
Zoya terus memberi isyarat pada Jordan untuk minta dilepaskan. Tetapi Jordan terus menolak. Hingga Zoya menunjukkan tatapan yang selalu membuat Jordan luluh. Lelaki itu memang selalu kalah jika Zoya sudah memberi tatapan memohonnya.
"Oke, aku akan membuka mulut dan ikatanmu, tapi jangan melawan lagi. Kamu tahu kan aku tidak suka dibantah," ujar Jordan yang diangguk Zoya.
Akhirnya lelaki itu membuka penutup mulut sang wanita. "Aku mau pipis," ujar Zoya langsung setelah lakban di mulutnya dilepaskan.
"Jangan berbohong, Zoya. Kamu tidak akan bisa kabur, kita sudah berada di lautan," sahut Jordan menatap sang wanita dengan kepala bersandar di satu lengannya.
"Siapa yang bohong, sih," omen Zoya dengan wajah dibuat menggemaskan. "Aku daritadi mau pipis kamunya gak pengertian bange!"
"Ah, kamu manis sekali kalau sedang merajuk." Jordan mencubit gemas pipi wanita itu. "Ya sudah, ayo kita turun dan ke toilet. Tapi janji jangan macam-macam." Kembali Jordan mengingatkan.
"Iya, bawel."
Jordan semakin gemas mendengar ocehan wanita itu. Zoya-nya kembali. Ia sungguh bahagia. Akhirnya ia lepaskan ikatan tali di tangan dan kakinya, setelah itu ia bukakan pintu mobil untuk kekasihnya. Ia genggam tangan wanita itu dengan senyuman yang merekah, mengantar Zoya ke toilet, lalu menunggu di luar.
Zoya modar mandir dengan kepala yang terus berpikir. Apa yang harus ia lakukan? Kapal sudah berlayar hampir satu jam. Pasti ia sudah jauh dari kota. Tak ada alat komunikasi untuk menghubungi suaminya. Bagaimana ia kabur sekarang? Apalagi Jordan terus menempel. Zoya sangat gelisah. Ia terus memegang kalung yang baru dibelikan Nio beberapa hari. Kebiasaan wanita itu saat panik past apa saja disentuh.
Hingga tiba-tiba Zoya teringat sesuatu.
"Cheriè, dalam kalung ini ada sebuah chip. Jika kamu mengusapnya, chip itu akan bekerja dan terhubung padaku," ujar Nio saat memberikan kalung tersebut pada Zoya.
"Kenapa ada chipnya?" tanya Zoya saat itu sebab ia merasa aneh saja pada sang suami.
"Aku takut kamu kabur dariku, jadi aku taruh chip ini di kalungnya," kekeh Nio yang memasangkannya.
"Lalu kenapa kau memberitahuku? Kan bisa saja aku melepas kalung ini," sungut Zoya yang membuat Nio tergelak.
"Mungkin saja suatu hari kamu hilang, aku bisa melacaknya. Bukan cuma kamu saja, di gelang giok Rasya juga ada chip. Bendanya kalau punya Rasya aktif terus tapi jika milikmu ini harus disentuh," kata Nio menjelaskan pada istrinya.
"Hhhmmmm manis sekali. kalau pun aku hilang, aku hanya hilang di hati dan pikiranmu, Mas."
"Uhhhh, manis sekali istriku."
"Ah, iya! Dalam gantungan kalung ini ada chipnya. Tuhan, semoga saja ini bekerja." Zoya pun mengusap bagian belakang gantungan tersebut. Ia berharap Nio tak bohong mengenai chip itu dan semoga suaminya bisa menemukan dirinya.
Setelah dirasa sudah tenang, Zoya pun keluar dan pura-pura tersenyum pada Jordan saat melihat lelaki itu melambaikan tangannya.
"Kenapa lama sekali?" tanya Jordan menggenggam tangan wanitanya. Sungguh, ia ingin sekali menghajar lelaki sialan itu. Tapi, ia tak bisa gegabah apalagi saat ia melihat Jordan membawa senjata tajam. Ia tak mau mengambil resiko untuk melawan apalagi kini mereka sedang di lautan.
"Aku sedikit sakit perut," sahut Zoya. Andai bukan di kapal, sudah ingin ia hajar rasanya lelaki itu. Sabar, Zoya, batinnya.
