juga begitu menghormati nyonyanya yang berusaha menjadi lebih baik lagi. Karena itulah mereka juga selalu memberi semangat dengan apa yang dilakukan nyonya mudanya itu. Semua penghuni selalu berusaha membantu kesulitan Zoya dan selalu berharap hidup tuan dan nyonyanya akan bahagia selalu bersama anak mereka.
"Wah, Anda luar biasa, Nyonya. Semakin hari Anda semakin ahli dalam memasak. Saya jadi takut dipecat kalau gini caranya," kelakar Adrian pada sang nyonya.
"Kamu bisa saja. Saya belajar masak cuma karena gabut," kekeh Zoya yang melepas apronnya. "Tenang saja, tidak akan berkurang penghuni rumah ini. Kalian bukan hanya orang yang membantu saya dan Mas Nio. Kalian juga keluarga kami. Jadi, kalian akan tetap di sini kecuali memang kalian ingin keluar sendiri," ujarnya dengan tersenyum yang membuat para pekerjaan merasa terharu. mereka tak menyangka bahwa seorang Zoya Lavani yang terlihat sombong memiliki rasa empati yang luar biasa.
"Tolong susun ini semua dan taruh di tasnya. Saya mau siap-siap. Ayo, Sayang." Zoya membawa sang anak dalam gendongannya, lalu berjalan menuju kamar.
"Nyonya baik sekali, aku sampai tidak sangka kalau itu nyonya kita yang biasa marah-marah," sahut Adrian pada rekannya yang dijawab anggukan oleh yang lain.
"Pada dasarnya Nyonya Zoya memang orang yang baik. Hanya karena nasib yang buruk ia berubah. Aku sangat bersyukur kini beliau kembali seperti dulu. Saya cukup mengikutinya sejak mula beliau seorang artis dan memang Nyonya adalah wanita baik," ucap Jessica tersenyum menatap nyonyanya.
"Semoga Tuan, Nyonya juga Tuan Kecil bisa bahagia selalu. Saya selalu terharu saat melihat bagaimana Nyonya kini menyayangi Tuan Kecil," ujar Adrian kembali.
**
Zoya sampai di kantor suaminya. Para karyawan menunduk hormat pada istri pemilik rumah produksi film tersebut. Seperti biasa, akan ada Langit yang menjemput di depan lobby.
"Biar saya yang bawa, Nyonya," ujar Langit meraih kotak makan yang dibawa Zoya.
"Apa Mas Nio sibuk?" tanya wanita berhoodie cokelat itu.
"Tuan sedang ada tamu. Nona Aurora. Mereka tengah membahas tentang film baru," jawab Langit yang mempersilahkan sang nyonya masuk lift setelah benda kotak itu terbuka.
Zoya berdecak sebal mendengar bahwa wanita itu bersama suaminya. Namun, ia juga tak mungkin menunjukkan rasa tidak sukanya karena dia adalah artis yang harus bermain dalam film suaminya.
Sampai di lantai kantor Nio, mereka berjalan menuju ruangan sang suami. Setelah sampai di depan ruangannya, Langit mengetuk pintu, lalu membukanya dan mempersilahkan sang nyonya masuk.
"Ya ampun, anak remaja nyasar darimana ini? Apa benar wanita cantik ini ibu satu anak? Astaga, kamu manis sekali, Sayang." Nio tampak bahagia melihat istri dan anaknya yang telah sampai. Lelaki itu beranjak lalu menghampiri mereka dan mencium pipi istrinya.
"Mas ih." Zoya merona dengan pujian suaminya.
"Maaf aku tidak menjemputmu di lobby. Aku sedang meeting dengan Aurora." Lelaki tampan itu mengusap pipi istrinya, lalu mencium pipi sang anak. "Hey Jagoan, sini dengan Papa Nio." Ia mengangkat Rasya yang tertawa gembira.
"It's okey, Mas. Apa aku mengganggu?" tanya Zoya menatap Aurora yang duduk menatapnya.
"Of course not. Sepertinya aku yang mengganggu. Tapi tak apa, aku suka mengganggu kalian," ujar Aurora dengan santai. "Wah, kau bawa apa? Makan siang? Kebetulan aku lapar." Dengan tak ada rasa bersalahnya wanita cantik itu merebut kotak makan yang ditaruh oleh Langit di atas meja.
