
Nio menatap jam di tangannya. Sudah pukul dua siang tetapi istrinya tak kunjung datang. Berulang kali juga ia menghubungi tetapi tak ada jawaban. Nio mulai gelisah, tak biasanya sang istri seperti ini. Di mana pun Zoya, dia selalu membalas pesan atau panggilan dari suaminya.
Sudah lebih dari tujuh jam Zoya tak ada kabar. Nio mulai diserang panik saat menghubungi Jessica dan mendapat kabar bahwa istrinya belum pulang. Ia tak bisa diam lagi. Ia harus mencari sang istri yang tiba-tiba hilang. Belum lagi Rasya yang terus menangis mencari mamanya.
Langit yang tahu atasannya gelisah pun mengarahkan semua pengawal yang ada untuk mencari sang nyonya. Ada dua puluh dan mereka berpencar ke apartemen dan di mall yang Zoya sebutkan. Nio masih terlihat khawatir dengan keadaan sang istri. Ia takut terjadi sesuatu pada wanita kesayangannya.
"Cheriè, kamu di mana? Jangan buat aku khawatir." Lelaki tampan itu terus menghubungi sang istri tetapi ponselnya sudah mati.
Hati pemilik rumah produksi film itu dilanda cemas dan takut. Apa yang terjadi pada Zoya?
"Tuhan, jaga dia untukku." Nio menutup mata mengadahkan kepalanya ke atas.
Hingga tak lama pintu ruangannya diketuk.
"Tuan ...."
Nio berdiri saat melihat Langit datang dengan tergesa.
"Apa kamu mendapat kabar?" tanya Nio menatap Langit penuh harapan.
"Nyonya memang ke apartemen saat itu. Tapi, di sana ada masalah yang cukup serius," ujar Langit dengan wajah cemas.
"Ada apa, Langit! Katakan cepat!" sentak Nio menatap tajam asistennya.
"Tuan bisa melihat CCTV yang dikirimkan pengawal dari pengawas apartemen Nyonya." Langit memberikan tabletnya yang langsung diambil Nio. Ia putar rekaman video dengan seksama.
Tubuh Nio menegang saat melihat seorang laki-laki menggendong tubuh Zoya yang tak sadarkan diri. Lelaki itu seperti mengendap-endap hingga emosinya memuncak ketika tahu siapa yang membawa Zoya.
"Jordan! Berani sekali kau menculik istriku!" geram Nio yang mencengkram tablet di tangannya.
"Apa informasi lainnya? katakan!" sentak Nio.
"Mereka menggunakan mobil milik Nyonya. Setelah ditelusuri dari GPS mobilnya, mereka menuju ke arah Jawa," sahut Langit dengan wajah cemas.
"Apa?" tanya Nio terkejut. "Apa kau sudah menemukan lokasi mereka sekarang?" tanyanya lagi dengan perasaan yang makin kacau.
"Lokasi tiba-tiba berhenti di salah satu rest area, Tuan. Dan itu tak bergerak lagi," jawab Langit takut-takut melihat reaksi Nio. Lelaki itu tak.pernah melihat atasannya sebegitu murkanya seperti sekarang.
Nio menatap tajam sang asisten. "Bagaimana dari GPS ponselnya?" tanyanya lagi.
"Sama, Tuan. Sepertinya Jordan mengganti mobil mereka dan membuang semua hal yang bisa dilacak," jawab Langit yang membuat emosi Nio naik.
Dengan penuh amarah, Nio menarik kerah asistennya. "Saya tidak mau tahu! Cari istri saya sampai ketemu! Habisi sekali lelaki itu! Ingat, Langit. Temukan istriku bagaimana pun caranya, bahkan kau bisa mengobrak-abrik seluruh negeri!" seru Nio dengan tatapan tajamnya.
"Ba-baik, Tuan." Langit pun hanya bisa mematuhi atasannya yang dilanda kekacauan itu.
Nio melepas cengkramannya di kerah Lagit saat tersadar bahwa ia meluapkan emosi ke salah orang. "Maaf, Langit. Saya benar-benar panik," ujarnya mengusap wajah dengan gusar. "Saya takut terjadi hal buruk pada istri saya. Kamu tahu sendiri bahwa kami baru saja berbaikan dan memulai hidup baru," katanya lagi dengan lirih.
Nio pun hanya mengangguk. "Saya percayakan padamu!" Ia menepuk bahu asisten yang sudah ia anggap kakak itu.
"Tentu, Tuan. Kalau begitu, saya permisi." Langit menunduk hormat, lalu pergi dari ruangan sang tuan.