"Apa kamu sakit?" tanya Jordan panik dan khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Tapi ... aku lapar. Aku hanya makan saat sarapan saja," ujar Zoya. Ia memang benar-benar lapar setelah tenaganya dikuras atas kejadian yang menimpanya.
Akhirnya Jordan mengajak Zoya menuju restoran yang berada di kapal. Dibiarkannya Zoya duduk dan ia pergi memesan. Wanita cantik itu menatap sekeliling kapal. Ia tak pernah sekalipun menaiki kapal feri dan itu cukup menyenangkan. Untung saja Jordan memberinya kacamata dan topi hingga orang-orang tak mengenali dirinya.
Tak lama lelaki itu datang dengan pelayan di belakang mereka. Pelayan itu menaruh makanan dan minuman di depan Zoya. Jordan memesan spaghetti alfredo juga jus buah campuran kesukaan kekasih hatinya. Ibu satu anak itu pun melahap makanannya dengan tenang.
**
Sejak kepergian sang istri, Nio terus mencari keberadaannya. Ia bahkan datang ke rest area di mana mobil Zoya ditinggalkan. Ia raih barang-barang istrinya yang tersimpan di sana. Tas, ponsel dan lainnya. Hanya kartu identitas yang tak ada. Hati lelaki itu begitu nyeri menatap ponsel dengan wallpaper dirinya juga sang istri saat di pantai. Ia peluk ponsel tersebut.
"Di mana kamu, Cheriè? Apa kamu baik-baik saja? aku sangat merindukanmu."
Tak lama, ponsel Nio bergetar. Bukan chat atau telepon, itu adalah getar khusus yang membuat lelaki itu buru-buru meraih ponselnya di saku.
"Langit!" teriak Nio dengan tangan gemetar. Akhirnya ia mendapat petunjuk di mana istrinya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Langit mendekat.
"Lihat, Zoya mengusap kalungnya dan notifikasi ini datang." Nio menyodorkan ponselnya dengan layar yang terlihat menunjukkan GPS. Ada satu titik merah yang terlihat di sana.
Langit pun meraih ponsel tersebut atas izin sang tuan. Ia lihat dengan seksama.
"Ini di tengah laut, Tuan," sahut Langit.
"Pesan helikopter sekarang! Kita harus menyusulnya. Aku tidak peduli bagaimana pun caranya, kita harus menemukan Zoya!" sentak Nio.
"Baik, Tuan. Tapi, alangkah baiknya kita ke dermaga dulu untuk menanyakan kapal mana yang membawa Nyonya," saran Langit.
Akhirnya mereka pun berlalu menuju pelabuhan. Nio terus berdoa dan berharap bisa menemukan istrinya. Ia tak bisa membayangkan jika hidup tanpa Zoya. Ia tak bisa, apalagi anaknya kini begitu dekat dengan sang mama. Sejak hilangnya Zoya, Rasya pun tiba-tiba selalu rewel. Bocah menjalang satu tahun itu seakan merasakan ibunya tengah berada dalam bahaya. Nio pun berjanji pada buah hatinya akan membawa sang mama segera.
Butuh waktu yang cukup lama untuk Nio sampai di pelabuhan sebab jarak mereka yang berlawanan membuat lelaki itu sampai setelah empat jam perjalanan.
Nio turun dari mobil bersama Langit dan beberapa pengawal. Mereka terlihat bingung saat melihat banyaknya lautan manusia yang berada di sana. Tak biasanya dermaga tampak ramai, apalagi ini bukan puncak liburan.
Melupakan itu semua, Nio dan yang lain bergegas ke area informasi. Sampai di sana, kembali Nio merasa heran. Banyak sekali orang yang menangis. Ia terus berjalan dan sampai di meja informasi. Langit yang bertanya pada petugas. Sedangkan Nio menunggu dengan masih terheran-heran apa yang terjadi. Hingga Langit menghampirinya dengan wajah pucat pasi.
"Bagaimana?" tanya Nio pada asistennya.
Langit terlihat ingin membuka mulut tapi ia seperti ragu.
"Katakan, Langit!" sentak Nio.
"Ka-kapal yang ditumpangi Nyonya tenggelam, Tuan."