
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit, sampailah mereka di gedung Nio's Entertainment. Zoya menatap suaminya yang hanya tersenyum dan berkata bahwa kejutannya ada di sana. Setelah limousine itu berhenti, pintu mobil terbuka. Nio keluar terlebih dahulu, lalu menarik tangan Zoya dengan lembut supaya keluar.
Setelah itu, Nio membawa istrinya masuk ke gedung pencakar langit tersebut. Para karyawan dengan beberapa artis yang berlalu lalang tampak menunduk hormat pada sepasang suami-istri itu. Sampai di lift, Nio menekan tombol di lantai di mana ruangannya berada.
Nio menuntun Zoya dengan pelan setelah sampai di lantai dua puluh lima. Meski sudah jauh lebih baik, Zoya masih belum bisa berjalan lancar dan masih menggunakan tongkat. Walaupun begitu, ia bahagia sebab kini banyak orang yang menyayanginya.
Sang pemilik gedung itu menghentikan langkah ketika mereka sampai di salah satu pintu yang Zoya tak pernah masuki sebelumnya. Wanita itu agak sedikit heran sebab di pintu itu tertulis nama dirinya.
"Ini ruangan apa, Mas? Kenapa ada namaku di sana?" tanya Zoya bingung. "Apa Mas nyuruh aku kerja di sini?" tanyanya lagi.
"Kalau aku bilang iya, bagaimana? Kamu mau kerja di sini?" tanya Nio balik.
"Mau kerja apa aku? Aku gak punya pengalaman bekerja kantoran. Tahu sendiri passionku hanya akting dan menyanyi," sahut Zoya.
Nio melangkah mundur, lalu memeluk Zoya dari belakang. Ia kecup bahu wanita itu dengan sangat lembut.
"Sejak beberapa hari ini aku benar-benar gelisah tak bisa melihatmu jika berada di kantor. Hingga tiba-tiba aku terpikirkan sesuatu," sahut Nio berbisik di telinga istrinya.
Nio sendiri menyuruh Langit untuk memberi peringatan agar tak ada seorang pun yang datang ke lantai tersebut, sebab ia ingin memberikan kejutannitu secara langsung pada sang istri tanpa diganggu siapa pun. Dan seperti biasa, Langit akan patuh akan perintah sang tuan. Ia sangat paham bahwa seorang Arsenio Bagaskara sangat menjaga privasinya apalagi jika tengah berduaan dengan sang istri.
Lelaki itu tak pernah menunjukkan kemesraan berlebihan di depan umum. Ia akan memperlakukan Zoya sewajarnya. Jika ia benar-benar ingin bermesraan, ia pasti akan mencari tempat dan waktu yang tepat.
"Apa itu?" tanya Zoya penasaran dengan pemikiran suaminya.
Nio semakin menempelkan tubuhnya dengan Zoya, lalu tangannya meraih jempol milik istrinya. Ia arahkan ibu jari itu pada alat sidik jari, hingga pintu terbuka. Betapa terkejutnya Zoya melihat pemandangan di depannya.
"M-Mas, apa ini?" tanya Zoya terkejut.
"Cheriè, kamu tahu betul aku ini pencemburu. Mengizinkanmu kembali ke dunia akting sangat mustahil aku berikan padamu. Tapi, aku juga tahu bahwa dunia hiburan adalah duniamu yang sangat kamu cintai. Jadi, aku memberikan ini untukmu. Aku mengizinkanmu untuk menjadi seorang penyanyi.
So, kamu bisa gunakan ruang rekaman ini untuk memulai debutmu kembali sebagai seorang penyanyi. Dan, aku ... Arsenio Bagaskara ingin sekali bekerjasama dengan Zoya Maharani Lavani untuk menjadi penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu soundtrack di film juga series yang dibuat di Nio's Entertainment. Apakah Zoya mau menerima?" tanya Nio yang masih memeluk istrinya dari belakang
"Hah?" Hanya itu yang keluar dari bibir Zoya.
Nio tersenyum mendengar jawaban istrinya. Ia tahu bahwa Zoya terkejut dengan apa yang dia berikan.
"Let's go inside." Nio mengajak istrinya untuk masuk ruang rekaman itu. Zoya sendiri masih bungkam melihat bagaimana luar biasanya ruangan tersebut. Nio menyiapkannya benar-benar sangat matang bahkan semua perlatan di sana disiapkan dengan kwalitas terbaik.
"Mas, Mas gak main-main kan tentang ini?" tanya Zoya akhirnya setelah mereka melihat semua sudut ruangan berukuran seratus meter tersebut.
"Kamu pikir aku membuat ini untuk pajangan? Bahkan di depan pintu ada namamu, Sayang. Apa kamu masih tak percaya?" tanya Nio menatap istrinya dengan serius.
Zoya menghela napas berat. "Tapi, orang-orang masih membenciku, Mas. Aku takut," lirihnya.
"Hey, apa pun itu kita harus mencobanya. Lakukanlah ini untuk kesenanganmu, bukan untuk menyenangkan orang lain. Aku memberikan ini hanya karena aku tak ingin kamu benar-benar berhenti di dunia di mana kamu tumbuh dengan baik. Tanpa kamu sadari, banyak penggemar yang merindukanmu memberikan karya, termasuk aku, Zoya. Aku sangat merindukan suara indahmu. Aku ingin sekali mendengarnya lagi," sahut Nio dengan tatapan seriusnya.
"Jika orang-orang tak menginginkan mendengar suaramu yang indah itu, cukup lakukan untuk penggemarmu yang satu ini. Masa kamu menolak permintaan fans beratmu ini," bujuk Nio dengan mengusap bahu istrinya.
Zoya tersenyum menatap sang suami. Ia lepaskan lengan lelaki itu di bahunya. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya mendekat pada piano putih yang terpanjang di tengah ruangan. Zoya duduk di kursi, lalu membuka penutup piano. Sedangkan Nio berdiri bersandar di piano dengan senyuman yang lebar.
Nio menutup mata ketika tangan lentik itu kembali menyentuh tuts piano dan suara Indah milik Zoya kembali terdengar di telinga lelaki itu.
The day we met,
Frozen I held my breath
Right from the start
I knew that I'd found a home for my heart
Beats fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you.
For a thousand years
I'll love you for a thousand more ....
Zoya tersenyum menatap suaminya. Nio pun ikut duduk di samping sang istri, hingga tiba-tiba tangannya ikut menekan tuts piano.
Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What's standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer ....
Zoya dan Nio tersenyum saling tatap, lalu bernyanyi bersama.
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
I'll love you for a thousand more
Keduanya berhenti memainkan piano dengan saling menatap satu sama lain. Tubuh keduanya pun semakin mendekat hingga tak ada jarak ketika bibir keduanya menyatu. Mereka saling menyalurkan perasaan dengan ciuman lembut tersebut.
Dahi keduanya menyatu dengan napas terengah setelah ciuman mereka lepaskan.
"Apakah aku pernah bilang bahwa aku ... mencintaimu."
Nio menutup mata ketika mendengar ungkapan cinta yang begitu tulus dari istrinya.
"Aku bahkan telah mencintaimu selama seribu tahun ini, Zoya," jawab Nio dengan senyuman penuh arti.
Bonus visual. Kali aja kangen Liat keluarga kecil ini