Setelah kepergian asistennya, Nio terduduk di lantai. Perasaannya sungguh kacau melihat istrinya dibawa laki-laki lain dalam keadaan tak sadarkan diri. "Cheriè, di mana kamu?"
**
Sedangkan di tempat lain, Zoya menatap tajam lelaki yang kini duduk di sampingnya. Ia sungguh emosi karena lelaki itu menculiknya bahkan kini tangan juga kakinya diikat dan mulutnya ditutup.
Satu jam pingsan, Zoya pun sadar. Saat tahu dia dibawa pergi oleh Jordan, Zoya mengamuk bahkan hampir saja mereka kecelakaan sebab Zoya berusaha memutar stir hingga membuat mobilnya oleng. Melihat wanitanya mengamuk, akhirnya Jordan berhenti lalu mengikat tangan juga kaki Zoya. Lalu ia meminta Romi mengantarkan mobil biasa yang tak mungkin dilacak oleh Nio.
"Gila kamu, Dan! Kalau Nio ngamuk gimana? Jangan macam-macam. Dia istri orang, apalagi dia istrinya Arsenio. Kamu tahu sendiri kan, lelaki itu kelihatannya saja baik dan lemah. Tapi jika miliknya diusik dia tidak akan diam saja, apalagi Zoya yang kamu culik!" omel Romi pada artisnya. Ia tak menyangka bahwa penyanyi itu akan melakukan hal nekad.
"Aku tidak peduli! Yang penting aku bisa bersama Zoya. Cepat sini kuncinya. Dan ingat, bawa mobil serta barang-barang milik Zoya. Tinggalkan di jalan menuju Jawa," sahut Jordan meraih kunci mobil yang dibawa Romi.
"Kamu mau bawa ke mana istri orang, Jordan!" sentak Romi.
"Aku akan membawanya ke tempat di mana orang lain tak akan menemukannya," ujar lelaki itu dengan santainya. "Jaga dirimu. Jika lelaki sialan itu mendatangimu, kamu tahu harus berkata apa." Ia menepuk bahu sang manager, lalu berjalan masuk menuju mobil yang dibawa oleh Romi. Tak lama mobil sedan keluaran lama itu melaju menuju area pelabuhan.
Jordan cukup pintar membawa kabur Zoya. Ia tak menggunakan transportasi umum yang harus menggunakan identitas diri, meski tujuannya cukup jauh. Zoya sendiri terus berusaha untuk berteriak tetapi mulutnya ditutup oleh kain tebal. Karena lelah, akhirnya wanita itu diam yang membuat Jordan tersenyum dengan mengusap kepala wanitanya.
"Begini kan enak. Untuk apa memberontak? Lagipula aku tidak ingin menyakitimu, Sayang, tapi kamu justru ingin kita mati. Aku tidak ingin mati dulu," ujar Jordan masih mengusap kepala Zoya, meskipun wanita itu terus menghindar.
Jantung Zoya berdebar hebat saat melihat sebuah pelabuhan di depan matanya. Ke mana lelaki itu akan membawanya? Tidak! Ia tidak boleh pergi jauh. Bagaimana keadaan Nio apalagi Rasya tanpa dirinya?
Air mata wanita itu berlinang mengingat suami dan anaknya. Apakah Nio tahu bahwa ia diculik? Lalu, bagaimana keadaan Rasya? Hatinya terlalu sakit mengingat pasti dua lelaki yang dicintainya kini tengah khawatir padanya.
Tuhan, aku mohon jangan pisahkan aku dengan mereka. Zoya menutup mata dan melihat bayangan dua lelaki beda generasi itu.
Mobil memasuki kapal feri. Zoya semakin panik dan berharap bisa keluar dari sana. Jika kapal melaju, akan sulit ia kembali. Namun, harapannya sia-sia saat mobil milik Jason pun terparkir aman di kapal. Lelaki itu melihat Zoya yang mencoba melepaskan talinya. Zoya tengah berpikir apa yang harus ia lakukan.
"Sayang, jangan berontak. Tanganmu pasti akan terluka," ujar Jordan merasa khawatir.
Melihat Mata khawatir lelaki itu, Zoya memiliki ide. Jangan sebut aku artis penerima penghargaan jika tak bisa menaklukan lelaki sialan ini! batinnya.
______
Zoya mau dibawa ke mana, ya? Terus apa rencana Zoya untuk kabur dari Jordan?
Akankah Nio menemukan keberadaan Zoya?
Ini kenapa yang like jadi dikit, ya? Apa bab-bab terakhir tidak seru? huhuhuhu sedih deh Author 🤧