"Hey, kau tak sopan sekali," rutuk Zoya kesal.
"Hmmmm sushi." Aurora menepuk tangan melihat kotak makan itu.
"Itu untuk Langit kenapa kamu makan!" omel Zoya pada sahabat suaminya.
"Rora, kamu kebiasaan deh." Nio hanya bisa menggeleng.
"Maaf, Langit. Harusnya itu untukmu. Kalau tidak, kamu makan punyaku saja," ujar Zoya tak enak hati.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Sebelumnya saya berterima kasih. Kebetulan saya alergi ikan tuna dan salmon juga beberapa ikan lain," jawab Langit menunduk hormat. "Anda tak perlu khawatir, saya akan makan di luar."
"Ah, begitu. Memang rezekynya dia saja berarti," kata Zoya pasrah.
Setelah Langit pergi, Zoya dan Nio pun duduk. Lelaki itu berada di tengah antara dua wanita cantik dengan menggendong Rasya.
"Mas makan dulu, ya." Dengan hati riang Zoya menyiapkan segalanya. Kebetulan tak lama Langit pergi seorang office boy datang membawa alat makan. Zoya menuangkan kecap asin ke mangkuk kecil, lalu menaruh wasabi juga potongan jahe.
"Gimana rasanya?" tanya Nio pada sang sahabat.
"Not bad," jawab Aurora. "Tumben sekali chef-mu masak tidak terlalu enak."
"Itu aku yang buat," sahut Zoya.
"Kamu yang buat? Pantas saja rasanya aneh," ujar artis ternama itu dengan melahap kembali potongan sushinya.
"Gak enak masih saja dimakan," gerutu Zoya sebal.
"Zoya, kenapa kamu melanggar aturanku hhmm? Sudah aku bilang kamu jangan ke dapur lagi," ujar Nio meraih tangan istrinya. "Tidak terluka lagi, 'kan?" tanyanya dengan memeriksa tangan halus itu.
"Ck! Berlebihan sekali," cibir Aurora.
Zoya hanya memutar bola matanya malas mendengar cibiran wanita di samping kiri suaminya.
"Gak apa-apa, Mas. Orang cuma nyiapin aja. Kan gak pakai panggangan lagi. Sekarang Mas cobain. I have try my best untuk membuatnya." Zoya menyerahkan sumpit yang diterima oleh suaminya.
Nio pun melahap sushi salmon itu dengan sekali suap.
"Hhmmmm enak," puji Nio tersenyum.
"Bohong! Orang hambar kok. Apa kamu tidak mencampur seasoning?" tanya Aurora mengejek.
"Tidak enak tapi kotak makanmu habis," ujar Zoya kesal.
"Ini karena aku lapar saja. Jika tidak juga aku malas memakannya," jawab Aurora menyebalkan.
"Rora, jangan bicara seperti itu. Sushi buatan istriku memang enak," bela Nio. "Ini enak, Cheriè. Aku sangat suka. Terima kasih atas kerja kerasmu." Lelaki tampan itu mengusap kepala istrinya.
"Ish, mual sekali aku melihat kalian berdua. Lebih baik aku pergi saja." Aurora beranjak meraih tas mewah miliknya. "Besok aku datang lagi untuk memberikan koreksi naskahnya. By the way, terima kasih sushinya. Meski rasanya tidak enak," cibir wanita itu lagi. "Bye anak tampan. Ingatlah, jangan seperti ibumu yang menyebalkan."
"Hey!" seru Zoya dengan kesal.
"Hahahaha bye." Aurora pun pergi dari ruangan sahabatnya itu.
"Kenapa dia menyebalkan sekali, sih!" gerutu Zoya dengan kesal yang justru membuat Nio terkekeh geli.
"Sudah, jangan marah-marah begitu. Lebih baik kamu coba sushinya. Ini enak. Sini, aku suapi." Nio menggigit satu potong sushi, lalu meraih leher istrinya dan memberikan potongan itu langsung dari mulut ke mulut.
"Mas! Nyebeli banget!" omel Zoya dengan mengunyah sushi yang disuapi oleh bibir suaminya.